Seperti hari-hari biasanya, Aku awali pagi dengan penuh semangat dalam diri. Bangun pagi, menanak nasi, dan bergegas mandi mempersiapkan diri. Berharap pagi ini bus datang sesuai rencana dan tidak terlambat lagi.
Akhirnya yang dinanti-nanti datang juga. Pagi ini terlihat pak sopir dengan raut wajah muram dan kurang begitu bersemangat karena hampir semua bangku tidak ada penumpangnya. Terlihat hanya sekitar empat orang saja di dalam bus itu. Sebaliknya, pak kondektur terlihat bersikap seperti biasanya. Ya…pak kondektur itu bernama Pak Jono.
“Karcis… karcis… karcis…”, ucap Pak Jono sambil berjalan mendekatiku.
Seperti biasa, aku langsung memberikan uang yang sudah aku persiapkan. Setelah menarik karcis, Pak Jono tidak langsung kembali ke depan. Beliau lanjut berjalan ke belakang dan menyapa salah satu penumpang yang sudah akrab dengan beliau. Aku pun juga kenal dengan penumpang tersebut. Penumpang yang setiap pagi juga naik bus karena beliau adalah penjual ikan hias di kota Batu. Beliau suka duduk di bangku belakang karena harus menjaga karung ikannya.
Karena duduk sendirian dan sudah menjadi kebiasaan, aku pun langsung memejamkan mata, berharap bisa tidur pulas seperti biasanya dan ketika terbangun sudah berada kota tempatku bekerja. Namun pagi ini terasa berbeda, keinginan untuk bisa tidur pulas harus tertunda karena Pak Jono dan bapak penjual ikan mengobrol tepat di belakangku.
Sebenarnya bukan masalah dengan suara Pak Jono yang keras, namun karena isi cerita beliau. Beliau sedang menceritakan tentang anaknya yang sekarang sudah menjadi guru dan punya menantu yang bekerja di rumah sakit. Yang paling membuatku terheran-heran hingga kepikiran yaitu ketika beliau bercerita betapa beliau sangat menyayangi anaknya. Namun ketika sudah sukses, anaknya malah tidak peduli kepadanya. Tubuh yang semakin renta memang sudah tidak kuat kalau harus bekerja terlalu berat.
Ya… gaji seorang kondektur di bus ini memang tidak menentu. Bahkan mereka harus berhutang jika tidak ada banyak penumpang dan tidak bisa membayar setoran. Entah mengapa ketika mendengar cerita itu, hatiku sedih, langsung teringat almarhum “emak dan bapakku” . Air mata tak terasa menetes begitu saja.
Apalagi saat mendengar beliau bercerita ketika tidak memiliki beras sama sekali dan meminta kepada anaknya. Beliau mengira anaknya akan dengan senang hati memberinya, namun yang terjadi malah sebaliknya.
“Tak kiro ditukokne sak karung tah 5 kilo, tibak e lakok mek kresek cilik, isine setengah kilo, lah iki digawe sedino ae langsung entek”, ucap pak Jono sambil tertawa. Sontak si bapak penjual ikan pun juga ikut tertawa. “Wes jan ra main blas!!”, tambah Pak Jono.
Meski beliau tertawa, aku yakin sebenarnya hati beliau sedih dan terluka. Yang membuatku heran dan bertanya-tanya dalam hati, “kok ada ya anak seperti itu??” “kok bisa ya anak bersikap seperti itu kepada orang tuanya padahal dia sudah mapan dan berkecukupan??”, kok ada ya guru yang sikapnya jelek seperti itu?? Aku yang berprofesi sebagai guru merasa sedih mendengar hal itu. Guru yang harusnya bisa digugu dan ditiru akan sikap baiknya, tapi ini malah sebaliknya.
Anak sudah sewajarnya memuliakan orang tua dan jangan sampai membuat mereka kecewa. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku tidak mau kehilangan kedua orang tuaku secepat ini.
Masih sangat teringat ketika aku dan saudara-saudaraku pernah merawat seorang ibu yang sakit karena terkena meningitis TB otak. Kami rela melakukan apapun demi ibu kami supaya beliau tetap ada di samping kami. Aku rela harus mengeluarkan banyak biaya dan tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan demi kesembuhan ibu kami. Bahkan kakak laki-laki harus rela tidak bekerja demi menemani ibu kami yang sedang sakit.
Dia sangat sabar dan telaten dalam merawat ibu kami. Mulai dari memandikan, merawat luka, menyuapi, hingga mengganti popok karena ibu sudah tidak bisa berdiri dan tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Meski akhirnya tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi ibu kami sehingga Ia memanggilnya terlebih dahulu pada tanggal 28 Juni 2023.
Selang satu tahun, tepat menjelang acara selamatan ibu kami, Bapak kami yang tidak sakit apa-apa, mendadak sesak nafas dan meninggal dunia. Bagai disambar petir karena tidak ada pertanda sebelumnya. Pada tanggal 25 Mei 2024 bapak meninggalkan kami semua. Maka genap sudah tidak ada orang tua lagi di samping kami.
Lah ini masih memiliki orang tua kok malah disia-siakan dan tidak dipedulikan. Aku benar-benar kepikiran dan tidak bisa tidur dibuatnya.
Dari sini aku belajar bahwa sebagai orang tua, menyayangi anak secara berlebihan bukanlah jaminan. Harapan untuk mendapatkan kasih sayang yang sama seperti kita menyayangi anak-anak kita bisa jadi tidak terwujudkan. Sebagai anak, aku merasa sangat sedih karena sudah tidak bisa lagi merasakan kasih sayang dan mendapatkan untaian doa-doa dari orang tua kami.
Aku merasa sedih karena aku merasa belum bisa membahagiakan orang tua kami tapi mereka sudah pergi. Aku berharap tidak akan ada lagi anak yang menyia-nyiakan orang tuanya. Tidak ada lagi kata-kata untuk anak durhaka. Sayangi orang tua kalian selagi mereka masih ada karena mereka adalah sumber kebahagian dan kekuatan doa terbesar dalam hidup kita.
Bagong, 20 Agustus 2025
Tri Windiyati, S.Pd
Guru Bahasa Inggris di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu

