Tankaman dan Ledok Sambi: Saat Liburan Ramah Kantong Menjadi Pengalaman Tak Terlupakan

Spread the love

Liburan adalah momen yang selalu dinanti, tak terkecuali bagi saya. Di tengah padatnya tugas, laporan praktikum, dan berbagai proyek yang seakan tak ada habisnya, saya memutuskan untuk sejenak “healing” dengan mengunjungi dua teman SMA yang sedang berkuliah di Yogyakarta.

Bikin Sport Jantung: Kejar Kereta ke Lempuyangan

Perjalanan dimulai dari Solo, kota tempat kami menuntut ilmu. Bersama seorang teman, saya berangkat menuju Yogyakarta menggunakan KRL dari Stasiun Palur menuju Stasiun Lempuyangan. Awalnya perjalanan ini tampak sederhana, tetapi kenyataannya justru menjadi pengalaman yang memacu adrenalin.

Kereta yang kami incar dijadwalkan berangkat pukul 18.10, sementara saat itu kami masih berada di daerah Jebres dengan waktu tersisa sekitar sepuluh menit. Dengan kondisi lalu lintas yang padat, teman saya mengendarai motor secepat mungkin demi mengejar waktu. Sesampainya di Stasiun Palur, masalah baru muncul tiket KRL saya tidak bisa ditukarkan. Situasi mulai terasa menegangkan.

Waktu terus berjalan dan keberangkatan kereta tinggal hitungan menit. Beruntung, petugas KAI dengan sigap membantu proses penukaran tiket. Setelah berhasil, kami langsung berlari menuju peron. Tepat ketika kami masuk ke dalam kereta, pintu otomatis tertutup dan kereta mulai berjalan.

Alih-alih panik, kami justru tertawa sepanjang perjalanan. Tingkah kami bahkan sempat membuat beberapa penumpang lain heran. Semua perjuangan itu tentu ada alasannya. Kami sudah berencana menginap di kos teman yang memiliki jam malam cukup ketat. Jika tertinggal kereta, kemungkinan besar kami harus memanjat pagar kos untuk bisa masuk.

Healing Budget Mahasiswa di Lereng Merapi

Keesokan paginya sekitar pukul 07.00, kami berempat keluar mencari sarapan di sekitar UIN Sunan Kalijaga. Sambil menikmati menu sederhana di warteg, kami berdiskusi menentukan destinasi wisata. Sebagai mahasiswa perantauan yang hidup dengan anggaran terbatas, tentu kami mencari tempat wisata yang indah, tetapi tetap ramah di kantong.

Pilihan akhirnya jatuh pada Tankaman Natural Park dan Ledok Sambi Ecopark di Kabupaten Sleman, DIY. Berdasarkan informasi yang kami temukan di internet, kedua tempat tersebut tidak memungut biaya masuk dan pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir.

Berbekal Google Maps, kami memulai perjalanan menuju Tankaman Natural Park. Namun seperti pengalaman banyak orang saat menggunakan navigasi, kami justru diarahkan melewati jalan-jalan kecil, gang sempit, hingga jembatan tua yang hanya cukup dilalui satu kendaraan. Meski sempat membuat deg-degan, perjalanan itu tetap terasa menyenangkan karena dipenuhi canda sepanjang jalan.

Sesampainya di lokasi, rasa lelah langsung terbayar. Hanya dengan membayar parkir Rp2.000, kami sudah bisa menikmati suasana alam yang asri dengan vegetasi hijau dan udara sejuk khas kawasan kaki Gunung Merapi. Dari titik tertinggi taman wisata tersebut, kami dapat melihat pemandangan Gunung Merapi yang berdiri megah di sebelah utara. Dari kejauhan tampak pula Jembatan Plunyon Kalikuning yang terkenal itu.

Menariknya, di kawasan wisata ini masih banyak kera liar yang berkeliaran bebas. Meski begitu, hewan-hewan tersebut tidak mengganggu pengunjung. Suasana semakin nyaman karena terdapat area makan dengan konsep terbuka yang menyatu dengan alam, membuat tempat ini terasa semakin tenang dan alami.

Setelah puas menikmati Tankaman Natural Park, kami melanjutkan perjalanan menuju Ledok Sambi Ecopark. Belajar dari pengalaman sebelumnya yang “terjebak” di jalan tikus, kali ini kami mengubah pengaturan Google Maps menjadi mode jalur mobil, keputusan sederhana itu ternyata membuat perjalanan jauh lebih nyaman.

Jalan yang kami lalui menjadi lebih lebar dan mudah diakses. Tidak lama kemudian, kami memasuki kawasan Kaliurang yang ramai oleh lalu lalang mobil jeep wisata Merapi. Debu jalanan, suara mesin jeep, dan ramainya wisatawan justru menambah suasana khas wisata lereng Merapi yang tidak kami temukan sebelumnya.

Sesampainya di Ledok Sambi Ecopark, suasana alam kembali menyambut kami dengan ketenangan yang menyejukkan. Sungai yang jernih, hamparan rumput hijau, serta batu-batu vulkanik yang tersusun alami menciptakan tempat yang sempurna untuk melepas penat. Kami bermain air dan duduk santai di tepi sungai sambil menikmati camilan yang kami pesan dari warung sekitar. Suasana terasa semakin hangat ketika kami bercengkerama dengan pengunjung lain, ditemani riuh tawa anak-anak yang sibuk menangkap ikan kecil di sela-sela bebatuan sungai.

Bakso Kawi sebagai Penutup Hari

Menjelang sore, kami memutuskan untuk pulang kembali ke kos untuk membersihkan diri sebelum keluar lagi mencari makan malam. Tujuan kami cukup sederhana yaitu menikmati bakso kawi yang terkenal enak dan murah, Namun rencana itu sempat berubah karena salah satu teman kami tidak bisa ikut. Ia harus menyelesaikan tugas kuliah yang deadline-nya sudah sangat dekat. Akhirnya, kami bertiga tetap berangkat mencari bakso kawi.

Setelah cukup lama berjalan kaki tanpa menemukan tempat yang dicari, kami memutuskan menggunakan motor dan berboncengan bertiga di tengah ramainya jalan Kota Yogyakarta. Rasanya campur aduk antara malu, lucu, dan sedikit khawatir karena jalanan sedang padat.

Untungnya, perjuangan kami tidak sia-sia. Kami akhirnya menemukan penjual bakso kawi yang dicari. Semangkuk bakso hangat dengan harga terjangkau terasa sangat nikmat setelah seharian berkeliling. Bahkan, penjualnya dengan ramah memberikan minuman gratis kepada kami.

Malam itu, kami bersiap kembali ke Solo bersama Teman kami yang sebelumnya tidak bisa ikut karena menyelesaikan tugas, dirinya ikut mengantarkan kami ke stasiun, menutup perjalanan ini dengan hangat.

Alma Aulya Wahyuningtyas, Instagram: @almafatts_

Back To Top