Kemarin saya akhirnya mendaftar kuliah pascasarjana lagi untuk ketiga kalinya. Rasanya seperti membuka lembaran baru dalam hidup yang pernah beberapa kali saya coret, lalu saya coba tulis ulang.
Sebagai seorang suami, tentu saya merasa harus menyampaikan kabar ini kepada istri. Setelah saya mengirim pesan WhatsApp berisi foto formulir pendaftaran, respons istri saya datang singkat namun menohok: “Sampai lulus nggak???” Kalimat yang tampak sederhana itu sebenarnya tamparan keras bagi saya.
Ya, dua kali saya sudah menapaki dunia kuliah pascasarjana dan dua kali pula saya gagal di ujung jalan. Bukan karena malas, bukan pula karena tidak mampu menulis tesis, tetapi karena ujian hidup yang datang bertubi-tubi. Pada kuliah magister pertama, saya justru berada dalam masa paling berat dalam hidup.
Saat itu saya baru keluar dari perusahaan dan memilih menjadi guru dengan gaji Rp300 ribu per bulan. Rumah dijual, motor dijual untuk melunasi cicilan, orang tua sakit dan butuh biaya operasi, sementara istri saya juga harus operasi caesar untuk melahirkan anak pertama kami. Di titik itu, saya bahkan pernah tidak punya beras untuk dimasak.
Sakit pun datang silih berganti. Tubuh saya mudah terserang penyakit seperti tipus dan demam berdarah. Fokus saya bukan lagi pada perkuliahan atau jurnal ilmiah, melainkan bagaimana caranya bertahan hidup. Padahal secara akademik, saya tidak punya masalah. Nilai IP saya bagus, bahkan jurnal ilmiah saya sudah terbit dua kali. Tapi semua pencapaian itu tak mampu melawan kerasnya realitas. Akhirnya saya memutuskan berhenti kuliah. Beban moral semakin berat karena kuliah tersebut dibiayai oleh salah satu dosen S1 terbaik saya. Kegagalan itu sebenarnya membekas, sampai hari ini.
Setelah beberapa tahun, saya mencoba bangkit. Kali ini saya memilih kampus kecil dengan biaya yang lebih ringan. Saya berharap semua bisa berjalan lancar, dan saya bisa menyelesaikan studi tanpa tekanan finansial. Kuliah kedua ini terasa lebih bersahabat. Saya kuliah bersama teman-teman kantor, sehingga ada semangat kebersamaan yang kuat. Namun, justru karena rasa kebersamaan itu pula, saya ikut hanyut dalam kebiasaan yang kurang produktif. Ketika beberapa teman memutuskan menunda tesis karena urusan biaya, saya pun ikut menunda.
Apalagi di tengah perjalanan itu, saya pindah kerja. Dan jika tidak ada ijin belajar maka sudah dipastikan ijasahnya tidak dapat diakui. Dari situ saya mulai berpikir ulang: apakah masih perlu diteruskan jika manfaat formalnya tak diakui? Akhirnya, meskipun semua tugas telah saya selesaikan dan naskah tesis sudah saya tulis, saya tak pernah sampai ke tahap ujian. Kuliah magister kedua saya pun berakhir sama seperti sebelumnya—selesai tapi tidak benar-benar “selesai.”
Kini, untuk ketiga kalinya, saya kembali mencoba. Saya tahu sebagian orang mungkin akan menilai saya keras kepala, tapi saya lebih suka menyebutnya tekun berharap. Saya sudah belajar dari dua kegagalan sebelumnya. Kali ini saya lebih hati-hati dalam memilih kampus, mempertimbangkan biaya, dan tentu saja menata ulang prioritas hidup. Saya sadar bahwa perjuangan kali ini bukan sekadar soal gelar magister, melainkan pembuktian pada diri sendiri bahwa saya tidak akan menyerah begitu saja.
Doa dan restu istri menjadi hal paling penting. Saya tahu pertanyaan: “Sampai lulus nggak???” bukanlah bentuk keraguan, tetapi rasa takut melihat saya kecewa lagi. Maka kali ini, saya ingin menjawab pertanyaan itu bukan dengan kata-kata, tapi dengan bukti. Saya tidak mau gagal untuk ketiga kalinya. Semoga perjalanan ini benar-benar berakhir dengan penuh makna dan ijasah.
Eri Hendro Kusuma, tinggal di Kota Batu Jawa Timur

