Menikmati Alur Panggung “Drama”
Ya, saya sedang berada pada panggung kehidupan, tempat para pemainnya pun sebenarnya sama-sama bingung menyelesaikan naskah yang mereka tulis sendiri.
Ya, saya sedang berada pada panggung kehidupan, tempat para pemainnya pun sebenarnya sama-sama bingung menyelesaikan naskah yang mereka tulis sendiri.
Perjalanan kelas 2 SMA itu mengubah cara pandangku selamanya. Tuhan tidak hanya mengabulkan doa dengan cepat, tapi Ia juga yang paling tahu kapan waktu terbaik bagi kita untuk bertemu dengan-Nya. Segala ujian itu nyatanya adalah hadiah yang mendewasakan bagi jiwaku.
Karena itu sudah seharusnya kritik itu diperlakukan sebagai suplemen, bukan racun.
Maret bukan sekadar bulan bagi kami. Ia adalah rumah bagi memori dan masa depan yang berjalan berdampingan.
Pada awalnya, saya bukan orang yang menyukai kegiatan menulis, mengarang, maupun bercerita, bahkan sejak berada di bangku sekolah dasar. Ketika guru memberi tugas mengarang cerita, saya hampir selalu menuliskan kisah yang sama berulang kali.
sebelum terlalu jauh menunjuk ke luar, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah sikap anti-kritik hanya terdapat dalam ruang-ruang kekuasaan yang besar, atau justru tumbuh dari ruang yang paling dekat dengan kita?
Banyak orang hari ini ingin khusyuk ibadah… tapi dihantui pesan masuk: “Pak/Bu, kapan pembayarannya? Ini sudah akhir bulan”
Malam itu, tangisku makin jadi. Bukan hanya soal tempat. Tapi soal diri sendiri. Aku bukan orang
yang mudah bersosialisasi. Sekadar berkenalan saja sering terasa canggung, apalagi harus tinggal
bersama orang-orang yang sebelumnya asing selama 40 hari.
Suara Bapak di telepon itu akhirnya menjadi suara terakhir yang saya dengar, sekaligus yang akan saya ingat selamanya, ya selamanya. Meskipun Bapak telah tiada, akan tetapi memori tentang Beliau akan selalu ada. Kalaupun telepon itu adalah komunikasi terakhir kita, akan tetapi panjatan doa akan terus menjadi jembatan komunikasi untuk sekadar menyapa dan melepas rindu.
Malam sering menjadi saksi bagi orang-orang yang ingin terisak tanpa didengar orang lain. Mereka yang telah menghadapi hari berat dan tak punya tempat cerita. Mereka hanya bisa menangis, berharap akan mereda setelahnya.