Apa istimewanya menjadi seorang musyrifah? Saya tidak pernah benar-benar menyangka bahwa langkah saya akan sejauh ini menjadi seorang musyrifah di Ma’had Al-Jami’ah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Musyrifah adalah pendamping dan pembimbing bagi mahasiswi di lingkungan ma’had.
Musyrifah tidak hanya bertugas menjaga kedisiplinan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman, akhlak, serta membentuk karakter islami dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi musyrifah bukan sekadar mengatur atau mengawasi, melainkan menjadi teladan, teman belajar, dan sahabat spiritual. Di balik tanggung jawab yang besar, ada ladang amal yang luas. Dan ternyata, di sinilah saya belajar bahwa pengabdian yang tulus mampu menumbuhkan jiwa yang kuat dan hati yang ikhlas.
Semua ini berawal dari dorongan orang tua. Ya, saya mendaftar sebagai musyrifah di semester tiga atas saran, atau lebih tepatnya permintaan, dari orang tua saya sendiri. Sebagai anak, saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk menaati mereka. Karena saya yakin, ridha Allah terletak pada ridha orang tua.
Sebelumnya, saya adalah seorang mahasantri Ma’had Al-Jami’ah UIN Satu Tulungagung sejak awal kuliah. Selama dua semester saya bermukim dan belajar di sana. Lingkungan Ma’had memberikan banyak pelajaran hidup dari kedisiplinan, kemandirian, hingga spiritualitas. Namun, menjadi musyrifah adalah peran yang sangat berbeda bukan lagi hanya sebagai penerima, tetapi juga sebagai pembimbing dan penanggung jawab.
Keputusan untuk mendaftar musyrifah bukan sekadar dorongan orang tua saya. Di balik itu, saya juga memikirkan sesuatu yang lebih dalam. Apakah saya hanya akan menjalani masa kuliah ini dengan rutinitas ‘kuliah-pulang-kuliah-pulang” saja?
Di dunia yang semakin tua dan penuh godaan ini, saya merasa perlu menambatkan diri pada sesuatu yang lebih bermakna, lebih ukhrawi. Saya khawatir, jika tidak memiliki pijakan spiritual yang kuat, saya akan hanyut dalam arus pergaulan yang kian mengkhawatirkan.
Tentu, sebagai remaja, saya juga punya rasa ingin tahu dan keinginan untuk merasakan ‘kebebasan’. Keinginan untuk mencoba hal-hal yang belum pernah saya coba. Tapi Allah, melalui orang tua saya, menunjukkan jalan yang lebih indah. Saya percaya, setiap hal yang dilakukan atas dasar menaati orang tua akan berbuah kebaikan, walau terkadang tidak langsung terlihat.
Dan benar, lambat laun, keberkahan itu mulai terasa. Saya bisa merasakannya meski tak kasat mata. Ketika saya ikhlas menjalankan amanah ini, Allah membukakan banyak jalan. Saya dipertemukan dengan lingkungan yang baik, teman-teman yang saling mendukung, serta pengalaman-pengalaman yang membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan sabar. Saya belajar memimpin, mendengarkan, dan memahami.
Menjadi musyrifah bukan hanya soal amanah struktural. Ini adalah ladang amal, tempat belajar tanggung jawab, ruang untuk memperbaiki diri, dan bentuk syukur saya karena telah dipilih Allah melalui orang tua saya untuk berada di jalan ini. Sebuah privilege yang tidak semua orang punya. Di baliknya ada amanah besar yang dipanggul oleh seorang musyrifah. Seorang perempuan yang memilih jalan pendidikan sebagai wujud pengabdiannya.
Dari sinilah saya belajar bahwa menjadi mahasiswa bukanlah perkara biasa. Ini adalah bentuk keistimewaan yang hadir bersama tanggung jawab besar. Tanggung jawab kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada masyarakat. Sebagai musyrifah, saya memaknai kuliah sebagai amanah.
Tanggung jawab itu terletak di pundakku. Aku berusaha melangkah dengan penuh keikhlasan. Menjadi mahasiswa bukan hanya untuk meraih gelar, tetapi untuk menjadi pribadi yang berguna, yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang duduk di kelas dan mendengarkan dosen. Ini adalah fase pembentukan karakter. Saya belajar membagi waktu, mengatur prioritas, bahkan merelakan jam tidur demi tanggung jawab organisasi dan tugas kuliah. Memang melelahkan, tapi jauh lebih bermakna dibandingkan hidup sebagai mahasiswa kupu-kupu –kuliah lalu pulang.
Menjadi mahasiswa adalah sebuah keistimewaan membuka akses luas terhadap ilmu, ruang eksplorasi diri, kesempatan membangun relasi, dan kebebasan berpikir kritis. Namun semua itu menuntut komitmen. Bukan untuk disombongkan, melainkan disyukuri dan dimanfaatkan dengan ikhlas serta tanggung jawab. Karena keistimewaan tanpa syukur hanya menjadi beban, tapi jika dijalani dengan kesadaran, ia akan menjadi cahaya yang menuntun langkah pengabdian.
Saya pun tak bisa membayangkan jika dulu saya menolak saran orang tua. Mungkin saya tak akan sekuat ini. Mungkin saya tak akan sebermanfaat ini. Kini, setiap malam saya bersyukur. Saya bersyukur bukan hanya karena saya berada di tempat yang baik, tetapi karena Allah memberi saya kekuatan untuk menerima arahan yang awalnya saya anggap berat.
Menjadi musyrifah adalah pilihan. Dan pilihan itu membawa tanggung jawab di pundak, serta semangat yang menyala di dada. Semangat untuk tidak sekadar menjadi mahasiswa, tapi menjadi insan pembelajar yang mampu memberi makna.
Maka dari itu, gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, karena tidak semua orang seberuntung kita. Terima kasih, Ya Allah, untuk jalan ini. Terima kasih, Ayah dan Ibu, karena telah membimbing dengan kasih sayang dan penuh keyakinan. Terima kasih juga untuk keluarga dan semua yang selalu mendukung dalam diam maupun terang.
Penulis: Andini Eka Silvia
Mahasiswi Ilmu Hadis Semester 4 di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Ig: slviadni_
Editor: Deni Iska Dian Nita

