Beberapa pekan terakhir, saya merasa kehilangan semangat untuk melakukan apa pun. Pekerjaan yang biasanya saya jalani dengan antusias kini terasa hambar. Rutinitas yang dulu saya nikmati kini seperti beban yang berat.
Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, tetapi rasa malas itu datang begitu saja, tanpa permisi. Seolah semua hal di sekitar saya tidak penting, tidak mendesak untuk diselesaikan. Pertanyaan seperti “untuk apa semua ini?” atau “apa gunanya saya melakukan hal-hal ini?” tiba-tiba sering muncul di kepala tanpa menemukan jawaban.
Mungkin suasana alam turut berperan, karena beberapa pekan terakhir hujan turun hampir setiap hari. Cuaca yang seperti ini seakan menyelimuti semangat hingga membuat saya enggan bergerak. Anehnya, bukan hanya saya yang merasa begitu. Beberapa teman pun mengeluhkan hal yang sama — malas bekerja, malas berpikir, bahkan malas peduli terhadap berita dan isu-isu yang berseliweran di media sosial.
Baik berbincang melalui telepon atau bertemu di warung kopi, obrolan kami akhir-akhir ini tidak jauh-jauh dari keluh kesah soal keadaan yang entah mengapa terasa semakin absurd. “Ahh sudahlah,” begitu biasanya percakapan kami berakhir. Kalimat pendek itu seperti simpulan dari perasaan jenuh yang menumpuk. Antara realitas hidup sehari-hari yang semakin menekan dan ucapan-ucapan para elite yang terasa jauh dari kenyataan, kami sering kali hanya bisa menggeleng dan berkata, “apa sih?”
Demotivasi ini ibarat kabut. Ia datang perlahan, menutupi pandangan tanpa kita sadari. Tahu-tahu, kita sudah kehilangan arah. Ingin bergerak, tapi tidak tahu ke mana. Ingin bersemangat, tapi tidak tahu untuk apa. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dikerjakan, tetapi semuanya terasa tidak berarti. Bukan karena tidak penting, melainkan karena hati dan pikiran sedang tidak berada di tempat yang sama.
Saya menyadari, keadaan seperti ini bisa menimpa siapa saja. Mungkin tubuh butuh istirahat dan pikiran butuh jeda. Kita sering memaksa diri untuk terus produktif, seolah berhenti sejenak adalah kesalahan. Padahal, mungkin diam dan merenung sambil menyeduh kopi adalah bagian dari proses untuk menemukan kembali arah.
Menulis kolom rutin hari Selasa ini sebenarnya sempat ingin saya lewatkan. Otak rasanya tidak sinkron, ide berlarian tanpa bentuk. Tapi entah bagaimana, ketika saya mulai menuliskan keluh kesah ini, kata demi kata justru mengalir. Mungkin ini caranya semesta menolong saya: memberi ruang untuk menumpahkan segala kemalasan agar tak menumpuk di dada. Curhat kecil ini ternyata berubah menjadi tulisan yang utuh.
Alhamdulillah, setidaknya saya tidak absen menulis minggu ini. Meski bukan tulisan yang sarat makna atau inspiratif, tapi ia jujur. Jujur menggambarkan perasaan saya dan mungkin banyak orang lainnya yang sedang merasa sama. Mungkin inilah langkah kecil untuk bangkit — bukan dengan memaksa berlari, tetapi cukup dengan mengakui bahwa kita sedang lelah. Karena dari pengakuan itu, biasanya semangat pelan-pelan akan menemukan jalannya.
Eri Hendro Kusuma, tinggal di Kota Batu Jawa Timur

