Seperti Hari Minggu biasanya, keluarga kecil kami memanfaatkan kesempatan libur ini untuk rehat dari rutinitas kerja yang begitu melelahkan selama sepekan. Jangankan pergi ke dapur untuk memasak buat sarapan, beranjak dari tempat tidur pun sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan.
Bukan karena malas atau sekadar malas-malasan, akan tetapi memang kerja dengan hitungan durasi jam itu jenuh dan melelahkan. Sehingga tubuh ini juga punya hak untuk sekadar rehat dari aktivitas. Berbincang ringan tentang angan bersama istri menjadi hal yang menyenangkan sembari rebahan.
Di sela perbincangan ringan, gawai saya yang ada di meja samping ranjang bergetar. Nama kontak “Mbah Pi” dengan foto profil Whatsapp “Emak dan Bapak” yang mesra sedang memanggil. Waktu yang masih sangat pagi membuat saya tidak perlu menunggu lama untuk menerima panggilan. Perasaan selalu “deg” saat Bapak telepon di pagi hari. Pasti ada sesuatu yang penting, entah sakit, ada kerabat meninggal dunia, atau hal lain yang tidak terduga.
Kali ini Bapak menyampaikan kabar jika “Lek Kah” — tetangga sekitar rumah meninggal dunia. “Ndro Lek Kah Ganok Umur”, ucap Bapak lewat panggilan Whatsapp. Saya lantas membalas formalitas sebagaimana ketika ada orang yang meninggal dunia, seperti sakit apa? dimakamkan kapan? dan seterusnya sampai akhirnya berakhir panggilan telepon itu.
Saat itu saya masih belum ada keinginan beranjak dari tempat tidur karena posisi badan yang masih sangat lelah. Sehingga saya masih memilih tetap melanjutkan berbincang dengan istri untuk menentukan langkah kedepan kehidupan. Menghayal sana sini dan sesekali muncul usulan rencana untuk liburan awal tahun.
Belum lama kita berbincang, telepon Whatsapp kembali memanggil. Kali ini Bulek saya yang satu kampung dengan Bapak telepon. Pikiran saya mungkin mau memberikan kabar tentang meninggalnya tetangga tadi. Dengan santai saya angkat telepon sambil menyapa ringan.
Sapa ringan saya berubah menjadi panik karena diberi kabar jika Bapak pingsan dan tidak sadarkan diri. Lantas saya meminta untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Pikiran saya masih tidak bisa menerima karena baru saja telepon dengan nada suara yang sebenarnya baik-baik saja dan tidak ada tanda suara sedang sakit seperti biasanya kalau mengabarkan sedang kondisi sakit.
Saya pacu sepeda motor saya menuju rumah sakit yang dibicarakan dengan bulek saya tadi. Sesampainya di lokasi perawat mengabarkan jika Bapak dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar dekat alun-alun kota. Saya pacu kencang lebih kencang lagi sepeda motor butut saya. Sesampainya di lokasi saya menjumpai Bapak yang tidak sadarkan diri.
Melihat kondisi Bapak, badan saya langsung lemas tak berdaya dan pikiran sudah kemana-mana seolah tak percaya atau pasrah. Tidak Bisa!! Harus berusaha… Alam bawah sadar saya memacu untuk optimis.
Meskipun demikian, ada titik dimana saya harus merelakan karena semua itu hanya titipan. Tepat sepuluh hari di rumah sakit, pada akhirnya perjuangan itu harus berakhir. Bapak pergi untuk selamanya.
Suara Bapak di telepon itu akhirnya menjadi suara terakhir yang saya dengar, sekaligus yang akan saya ingat selamanya, ya selamanya. Meskipun Bapak telah tiada, akan tetapi memori tentang Beliau akan selalu ada. Kalaupun telepon itu adalah komunikasi terakhir kita, akan tetapi panjatan doa akan terus menjadi jembatan komunikasi untuk sekadar menyapa dan melepas rindu.
Eri Hendro Kusuma
Pemimpin Redaksi Setitik.id

