Mengapa Tuhan Cuma satu

Mengapa Allah Cuma Satu?

Spread the love

Bayangkan jika Tuhan ada dua, atau bahkan lebih. Kelihatannya menarik, lebih seru, dan asik. Bisa bagi jobdesk antar Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lain, pekerjaan akan menjadi lebih ringan. Apalagi mengatur seluruh isi dunia, alam semesta.

Tapi tahukah, hal itu justru awal mula kehancuran dunia. Karena setiap Tuhan memiliki visi dan misi masing-masing terhadap penciptaannya. Punya pemikiran masing-masing yang teguh pendirian dan tidak bisa diganggu gugat.

Menjadi pemimpin seluruh alam semesta, itu hal yang sangat berat. Mengatur segalanya, makhluk hidup sangat banyak, mulai manusia, hewan, dan tumbuhan. Dari manusia itu sendiri banyak macamnya, ada lansia, dewasa, remaja, anak kecil, bayi, janin, bahkan ketika masih dalam penipuan ruh. Hewan sendiri juga banyak macamnya, banyak jenisnya, ada hewan peliharaan dan yang liar juga, yang berbeda pula cara merawatnya. Hewan yang sama sekali tak tampak mata, seperti plankton. Tumbuhan juga sangat banyak yang tidak bisa satu persatu disebutkan disini.

Pemimpin yang otoriter harus benar-benar siap memimpin. Allah itu Tuhan, Tuhan diatas segalanya, maka berhak otoriter. Dan ke otoriteran Tuhan sesuai apa yang telah dijanjikan.

Sebagaimana surah Yasin ayat 38 berikut ini:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Wasy syamsu tajrii limustaqarril lahaa dzaalika taqdiirul ‘azizil ‘aliim.

Artinya:

(38) Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Allah selalu melaksanakan apa yang ada dalam ketetapannya. Bayangkan saja jika Allah lalai, jika Allah pelupa. Matahari telat dua menit saja sudah hancur dunia.

Maka jika dalam sebuah masyarakat, memiliki dua pemimpin yang berbeda konsep, pasti akan hancur. Masing-masing teguh pendirian dengan visi dan misinya. Dengan memberikan alasan logis dan praktis, namun hanya sebatas angan-angan dan rencana semata, belum juga terlaksana. Tidak menerima pendapat satu sama lain, ya bisa dibilang “WONG ATOS“.

Menyalahkan satu sama lain bahwa pemimpin yang satu dengan lainnya tidak bisa diatur. Tidak sadar diri bahwa dirinya pun aslinya juga tidak bisa diatur.

Jadi pemimpin harus sabar, sabar menghadapi segala resiko. Tidak semua ekspektasi pemimpin terpenuhi oleh anggota, toh masing-masing individu berbeda. Siapkah jadi seorang pemimpin untuk menerima semua konsekuensi tersebut? Padahal hanya lingkup masyarakat.

Allah saja tidak pernah mengeluh atau bahkan protes ketika hambanya tidak melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, padahal Allah mengurusi seluruh masyarakat di dunia, bukan masyarakat lingkup kecil. Nyatanya banyak hamba yang bermaksiat, parahnya lagi musyrik, menyembah selain Allah. Tetapi Allah masih tetap memberikan oksigen hamba tersebut agar tetap hidup, masih diberi makan dan minum, dan masih diberi rasa tidur yang nyenyak pula.

Yah, itu Allah, Tuhan semesta alam. Meskipun otoriter tetap memberikan segalanya yang dibutuhkan hamba. Bukan otoriter karena nafsu dunia semata.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyyatihi.

Artinya :

Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban. (HR Imam Bukhari)

Jadi pemimpin juga harus siap dipimpin. Jangan bisanya cuma nyuruh-nyuruh doang. Karena “satu tidak akan bisa menjadi seribu tanpa satu”. Percuma ada pemimpin doang tapi tidak ada anggotanya, ya tidak ada yang dipimpin. Mau memimpin cenayang? Jadi pemimpin juga harus sabar, semua itu ada prosesnya, tidak bisa instan. Semua tidak bisa dipaksa, tapi dituntun, lambat laun bakal ada hasilnya kok. Istilahnya kalau di Jawa “Alon-alon asal kelakon”.

Jangan merasa sendiri, kita semua tim. Semua yang berat akan terasa ringan jika dijalankan bersama, sebagaimana surah al-Baqarah ayat 286:

لا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā

Artinya:

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.

Allah saja menciptakan sesuatu pasti berproses. Proses penciptaan manusia sampai menjadi kita saat ini juga nggak sat set gitu aja.

Mengandung butuh waktu sembilan bulan. Setelah melahirkan, apa ya bayi langsung bisa berbicara? Langsung bisa makan sendiri? Langsung lari-lari? Semua butuh proses, bahkan di titik umur kalian sekarang, belasan tahun bahkan puluhan, itu bukan waktu yang singkat. Masa cuma satu periode aja ngeluhnya Masyaallah?

Betapa hancurnya dunia jika ada Tuhan periode sekarang dan periode lampau. Tuhan periode lampau menyuruh Tuhan periode baru mengatur dengan kurikulumnya. Sedang Tuhan periode baru memiliki konsep sendiri dalam periodenya. Kedua Tuhan sama-sama merasa memiliki kuasa. Sesimpel peredaran matahari aja masa tengkar? Tuhan yang satu menginginkan sekarang malam, Tuhan yang satunya lagi pingin cepat-cepat siang. Bingung dong kita sebagai hamba, ngeri. Itulah alasan mengapa Allah cuma satu.

Selain donatur dilarang ngatur!

Lantas, Allah memberikan segalanya untukmu kenapa nggak mau diatur?

Zid-li Auliyana Luthfillah, Kota Malang Jawa Timur, akun media sosial: @znays_cr, @zaed.lyy

Back To Top