Mata Air di Rumah Kakek
Suatu sore ibu mengajakku
mencuci baju di bawah kaki bukit.
ia hendak mencuci bajuku
dari memori-memori masa lalu.
aku pun terperangah diam
nenekku tak mengizinkan
ia memintaku untuk
bergegas ke surau
supaya aku menuntaskan kewajibanku
iqro di sore hari.
Ibu pun tetap melenggang
ia mencuci semua pakianku seorang diri.
meski demikian, ia tak benar-benar sendiri.
setelah mendewasa, aku tau
jika ibu mencuci di kaki bukit
bersama keberaniannya,
tanggungjawabnya dan
pengabdiannya.
Purbalingga, 2026
Pembenaran
Siapakah pemilik saham
dari kebenaran itu?
apakah ustaz-ustaz di masjid kota?
atau para dai yang melantunkan takbir
dengan ego di dadanya?
Dalam sebuah hikayat,
kebenaran ialah mata air sungai
yang mengalir dari atas bukit hikmah
ke ladang-ladang hati manusia
dan muaranya ialah
samudera kasih
di dermaga cinta-Nya.
Purbalingga, 2026
Lintang Pukang Politik Modern
negeri ini sudahlah berbalik
mana raja, mana pelayan
mana atasan, mana bawahan
pun dengan lintang pukang politik
rakyat ialah seorang raja
tanpa mahkota, tanpa istana,
tanpa pengawal dan tanpa senjata.
sedang pejabat ialah hamba sahaya
yang bersenjata, yang bermahkota,
yang beristana dan berkuasa.
dalam hirarki ini,
tak layak raja gadungan
menyuruh raja sungguhan.
Betul, tak pernah sedikit pun
menggembira manakala
rakyat bertemu pejabat
sama saja raja bertemu dengan sahayanya.
Purbalingga, 2026
Khalifah Sejati
logika modern amat dangkal
untuk membaca hati dan kesederhanaan
kekasihku: ialah Muhammad.
yang perut buncitnya
sama sekali tak menagih
makanan dan minuman.
yang kesederhanaannya
tak merongrong kekayaan.
yang ibadahnya tidak mengharap surga
melainkan mengharap rido-Nya
meski ia sudah mendapatkan jaminan kepastian
rahmat Tuhan yang agung: surga.
yang kasih tulusnya mengucur pada umatnya
pun menderas pada para musuhnya.
tak pernah terbayang
dalam alam jagat logika hamba, Ya Tuhanku
aku dipimpin oleh kasih kekasih-Mu
yang kamil itu.
Purbalingga, 2026
Salah Sangka
kau tau kenapa tutup
dan botol tak kian bersatu, bukan?
karena ukurannya tak padu
sama pula dengan istilah lapangan pekerjaan.
karena ia hanya seukuran lapangan,
sedangkan pencarinya seluas padang sahara.
maka, tak pernah sanggup
lapangan pekerjaan itu
menampung pencarinya.
Purbalingga, 2026
Yanuar Abdillah Setiadi Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

