Masih Adakah Pancasila di Hati

Setiap kali kalender memasuki bulan Juni atau Oktober, ruang disekitar kita mendadak riuh oleh gema Pancasila. Spanduk-spanduk mulai dibentangkan, upacara bendera digelar dengan khidmat, dan ucapan selamat bertema Ketangguhan ideologi ataupun imunitas ideologi memenuhi linimasa media sosial. Namun, di balik serangkaian dan rutinitas tahunan tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang terus mengusik benak saya sebagai seorang guru Pendidikan Pancasila yang setiap hari berdiri di depan kelas. Di tengah serbuan budaya pop global, tren viral yang berganti setiap detik, serta gaya hidup serba instan, rasanya wajar jika timbul kekhawatiran: apakah nilai-nilai luhur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini masih meresap dalam jiwa mereka? Atau jangan-jangan, Pancasila hanyalah sekadar lima bait kalimat hafalan yang wajib diucapkan saat upacara hari Senin, lalu dilupakan begitu saja ketika bel pulang sekolah berbunyi… masih adakah Pancasila di dalam hati kita?

Read More

Kalau Tiyo Dianggap Kelewatan, Mungkin Kita Perlu Memutar Ulang Siapa Yang Pernah Bilang “Ndasmu Etik”

Rasa-rasanya sulit kita berbicara tentang etika, jika pemimpin tertinggi sendiri berkali-kali menunjukkan gaya komunikasi yang jauh dari standar kesantunan. Kita tentu masih ingat ungkapan “ndasmu etik” yang pernah dilontarkan presiden. Kemudian komentar seperti “tampang boyolali” yang dulu sempat memicu polemik, atau ekspresi wajah “mencucu” yang mencibir dan mengejek orang-orang yang suka melakukan Focus Group Discussion (FGD).

Read More

Bergiliran Pulang

Fenomena “bergiliran pulang” ini seolah tanpa jeda untuk benar-benar memulihkan perasaan. Setiap takziyah menghadirkan percakapan yang serupa, serta doa yang terus diulang dengan harapan menjadi penenang bagi yang ditinggalkan. Di tengah rutinitas hidup yang tetap berjalan, ada hal yang sulit dijelaskan. Yang jelas, hidup memang berjalan berdampingan dengan kehilangan.

Read More
Back To Top