Lintang Pukang Politik Modern: Kumpulan Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Spread the love

Mata Air di Rumah Kakek

Suatu sore ibu mengajakku

mencuci baju di bawah kaki bukit.

ia hendak mencuci bajuku

dari memori-memori masa lalu.

aku pun terperangah diam

nenekku tak mengizinkan

ia memintaku untuk

bergegas ke surau

supaya aku menuntaskan kewajibanku

iqro di sore hari.

Ibu pun tetap melenggang

ia mencuci semua pakianku seorang diri.

meski demikian, ia tak benar-benar sendiri.

setelah mendewasa, aku tau

jika ibu mencuci di kaki bukit

bersama keberaniannya,

tanggungjawabnya dan

pengabdiannya.

Purbalingga, 2026

Pembenaran

Siapakah pemilik saham

dari kebenaran itu?

apakah ustaz-ustaz di masjid kota?

atau para dai yang melantunkan takbir

dengan ego di dadanya?

Dalam sebuah hikayat,

kebenaran ialah mata air sungai

yang mengalir dari atas bukit hikmah

ke ladang-ladang hati manusia

dan muaranya ialah

samudera kasih

di dermaga cinta-Nya.

Purbalingga, 2026

Lintang Pukang Politik Modern

negeri ini sudahlah berbalik

mana raja, mana pelayan

mana atasan, mana bawahan

pun dengan lintang pukang politik

rakyat ialah seorang raja

tanpa mahkota, tanpa istana,

tanpa pengawal dan tanpa senjata.

sedang pejabat ialah hamba sahaya

yang bersenjata, yang bermahkota,

yang beristana dan berkuasa.

dalam hirarki ini,

tak layak raja gadungan

menyuruh raja sungguhan.

Betul, tak pernah sedikit pun

menggembira manakala

rakyat bertemu pejabat

sama saja raja bertemu dengan sahayanya.

Purbalingga, 2026

Khalifah Sejati

logika modern amat dangkal

untuk membaca hati dan kesederhanaan

kekasihku: ialah Muhammad.

yang perut buncitnya

sama sekali tak menagih

makanan dan minuman.

yang kesederhanaannya

tak merongrong kekayaan.

yang ibadahnya tidak mengharap surga

melainkan mengharap rido-Nya

meski ia sudah mendapatkan jaminan kepastian

rahmat Tuhan yang agung: surga.

yang kasih tulusnya mengucur pada umatnya

pun menderas pada para musuhnya.

tak pernah terbayang

dalam alam jagat logika hamba, Ya Tuhanku

aku dipimpin oleh kasih kekasih-Mu

yang kamil itu.

Purbalingga, 2026

Salah Sangka

kau tau kenapa tutup

dan botol tak kian bersatu, bukan?

karena ukurannya tak padu

sama pula dengan istilah lapangan pekerjaan.

karena ia hanya seukuran lapangan,

sedangkan pencarinya seluas padang sahara.

maka, tak pernah sanggup

lapangan pekerjaan itu

menampung pencarinya.

Purbalingga, 2026

Yanuar Abdillah Setiadi Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Back To Top