Ketika Peduli Menjadi Cara Orang Melukai

Spread the love

Aku dulu menolong siapa pun yang menangis,
mengira setiap air mata lahir dari hati yang tulus,
padahal sebagian hanya sandiwara halus
untuk memancing rasa iba yang bisa dijual murah.

Aku pernah jadi bahu tempat bersandar,
sampai bahuku sendiri retak tanpa suara,
karena menanggung beban yang bahkan bukan milikku,
sementara tak ada satu pun yang bertanya,
“kau baik-baik saja?”

Aku percaya,
kebaikan akan berbalas kebaikan.
Tapi ternyata, di dunia yang sibuk berpura-pura,
yang tulus sering kalah oleh yang pandai berpura.

Maka kini aku belajar diam.
Bukan karena hatiku membatu,
melainkan karena aku muak jadi korban rasa iba sendiri.
Aku menutup pintu bukan untuk membenci,
tapi untuk menjaga sisa tenang yang masih tersisa di dalam diri.

Biarlah mereka berkata aku dingin,
aku hanya sedang melindungi hangatku sendiri.
Sebab peduli tak selalu berarti menyelamatkan,
kadang justru berarti membiarkan diri pulih dari luka yang diciptakan oleh kebaikan.

Dr. Rahma Wahyu, S.Pd., M.Pd
Dosen Magister Pendidikan Matematika
Universitas Wisnuwardhana Malang

Back To Top