Media menerima opini

Ridho yang Tersembunyi

Spread the love

Setiap orang punya impian yang ingin ia gapai. Baik itu kebutuhan, keinginan, atau bahkan obsesi. Masing-masing individu memiliki berbagai cara untuk menggapainya.

Lalu, bagaimana jika apa yang kamu impikan tidak sejalan dengan ridho orang tuamu? Di sinilah letak seorang pemimpi diuji. Yaah… salah satunya aku sendiri.

Aku adalah seorang yang punya banyak sekali impian. Tapi apa gunanya semua impian itu jika orang tuaku saja tidak meridhoi? Dulu  aku sering bertanya dalam hati: “Kenapa? apa salahnya dengan impianku? apa aku tidak boleh merasakan bagaimana rasanya mimpiku tercapai? apa aku tidak pantas menggapainya?”

Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai mengetahui hikmah dari itu semua.

Kisah bermula, ketika aku mengabdi di salah satu pondok modern di Madura. Saat itu aku sedang mencari informasi tentang kuliah negeri.

Aku pun menemukannya. Sebelum mendaftarkan diri, aku meminta izin terlebih dahulu kepada ibuku. Ibuku diam sebentar, lalu mengiyakan. Aku menganggap jawaban itu sebagai tanda ridho darinya.

Selanjutnya, aku meminta izin kepada ayahku. Beliau sangat senang, bahkan terlihat lebih bersemangat dariku. Namun, ada satu syarat yang harus aku gapai, yakni mendapat beasiswa. “It’s okay,” jawabku mantap.

Aku pun mulai mendaftar beasiswa Jawa Timur (LPPD) ke Kairo, Mesir, bersama tiga temanku. Namun, takdir berkata lain. Aku kesulitan menjawab ujian tes dan akhirnya tidak lulus. Lain halnya dengan kedua temanku, mereka lolos ke tahap selanjutnya.

Aku mencoba menerima. Mereka memang lebih pintar dariku. Peringkat mereka lebih tinggi. Tapi jauh di dalam hati, aku tetap kecewa. “Kenapa mereka bisa masuk, sementara aku tidak?” batinku. Walau begitu, aku tidak pernah membenci mereka. Aku tetap mendukung mereka sepenuh hati, meskipun hatiku perih. Nyesek? Banget. Apalagi aku yang sempat membantu mereka, tapi justru aku yang gagal.

Di tengah kekecewaan itu, impianku belum pupus. Aku masih ingin terus berjuang dan mengutarakan niatku kepada ayahku, dan beliau setuju. Tapi, beliau memberitahuku sesuatu yang membuat hatiku goyah, ibuku tidak benar-benar meridhoi.

Aku tak percaya. Padahal sebelumnya beliau sudah mengizinkan. Aku pun memastikan lagi dengan menghubungi beliau, dan kembali mendapat jawaban yang sama: “Iya.” Tanpa berpikir panjang, aku mendaftar beasiswa Kemenag bersama enam temanku, dengan restu ayah.

Namun, lagi-lagi takdir tidak berpihak padaku. Aku gagal. Dan yang membuatku sangat kecewa, empat dari temanku lolos. Padahal peringkat mereka di bawahku. “Lalu kenapa aku tidak?” Tangisan pun tak lagi bisa kubendung. Aku menangis, tak tahu harus menyalahkan siapa.

Sampai akhirnya salah satu temanku menenangkanku, katanya,

“Ingat! Kamu itu kuat. Seandainya orang lain, mungkin mereka tidak akan sekuat kamu.”

Kata-kata itu menenangkan hatiku. Aku mulai perlahan menerima, meski rasa lelah tak bisa disembunyikan.

Tapi anehnya, setelah jatuh berkali-kali, semangatku untuk kuliah di luar negeri belum juga padam. Setelah selesai masa pengabdian, aku melanjutkan kursus di pondok sepupuku. Katanya, di sana ada pembelajaran khusus bagi calon mahasiswa yang ingin ke Mesir.

Namun, kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan. Kursus khusus itu sudah tidak ada. Aku telat masuk. Kecewa? Jangan ditanya. Aku langsung menelpon sepupuku dan menceritakan semuanya.

Beliau menasihatiku, “Ibumu mungkin mengiyakan impianmu, tapi ada sesuatu yang berat di dalam hatinya. Itulah yang membuatmu terus gagal menggapai impianmu.”

Lalu ia menambahkan, “Sebaliknya, lihat ketika kamu daftar di Indonesia, di UIN Malang. Sangat mudah, bukan? Karena disitu ibumu benar-benar ridho. Aku juga pernah merasakan berada di posisimu. Kecewa? Iya. Tapi itulah yang diridhoi oleh ibumu.”

Dari sini aku mendapat pelajaran berharga. Orang tua sangat berat menolak impian anaknya. Di depan kita, mereka mungkin tampak mendukung, tapi dalam hatinya ada beban yang tak terucap.

Aku menangis kala itu. Aku benar-benar ingin marah. Aku sudah berjuang sekuat tenaga, tapi pada akhirnya, orang tuaku tidak ridho, dan aku pun gagal. Namun, setelah tangis reda, aku mulai merenungi semuanya.

Banyak hikmah dan kebaikan yang akhirnya kutemukan. Salah satunya, aku pernah wawancara dengan seorang syekh dari luar negeri. Seandainya aku tidak pernah mencoba mendaftar kuliah ke Mesir, mungkin aku tidak akan pernah merasakan pengalaman itu.

Namun, perjalanan ini belum berakhir. Setelah berbincang dengan sepupuku, aku mulai menata ulang hidupku dengan lebih baik. Aku menerima kenyataan bahwa aku kuliah di Indonesia, di UIN Malang. Dan di sinilah aku menemukan begitu banyak kebaikan, teman-teman yang selalu ada, ilmu baru tentang dunia “per-laptop-an” yang belum pernah kuketahui, serta dunia kepenulisan yang membuka wawasanku. Banyak hal baik yang tak bisa kusebutkan satu per satu.

Kini aku percaya, bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup pasti memiliki hikmah luar biasa, bahkan dalam hal yang paling mengecewakan sekalipun. Kadang, apa yang tidak kita dapatkan bukan berarti buruk. Tapi, bisa jadi itulah jalan terbaik yang diridhoi oleh orang tua dan direstui oleh Allah.

Arina Fitriya Azhari, Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang. Ig: rien-riyaaz30.

Back To Top