Setiap kali kalender memasuki bulan Juni atau Oktober, ruang disekitar kita mendadak riuh oleh gema Pancasila. Spanduk-spanduk mulai dibentangkan, upacara bendera digelar dengan khidmat, dan ucapan selamat bertema Ketangguhan ideologi ataupun imunitas ideologi memenuhi linimasa media sosial. Namun, di balik serangkaian dan rutinitas tahunan tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang terus mengusik benak saya sebagai seorang guru Pendidikan Pancasila yang setiap hari berdiri di depan kelas. Di tengah serbuan budaya pop global, tren viral yang berganti setiap detik, serta gaya hidup serba instan, rasanya wajar jika timbul kekhawatiran: apakah nilai-nilai luhur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini masih meresap dalam jiwa mereka? Atau jangan-jangan, Pancasila hanyalah sekadar lima bait kalimat hafalan yang wajib diucapkan saat upacara hari Senin, lalu dilupakan begitu saja ketika bel pulang sekolah berbunyi… masih adakah Pancasila di dalam hati kita?