Rumah Batik Kinasih: Rehabilitasi Sosial Melalui Karya Batik dari Penyandang Disabilitas

Spread the love

Blitar – Yayasan Bhakti Kinasih Mandiri, atau yang lebih dikenal dengan nama Rumah Batik Kinasih, menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkarya. Berdiri sejak tahun 2017 dan resmi berbadan hukum pada 2019, rumah produksi batik yang berlokasi di Kabupaten Blitar ini memiliki misi mulia: memberdayakan penyandang disabilitas dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melalui keterampilan membatik.

Didirikan oleh Edy, seorang mantan pegawai Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Rumah Kinasih lahir dari keprihatinannya terhadap minimnya keberlanjutan bagi penyandang disabilitas usai menjalani rehabilitasi. Ia terinspirasi dari pengalaman mengikuti program rehabilitasi di Balai Pelatihan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BPRSPDI) Temanggung, yang kemudian memicu ide membangun kegiatan serupa di daerah asalnya.

Melalui kegiatan membatik, para penyandang disabilitas tak hanya mendapatkan pelatihan keterampilan yang bernilai ekonomis, tetapi juga memperoleh penghasilan dan pengakuan sosial. Awalnya, program rehabilitasi dilakukan di Desa Doko, Kecamatan Doko. Namun, setelah melihat banyaknya penyandang disabilitas dan ODGJ di kampung halamannya, Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Edy memutuskan untuk memusatkan kegiatannya di sana.

Langkah awal dilakukan dengan mengirim surat kepada para kepala dusun untuk mendata jumlah penyandang disabilitas dan ODGJ di wilayah tersebut. Dari situlah, Edy mulai membangun jaringan dan menduplikasi sistem rehabilitasi yang pernah dijalaninya dengan memberdayakan sumber daya lokal.

Berkat kegigihan dan ketulusan dalam mengelola Rumah Batik Kinasih, berbagai penghargaan berhasil diraih. Di antaranya adalah Juara 1 UMKM Awards 2022 oleh Bank Jatim, Piagam Usaha Mikro Kecil Terbaik dari Gubernur Jawa Timur tahun 2022, dan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas rekor membatik oleh penyandang disabilitas terbanyak pada tahun yang sama.

Rumah Batik Kinasih kini bukan hanya tempat pelatihan, tetapi juga rumah harapan bagi mereka yang kerap dipandang sebelah mata. Dalam diam dan kesederhanaannya, mereka mengajarkan bahwa kehidupan yang layak bukanlah hak istimewa, melainkan hak semua manusia—apapun kondisinya

Penulus : Vania Charly Amanta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top