Retak dalam Letak ~ Puisi-Puisi Lalik Kongkar
Subuh dijadikan tabu dalam lelap serak
Netra kosong di atas ranjang berderak
Rambut tergelar berantak
Tak peduli pada malaikat yang bersorak
Subuh dijadikan tabu dalam lelap serak
Netra kosong di atas ranjang berderak
Rambut tergelar berantak
Tak peduli pada malaikat yang bersorak
Satu bulan yang lalu, proposal lamaran Rohman akhirnya diapproval oleh Jeng Siti. Bukan proposal yang memakai kop surat atau tanda tangan digital seperti orang kantor, melainkan proposal sederhana yang ditulis oleh jantung yang berdebar seperti drum ronda tengah malam. Hujan baru saja reda. Jalan tanah yang menuju warung masih licin dan penuh lubang. Beberapa genangan…
Dulu mereka adalah guru dan murid di SMAN 2 Batu sekitar 20 tahun lalu. Sekarang kembali terhubung lewat balas-balasan pantun di WhatsApp setiap sahur. Hampir setiap hari tidak ada jeda, selalu ada pantun yang dikirim dan dibalas. Dari yang lucu, santai, sampai yang sedikit berisi nasihat, semua mengalir begitu saja tanpa harus direncanakan.
Maret bukan sekadar bulan bagi kami. Ia adalah rumah bagi memori dan masa depan yang berjalan berdampingan.
Pada awalnya, saya bukan orang yang menyukai kegiatan menulis, mengarang, maupun bercerita, bahkan sejak berada di bangku sekolah dasar. Ketika guru memberi tugas mengarang cerita, saya hampir selalu menuliskan kisah yang sama berulang kali.
sebelum terlalu jauh menunjuk ke luar, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah sikap anti-kritik hanya terdapat dalam ruang-ruang kekuasaan yang besar, atau justru tumbuh dari ruang yang paling dekat dengan kita?
Banyak orang hari ini ingin khusyuk ibadah… tapi dihantui pesan masuk: “Pak/Bu, kapan pembayarannya? Ini sudah akhir bulan”
Fenomena “bergiliran pulang” ini seolah tanpa jeda untuk benar-benar memulihkan perasaan. Setiap takziyah menghadirkan percakapan yang serupa, serta doa yang terus diulang dengan harapan menjadi penenang bagi yang ditinggalkan. Di tengah rutinitas hidup yang tetap berjalan, ada hal yang sulit dijelaskan. Yang jelas, hidup memang berjalan berdampingan dengan kehilangan.
Malam itu, tangisku makin jadi. Bukan hanya soal tempat. Tapi soal diri sendiri. Aku bukan orang
yang mudah bersosialisasi. Sekadar berkenalan saja sering terasa canggung, apalagi harus tinggal
bersama orang-orang yang sebelumnya asing selama 40 hari.
Suara Bapak di telepon itu akhirnya menjadi suara terakhir yang saya dengar, sekaligus yang akan saya ingat selamanya, ya selamanya. Meskipun Bapak telah tiada, akan tetapi memori tentang Beliau akan selalu ada. Kalaupun telepon itu adalah komunikasi terakhir kita, akan tetapi panjatan doa akan terus menjadi jembatan komunikasi untuk sekadar menyapa dan melepas rindu.