Menikmati Alur Panggung “Drama”
Ya, saya sedang berada pada panggung kehidupan, tempat para pemainnya pun sebenarnya sama-sama bingung menyelesaikan naskah yang mereka tulis sendiri.
Ya, saya sedang berada pada panggung kehidupan, tempat para pemainnya pun sebenarnya sama-sama bingung menyelesaikan naskah yang mereka tulis sendiri.
Rasa-rasanya sulit kita berbicara tentang etika, jika pemimpin tertinggi sendiri berkali-kali menunjukkan gaya komunikasi yang jauh dari standar kesantunan. Kita tentu masih ingat ungkapan “ndasmu etik” yang pernah dilontarkan presiden. Kemudian komentar seperti “tampang boyolali” yang dulu sempat memicu polemik, atau ekspresi wajah “mencucu” yang mencibir dan mengejek orang-orang yang suka melakukan Focus Group Discussion (FGD).
Karena itu sudah seharusnya kritik itu diperlakukan sebagai suplemen, bukan racun.
Maret bukan sekadar bulan bagi kami. Ia adalah rumah bagi memori dan masa depan yang berjalan berdampingan.
Beberapa pekan terakhir terasa seperti melewati jalan terjal yang tidak ada ujungnya. Jadwal yang biasanya bisa diatur dengan ritme tertentu mendadak menjadi amburadul, berantakan, dan saling bertabrakan.
Sebagai media belajar, Setitik.id tentu tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin menulis. Setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi disambut dengan keterbukaan dan apresiasi. Syaratnya hanya satu: tulisan itu harus orisinal dan bisa dibaca dengan baik. Namun, bukan berarti semua tulisan bisa langsung diterbitkan. Tulisan yang strukturnya masih kacau, susunan kalimatnya belum runtut, atau gagasannya belum jelas akan dikembalikan kepada penulis untuk diperbaiki. Dari sinilah Setitik.id ingin menegaskan bahwa menulis bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang sistematika berpikir yang jernih.
Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, tetapi rasa malas itu datang begitu saja, tanpa permisi. Seolah semua hal di sekitar saya tidak penting, tidak mendesak untuk diselesaikan. Pertanyaan seperti “untuk apa semua ini?” atau “apa gunanya saya melakukan hal-hal ini?” tiba-tiba sering muncul di kepala tanpa menemukan jawaban.
Lahir Wage — dalam budaya Jawa sering dikaitkan dengan sifat penuh angan, banyak cita-cita, dan kadang sulit fokus pada satu hal. Entah benar atau tidak, tapi saya merasa begitu adanya
Sekolah kaki langit bukanlah tentang awan, kabut, atau pemandangan indah di luar jendela gedung sekolah. Ia adalah tentang cerita yang dirajut bersama. Sebuah “karya” yang kelak ketika dewasa, akan dibuka kembali. Ada bagian yang membuat jengkel, tertawa, tersipu malu sendiri, bahkan mungkin ada yang membuat air mata menetes tanpa sadar. Namun semuanya akan indah untuk dikenang, karena di sanalah kita pernah belajar, bukan hanya sekadar tentang pengetahuan, akan tetapi juga tentang kehidupan. Ya Kehidupan..
Ya, dua kali saya sudah menapaki dunia kuliah pascasarjana dan dua kali pula saya gagal di ujung jalan. Bukan karena malas, bukan pula karena tidak mampu menulis tesis, tetapi karena ujian hidup yang datang bertubi-tubi. Pada kuliah magister pertama, saya justru berada dalam masa paling berat dalam hidup.