Cerpen Gerbang Sekolah

Kenangan di Gerbang Impian

Spread the love

Tangan Fay bergerak lincah, menyortir tumpukan berkas yang menumpuk tersembunyi di dalam loker. Hari sudah sore. Sebagai seorang Abdi Negara di bidang pendidikan, ia harus melayani murid-murid di sekolah dan belum lagi administrasi yang tak ada habisnya.

Namun, kali ini ia sedang membereskan berkas pribadi yang sudah sesak di dalam loker miliknya hingga tak ada celah untuk menambah berkas-berkas baru, memilah mana yang perlu disimpan dan mana yang bisa disingkirkan.

“Aduh, banyak sekali tumpukan masa lalu ini,” gumamnya sambil menggeser map lusuh berwarna hijau.

Di dalamnya, terselip selembar kertas tebal berlaminating yang sudah agak menguning. Jantung Fay berdesir pelan saat matanya membaca tulisan yang tertera di sana: “Ijazah Madrasah Aliyah.”

Bukan ijazah biasa, melainkan sebuah prasasti pengantar menuju babak kehidupan yang ia yakini akan cemerlang. Jemarinya mengusap meneliti setiap nilai yang telah ia peroleh dari hasil kerja kerasnya, dan seketika, benang memori terbentang jauh ke belakang, ke masa remajanya yang penuh keyakinan dan menjadi penentu langkah awal kesuksesannya.

~Flashback~

Lampu kamar Fay menyala terang. Di atas kasurnya, ia duduk bersila, matanya terpaku pada layar handphone yang memancarkan cahaya abu-abu terang. Dengan memegang erat handphonenya ia mondar mandir di dalam rumah. Jantungnya berdebar kencang, menanti detik-detik krusial yang menentukan masa depannya.

Hari Sabtu ini, adalah hari pengumuman hasil seleksi masuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) unggulan dan tersohor, MAN 1, sekolah favorit berbasis keagamaan yang diidam-idamkan banyak siswa berprestasi. Fay telah berjuang keras, mengikuti seleksi ketat jalur undangan khusus siswa berprestasi dan bersaing dengan berbagai siswa dari sekolah-sekolah unggulan.

Pukul 16.00 WIB. Tepat waktu. Fay menggerakkan jarinya, memasukkan nomor peserta dan kata kunci, lalu menekan tombol “Cek Hasil.”

Layar berubah. Ada lambang sekolah dan di bawahnya, tulisan tebal berwarna hijau:

“SELAMAT! Anda dinyatakan LULUS dan DITERIMA di MAN 1.”

Fay terlonjak! Mulutnya menganga, lalu ia menjerit tertahan, saking senangnya.

“Yesss! Aku diterima, Bu! Yah!” teriaknya sambil berlari menuju ruang tamu, memeluk Ayah dan Ibunya yang sedang menonton televisi.

“Ada apa, Nak? Suara kamu sampai ke ruang keluarga,” tanya Ibunya, Bu Rina, terkejut.

“Aku lolos, Bu! Yah! Aku diterima di MAN 1! Sekolah impianku!” Fay menunjukkan layar handphonenya dengan wajah berseri-seri, matanya berkaca-kaca haru dan tak henti-hentinya berucap rasa syukur.

Ayahnya, Pak Fatih, tersenyum tipis. Senyum bangga yang terselubung kesedihan.

“Selamat, Nak. Ayah bangga,” ujar Pak Fatih, mengusap kepala putrinya.

Bu Rina ikut tersenyum, tapi senyum itu segera luntur digantikan raut cemas. Ia menarik Fay untuk duduk di sofa.

“Nak, Ayahmu sudah cerita tentang ini…” Bu Rina menatap suaminya sejenak, lalu kembali menatap Fay. “Soal biaya, Nak. Biaya masuk di sekolah unggulan itu… angkanya cukup besar dan harus segera dibayarkan agar posisimu tidak tergeser. Sementara tabungan kita… belum cukup.”

Hati Fay langsung mencelos. Kembang api sukacita yang baru saja meletup di dadanya, kini meredup perlahan.

“Maksud Ibu… aku tidak bisa sekolah di sana?” tanya Fay, suaranya tercekat.

Pak Fatih mengambil alih, ia menghela napas panjang. “Bukan tidak bisa, Nak. Tapi… Ayah harus berutang dalam jumlah besar dan itu akan memberatkan kita dalam waktu lama. Ayah ingin kamu sekolah yang terbaik, sungguh. Tapi Ayah juga harus realistis.”

Fay terdiam. Ia memandang wajah kedua orang tuanya. Raut lelah dan khawatir tak bisa disembunyikan. Fay adalah anak yang memiliki empati tinggi. Melihat beban di pundak Ayah dan Ibunya jauh lebih menyakitkan daripada melepas mimpinya sendiri.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengangguk, dan memaksakan seulas senyum paling tulus yang ia miliki.

“Tidak apa-apa, Yah, Bu. Kalau begitu, aku tidak akan sekolah di sana,” kata Fay dengan suara tenang, mengejutkan kedua orang tuanya.

“Tapi, Nak, itu sekolah impianmu,” ucap Bu Rina, merasa bersalah.

“Impianku yang sebenarnya adalah melihat Ayah dan Ibu tenang. Sekolah favorit bukan satu-satunya jalan untuk sukses,” ujar Fay sambil menggenggam tangan Ibunya. “Tolong carikan aku sekolah terbaik yang biayanya tidak sampai membebani. Di mana pun itu, aku akan tetap belajar keras.”

Pak Fatih dan Bu Rina terharu mendengar ketulusan putrinya. Pak Fatih memeluk Fay erat.

“Kamu anak yang luar biasa, Nak. Ayah janji, kamu akan tetap sekolah di tempat yang baik,” janji Pak Fatih.

Akhirnya, Fay masuk ke salah satu Madrsasha Aliyah swasta yang letaknya cukup jauh dari rumah dan ia juga memutuskan untuk mengemban ilmu di penjara suci yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari sekolah formalnya, dengan biaya yang cukup terjangkau.

Di sana, ia tetap menjadi siswi dan santri cemerlang, memegang janji untuk tidak mengecewakan pengorbanan orang tuanya, terbukti beberapa kali ia berhasil meraih piala menjadi seorang juara kelas. Fay fokus menyelesaikan pendidikan formal dan non formalnya selama 3 tahun. Ia memiliki keyakinan baru: menjadi seorang anak yang tawadhu’, meyakini bahwa apapun yang menjadi takdir Allah SWT akan membawa hidupnya pada kestabilan dan kemandirian.

~Kembali ke masa kini~

Fay meletakkan ijazah Madrasah Aliyah lamanya itu kembali ke dalam map. Ia tersenyum, bukan senyum penyesalan, melainkan senyum puas hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam. Ia berhasil. Ia meraih kestabilan itu. Keputusan masa lalunya untuk mengikhlaskan sekolah impian demi meringankan beban orang tua, seolah menjadi pondasi spiritual yang kokoh dalam hidupnya.

Ia memandang keluar jendela, melihat langit sore yang jingga.

“Terima kasih, Fay kecil,” bisiknya pelan, “Kesuksesan sejati bukan hanya tentang kecerdasan, tapi tentang restu orang tua,” bisiknya pada diri sendiri.

Ainin Nadhifa, Guru Pendidikan Agama Islam di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu

Back To Top