Kota Batu — Kelompok seniman Simpullapan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Setengah Rindu” yang akan berlangsung pada 7–17 Februari 2026 di Galeri Raos, Kota Batu. Pameran ini menjadi ruang perjumpaan delapan seniman dengan latar dan karakter berbeda yang disatukan oleh satu tema besar: kerinduan.
Pameran “Setengah Rindu” berangkat dari pertemuan awal para seniman di Omah Sawah yang kemudian berkembang menjadi proses pengumpulan gagasan dan rasa. Tanpa kesulitan berarti, para seniman menemukan benang merah berupa kerinduan—tentang rasa, harapan, keadaan, keinginan, angan, hingga cita-cita—yang selama ini kerap terpendam dan tak selalu terucap.
Tajuk “Setengah Rindu” dipilih untuk merepresentasikan kondisi batin manusia, khususnya seniman, yang kerap menyimpan sesuatu di dalam diri. Melalui karya visual, para seniman mengekspresikan setengah kerinduan tersebut, sementara setengah lainnya dihadirkan melalui perjumpaan langsung antara karya, seniman, dan publik di ruang pamer.
Delapan seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah Fadjar Djunaedi, Dwi Christanto, Ahmad Saihu, Jumali Kerto, Nadia Vina Maharani, Faal Jagra (Rudy Hartono), Pensil Bundu (Eko Alif Vernanda), dan Niko Arya Surya Nagra. Masing-masing menghadirkan karakter visual yang unik dengan tema kerinduan yang berbeda-beda.
Fadjar Djunaedi mengekspresikan kerinduan pada sosok ibu melalui karakter visual yang unik dengan kecenderungan warna nada tunggal. Ahmad Saihu menggali ritus budaya dan agama dengan warna-warna yang tenang dan dalam, menyoroti relasi manusia dengan Tuhan, alam, dan sesamanya. Dwi Christanto menghadirkan warna-warna meriah, goresan ekspresif, serta elemen tipografi graffiti untuk mengangkat kembali semangat tokoh-tokoh dunia yang mulai tergerus distraksi zaman.
Sementara itu, Jumali Kerto mengangkat kerinduan masa kecil melalui gaya realis dengan latar polos, menggambarkan aktivitas anak-anak di luar rumah yang kini mulai tergantikan oleh gawai. Nadia Vina Maharani memadukan unsur anime dan tradisi lokal dengan warna primer dan sekunder, menghadirkan pendekatan baru agar generasi muda lebih dekat dengan budaya, seperti Topeng Malang. Pensil Bundu mempersonifikasikan hewan sebagai representasi sifat manusia melalui media berkontur bebas dan warna-warna meriah. Faal Jagra menampilkan visual yang dinamis dan “cerewet”, dipengaruhi oleh latar musik dan syair. Adapun Niko Arya Surya Nagra mengekspresikan kebebasan dan kejenuhan rutinitas melalui coretan dan warna bernuansa kanak-kanak.
Pameran ini tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan perbedaan visual para seniman, melainkan merayakannya dalam satu ruang. Perjumpaan karya-karya yang berseberangan justru diharapkan dapat menghaluskan rasa, memperkaya pengalaman estetik, serta menghadirkan kerinduan baru—baik bagi seniman dalam proses berkarya maupun bagi publik dalam mengapresiasi seni rupa.
Melalui pameran “Setengah Rindu”, Simpullapan turut meramaikan dan memperkuat denyut seni rupa di Kota Batu dengan menghadirkan karya-karya yang jujur, personal, dan reflektif.
Sumber: Niko Arya Surya Nagra (Simpullan)

