Dalam sebuah obrolan di grup whatsapp, saya di mention oleh seorang teman. Intinya dia “nyentil” agar saya tidak berebut pengakuan dari sebuah pencapaian. Anda-anda yang “gila pencapaian” jangan berpikir yang tinggi-tinggi dulu. Bagi saya, sekarang bisa makan nasi putih dengan lauk ayam goreng itu saja sudah pencapaian yang luar biasa. Jadi pencapaian yang dimaksud teman saya itu adalah pencapaian yang biasa saja.
Pencapaian yang menurut saya biasa saja itu ternyata bagi sebagian orang bisa jadi sesuatu pencapaian yang fantastis. Sehingga merasa perlu “nimbrung” dalam sebuah pencapaian itu. Seolah-olah itu adalah hasil kerja kerasnya membantu atas pencapaian seseorang tersebut. Kebutuhan untuk divalidasi dalam kehidupan sosial memang sesuatu yang lumrah.
Terlebih, sebagai makhluk sosial manusia tumbuh dan berkembang melalui interaksi di lingkungan. Validasi berupa pujian, pengakuan, dukungan moral, atau sekadar pengakuan atas keberadaan dan usaha seseorang terkadang penting juga sebagai kepercayaan diri untuk terus berkembang.
Namun, penting juga untuk membedakan antara validasi yang sehat dan hasrat untuk mendapatkan pengakuan secara berlebihan. Bahkan sampai pada titik “ngaku-ngaku” (mengklaim). Ketika seseorang mulai membangun citra palsu demi mendapat validasi dari orang lain, ia sedang menempatkan dirinya dalam jebakan ilusi. Validasi yang diperoleh dari hasil “ngaku-ngaku” ini tidak akan baik untuk proses waktu yang panjang.
Apalagi pada era media sosial saat ini, banyak orang tergoda untuk mengklaim pencapaian yang bukan miliknya atau menampilkan gaya hidup yang tidak sesuai kenyataan. Padahal, validasi semu dengan niat untuk diakui itu justru berubah menjadi beban, karena harus terus mempertahankan kebohongan.
Validasi yang sehat seharusnya datang dari kejujuran. Penghargaan yang tulus hanya bisa dicapai melalui keotentikan, bukan manipulasi. Maka dari itu, penting untuk membangun rasa percaya diri yang berasal dari nilai diri, bukan dari pandangan orang lain semata.
Mengklaim sesuatu yang bukan milik kita tentu bisa merugikan orang lain. Selain mencederai integritas pribadi, tindakan semacam ini juga boleh dikatakan sebagai pencurian. Bayangkan jika seseorang mengambil “panggung” atas karya orang lain hanya demi pujian. Itu bukan hanya tidak etis, tetapi juga mencerminkan pelanggaran norma. Perilaku semacam ini bisa merusak reputasi dan hubungan sosial.
Validasi memang penting, karena manusia butuh merasa dihargai. Tapi keinginan untuk divalidasi harus dikendalikan dengan kesadaran dan kejujuran. Bagi saya, lebih baik dikenal sebagai diri sendiri yang otentik, daripada dipuji sebagai sosok palsu yang penuh kepura-puraan.
Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

