Wahai Pemimpin, Berdamailah Dengan Kritik

Spread the love

Ada satu kebiasaan yang sudah tidak terawat dengan baik dalam kehidupan berdemokrasi kita, “kebiasaan dikoreksi”. Padahal, dalam setiap kebijakan pasti menghasilkan celah. Dalam setiap keputusan selalu ada kemungkinan salah.

Tidak ada sistem yang sepenuhnya sempurna, bahkan yang dibuat oleh orang-orang paling pintar sekalipun. Ini sesuai kodrat sang pembuat sistem adalah makhluk yang tidak sempurna, sehingga sangat wajar jika membuat sesuatu tidak ada yang sepenuhnya kebal dari kekeliruan.

Karena itu sudah seharusnya kritik itu diperlakukan sebagai suplemen, bukan racun.

Orang yang memberikan masukan, menyoroti kelemahan, atau bahkan mengkritik dengan keras seharusnya tidak selalu dipandang sebagai lawan, karena itu adalah “cermin”. Memang tidak selalu menyenangkan melihat diri sendiri dari cermin, apalagi jika pantulannya menunjukkan noda yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Akan tetapi tanpa cermin, bisa saja kita akan berjalan dengan wajah yang kotor tanpa pernah sadar.

Dalam dunia modern, praktik menerima koreksi bahkan dilakukan dengan sangat serius. Lembaga sebesar NASA, misalnya pernah membuat sayembara terbuka bagi para peretas untuk mencoba membobol sistem mereka. Hadiahnya juga bukan main-main, karena nilainya sangat fantastis.

Pertanyaannya sebenarnya sangat sederhana, untuk apa mereka melakukan itu?

Jawabannya juga sederhana, yaitu untuk menguji apakah ada titik lemah dalam sistem mereka.

NASA memahami satu hal penting. Sistem yang terlihat kuat dari dalam belum tentu benar-benar kuat. Kadang justru orang luar yang bisa menemukan lubang yang selama ini tidak terlihat. Maka alih-alih memusuhi peretas itu, mereka justru memberi ruang untuk menguji sistem yang telah mereka buat.

Bandingkan dengan cara kita memperlakukan kritik di ruang publik hari ini. Kritik seringkali tidak dijawab dengan perbaikan, melainkan dengan klarifikasi berlapis-lapis. Energi habis untuk “ngeyel” menjelaskan bahwa semua baik-baik saja, padahal pertanyaan yang diajukan sebenarnya sangat sederhana, apakah memang tidak ada yang perlu diperbaiki?

Lebih ironis lagi ketika kritik justru dibalas dengan intimidasi.

Beberapa waktu yang lalu publik dikejutkan dengan peristiwa yang menimpa Andrie Yunus, seorang aktivis dari Kontras, yang mengalami serangan penyiraman air keras. Peristiwa seperti ini tentu tidak dapat dipandang sebagai sekadar kejadian biasa. Ia menjadi simbol betapa kritik masih sering diperlakukan sebagai ancaman. Seharusnya kritik adalah bagian dari mekanisme sehat dalam kehidupan demokrasi.

Menyerang orang-orang yang memberikan kritik sebenarnya sedang menunjukkan satu hal, ketidakberanian untuk berhadapan secara terbuka. Dalam bahasa sehari-hari ini sering saya sebut sebagai “mental tempe”. Bukan karena tempe itu makanan buruk atau tidak enak, tapi karena teksturnya mudah rapuh.

Maksud saya jika tidak setuju, maka hadapilah secara terbuka.

Di zaman sekarang, bahkan konflik para artis di media sosial sering berakhir dengan cara yang lebih elegan, mereka bertemu di ring tinju. Semua orang menonton. Semua jelas. Tidak ada serangan dari belakang. Tidak ada yang tiva-tiba disiram sesuatu ketika sedanf berjalan pulang.

Tentu itu hanyalah sebuah kiasan, karena intinya sebenarnya, bahwa perbedaan seharusnya dihadapu secara terbuka.

Menariknya lagi, kejadian penyiraman air keras ini waktunya hampir bersamaan dengan pernyataan Presiden Prabowo dalam sebuah forum rapat bersama para menteri. Dalam pernyataannya, ia menyinggung para pengamat yang kerap mengkritik pemerintah dan mengatakan bahwa mereka akan “ditertibkan”.

Kata “ditertibkan” tentu bisa ditafsirkan dengan berbagai macam cara.

Menurut keyakinan saya, mungkin maksudnya adalah memberikan ruang dialog. Misalnya, mengubdang para pengamat itu untuk berdiskusi langsung dengan presiden. Duduk satu meja, berbincang, saling menguji argumen. Jika yang ini yang dimaksud, tentu menjadi langkah yang sangat baik.

Namun sejarah juga membuat kita sedikit waspada.

Kata “tertib” dalam perjalanan republik masa lalu memiliki arti yang jaub lebih keras. Orang-orang generasi lama pasti masih ingat istilah “petrus” yang pernah menghantuo ruang publik kita. Tentu semua berharap sejarah kelam seperti itu tidak pernah terulang kembali.

Sebab pada akhirnya, negara yang kuat bukanlah negara yang bebas dari kritik. Negara yang kuat adalah negara yang mampu bercermin untuk melihat dirinya sendiri secara utuh, menerima koreksi, melakukan evaluasi, berefleksi, lalu memperbaiki apa yang perlu diperbaiki

Kritik bukan musuh, tetapi ia hanya alarm. Ia berbunyi bukan untuk menakuti, melainkan mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Eri Hendro Kusuma
Pemimpin Redaksi Setitik.id

Back To Top