Setiap kali berjumpa dengan Pak Budi Prasetyo, Kepala SMPN 3 Batu sekaligus Ketua PGRI Kota Batu, selalu ada percakapan yang mengendap lama dalam ingatan. Baik dalam suasana formal seperti rapat atau workshop, maupun dalam obrolan santai di sela-sela kegiatan, arah pembicaraan beliau tak jauh dari satu tema besar “hati”. Bagi beliau, hati bukan sekadar inti dari rasa, tetapi sumber dari segala tindakan yang bermakna.
Semua hal yang dilakukan dengan hati akan terasa ringan. Saat seseorang bertindak dengan dasar ketulusan, maka aktivitas yang dijalani tak hanya menjadi beban kerja, tapi akan berbuah menjadi ladang amal, bahkan sumber kebahagiaan.
Sebenarnya sudah cukup lama tidak berjumpa dengan beliau baik di kegiatan formal maupun “ngobrol santai” di sela aktivitas. Saat bertemu dengan beliau sebagai narasumber pada kegiatan workshop di SMPN 7 Batu, arah pembicaraan tetap konsisten antara hati, keikhlasan, dan kebermanfaatan. Pesan yang sama kembali terdengar itu seolah mengingatkan bahwa meski zaman berubah, nilai-nilai dasar dalam menjalani kehidupan tetap sama.
Menurut Pak Budi, bekerja dengan hati tidak berarti bekerja tanpa kendala. Namun, hati yang terlibat akan mengubah cara pandang kita terhadap kendala itu sendiri. Alih-alih menjadi keluhan, tantangan justru dihadapi sebagai ruang untuk tumbuh dan belajar. Karena itu, beliau sering mengingatkan bahwa keluhan hanya akan memperlambat proses. Mereka yang mengeluh, cenderung hanya berpikir tanpa bertindak, dan akhirnya pekerjaan tak kunjung selesai.
Sebaliknya, mereka yang bekerja dengan semangat dan keikhlasan, justru menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan hasil yang optimal. Tidak ada beban yang terlalu berat ketika pekerjaan dilakukan dengan rasa cinta. Prinsip ini juga beliau tekankan dalam konteks mendidik siswa. Mendidik bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan membentuk jiwa, dan hal itu hanya bisa dilakukan jika sang pendidik benar-benar hadir dari hati.
Beliau percaya bahwa ketika seorang guru mendidik dengan hati dan keikhlasan, maka cahaya itu akan memancar ke murid, bahkan hingga masa depan mereka. Ilmu yang disampaikan pun akan lebih mudah diterima, bukan hanya di kepala, tapi juga sampai ke jiwa. Itulah mengapa beliau kerap menyebutkan bahwa keikhlasan adalah bentuk tertinggi dari dedikasi seorang guru.
Di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks, pesan beliau menjadi pengingat agar kita tidak kehilangan arah. Bahwa seberat apapun tugas, jika dijalani dengan hati yang ringan dan niat yang tulus, maka hasilnya akan membawa manfaat — bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk banyak orang.
Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

