Sekitar bulan Oktober tahun lalu, sebuah pesan WhatsApp dari sahabatku, yang tak lain adalah pemimpin redaksi media setitik.id ini masuk ke ponselku. Pak Eri menanyakan nama yang cocok untuk sebuah kanal tulisan yang santai. Saat itu aku belum tahu apa lagi gebrakan yang akan dibuat orang ini. Yang aku tahu ia adalah sosok yang selalu bersemangat untuk membuat sesuatu yang baru, terutama dalam dunia literasi. Ia adalah pegiat literasi yang sudah terbiasa menggerakkan banyak orang, dan aku salah satunya.
Kembali ke pesan WhatsApp kala itu. Ide demi ide muncul, tapi sayangnya, hampir semua nama yang kami suka ternyata sudah digunakan. Setiap kali kami menemukan nama yang menurut kami bagus, kami langsung mencari di internet dan akhirnya mendapati bahwa nama tersebut sudah terpakai. Hingga beberapa hari kemudian, Pak Eri mengirimkan sebuah kabar yang menggembirakan. Ia telah menemukan nama yang tepat, setitik.
Aku langsung tersenyum membaca pesannya. “Bagus,” kataku. Nama yang singkat dan sederhana, tetapi punya makna ganda. Setitik bisa berarti tanda baca di akhir kalimat, yang justru menjadi awal sebuah kalimat baru. Dalam bahasa Jawa, setitik berarti sedikit. Dari yang sedikit, harapannya bisa berkembang, menyebarkan manfaat yang lebih banyak, dan memberikan ruang bagi lebih banyak suara untuk berbicara.
Hari itu adalah awal dari perjalanan panjang setitik.id. Aku diberi kepercayaan oleh Pak Eri untuk menjadi wakil redaksi sekaligus editor karya fiksi. Tentu kuterima dengan senang hati. Seperti yang bisa dibayangkan, di awal-awal perjalanan, tugas mengedit tulisan terasa sangat berat. Kami mulai dari nol, dengan tulisan yang datang dari berbagai pengirim, dari yang sudah berpengalaman hingga yang masih belajar. Pekerjaan kami bukan hanya menyunting, tetapi sering kali merombak hampir seluruh isi cerita.
Namun, seiring berjalannya waktu, setitik.id semakin dikenal. Tidak hanya di kalangan teman-teman yang sudah aktif menulis, tapi juga mulai dilirik oleh banyak mahasiswa dan penulis muda. Tulisan-tulisan yang masuk semakin matang dan terstruktur. Dari yang awalnya penuh dengan rombakan besar, kini pekerjaan kami sebagai editor lebih banyak memperbaiki tanda baca, memilih kata-kata yang lebih tepat, atau menyusun kalimat agar lebih mengalir.
Kini, setelah setahun berjalan, setitik.id merayakan ulang tahunnya yang pertama pada 4 November. Rasanya, perjalanan ini begitu cepat berlalu. Setitik, yang dulunya hanya sekadar nama, kini telah menjadi rumah bagi banyak penulis dan pembaca yang ingin berbagi cerita, berbagi ilmu, dan semangat. Kanal ini telah berhasil membuktikan bahwa sedikit saja bisa berkembang menjadi sesuatu yang besar dan penuh arti.
Di tengah segala kesibukan dan tantangan yang ada, aku merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan ini. Setitik.id bukan hanya sekadar kanal tulisan. Ia adalah ruang bagi mereka yang ingin menulis tanpa rasa takut, tempat bagi mereka yang ingin belajar dan berkembang bersama. Semoga, setitik terus memberi manfaat, tumbuh, dan memberi makna bagi siapa pun yang mencintai dunia literasi. Selamat ulang tahun. Panjang umur, setitik.id
Deni Iska Dian Nita, Wakil Pemimpin Redaksi Setitik.id

