Tahun ini, saya merasa hidup penuh dengan kejutan—senang, sedih, dan luka datang silih berganti, bahkan terkadang menyatu tanpa sengaja. Maret menjadi bulan paling kelam, saat untuk pertama kalinya saya merasa benar-benar putus asa. Saya gagal dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di universitas impian saya. Saat itu, saya terus bertanya, “Mengapa?” “Saya kurang apa?” dan berbagai pertanyaan lain yang mengganggu alam pikiran saya.
Ketika Hari Raya Lebaran tiba, banyak orang bertanya, “Kamu kuliah di mana?” Pertanyaan sederhana itu terasa seperti hantaman keras, membuat saya merasa kecil, –bahkan amat kecil. Dengan penuh harap, saya mencoba mengikuti seleksi lain, namun kembali gagal. Untuk kedua kalinya, saya merasa kosong.
Banyak orang bilang manusia bisa mengubah takdirnya, tetapi bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bentuknya saja belum diketahui? Katanya, hasil akan sebanding dengan usaha, tapi saya belum pernah benar-benar merasakannya.
Suatu hari, saya mencoba lagi. Kali ini tidak hanya mendaftar ke universitas yang saya impikan, tetapi juga ke universitas lain di sebelahnya. Tak disangka, saya lolos. Saya diterima di tempat yang tak pernah ada dalam benak saya sebelumnya, di jurusan yang selama ini hanya menjadi dongeng setiap kali saya mendengarnya. “Pendidikan Sejarah”. Saat membaca pengumuman itu, saya merasa senang, lega, dan… sedikit kosong.
Saya diberi waktu satu minggu untuk memutuskan apakah akan menerima sebuah tempat yang mengundangku. Namun entah mengapa, saya justru menanti sesuatu yang tak pasti ditakdirkan untuk saya. “Universitas Brawijaya”. Batas akhir daftar ulang di universitas yang menerima saya hanya berselang satu hari dari pengumuman universitas impian saya. Ketegangan dan kebingungan memuncak. Hingga suatu malam, seorang teman mengirim pesan mengejutkan: “Pengumuman UB hari ini.” Dengan gugup, saya membuka laman pengumuman, dan… ya…, saya lolos. Aliza diterima di jurusan Peternakan.
Jurusan itu hanya pernah saya pikirkan sekilas, tak pernah sungguh-sungguh saya berkeinginan masuk ke jurusan ini. Namun saat membaca nama saya tertera di sana, saya tak mampu menahan rasa bahagia. Saya segera memberi kabar kepada semua orang terdekat, bahkan membangunkan keluarga saya yang sudah terlelap. Tapi apa peduli saya? Malam itu, saya bahagia—lebih bahagia dari sebelumnya. Saya bisa membuktikan bahwa kali ini, saya menang.
Kini, saya resmi menjadi bagian dari Universitas Brawijaya, universitas yang selama ini saya impikan. Meski harus merelakan satu impian lain yang bahkan tak pernah saya punya keberanian untuk mendaftar, saya tidak menyesal. Semua proses ini memberi saya pengalaman yang menegangkan, sekaligus tak ternilai. Sebuah pengalaman yang akan saya kenang seumur hidup.
Terima kasih kepada keluarga saya yang selalu mendukung, dan terima kasih juga kepada seluruh teman-teman “Bifocial” yang telah ada pada setiap langkah perjalanan ini.
Aliza Nur Hamidah
Redaksi setitik.id

