Meja Sekolah. pngtree.com
Spread the love

Keheningan suasana sekolah tiba-tiba berubah setelah terdengar suara bel istirahat. Para siswa keluar kelas dengan berbagai macam aktivitasnya. Ada yang langsung ke lapangan untuk bermain bola, ada yang jajan di kantin, ada yang makan bekal yang dibawahnya dari rumah, dan sebagian hanya duduk-duduk santai di kursi taman sekolah. Dari kejauhan tampak seorang guru yang sedang asik mengamati berbagai macam aktivitas siswa saat jam istirahat berlangsung.

Guru tersebut bernama Danar, seorang guru Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah itu. Danar adalah sosok guru yang tidak terlalu tampan tapi cool, tegas, dan disiplin. Sehingga tak heran jika banyak siswa yang tidak begitu suka dengan sosok guru Danar. Ketika berada di kelas, hampir tidak ada siswa yang berani untuk bercanda saat jam pelajarannya berlangsung. Yang jelas bisa kena “amukan” hebat ketika ada siswa yang tidak serius saat di kelas. Meskipun demikian tidak selamanya suasana kelas selalu tegang, karena pembawaan saat mengajar juga santai dan konyol. Hanya saja karena image yang terbangun adalah “sangar”, maka alam bawah sadar kebanyakan siswa merasa tegang cenderung membosankan.

Suasana sekolah saat itu sangat ramai dengan canda gurau para siswa, tapi yang nampak hanyalah satu. Hanya ada satu di antara ratusan siswa yang tersorot mata Danar. Seorang siswi mungil nampak berdiri dan tersenyum di bawah pohon trembesi, sambil sesekali makan cilok yang tengah dibawahnya. Namanya Safa. Ia adalah sosok siswi cantik tapi lucu karena kepolosannya. Di balik sifatnya yang polos sebenarnya ia memiliki ketangguhan. Itulah yang menjadi daya tarik terhadap seorang Safa.

Selama ini sikap yang dirasakan oleh Safa kepada sosok guru Danar berbeda dengan teman satu kelasnya. Ia merasakan sudut pandang yang berbeda dari sosok Danar. Ada hal lain yang membuatnya merasa tertarik pada sosok itu. Entah itu memang atas dasar logika atau perasaan saja, tapi yang jelas Safa memandang sosok berbeda dari seorang Danar.

Pandangan lain Safa itu mungkin juga dirasakan oleh Danar. Beberapa kali Danar melihat tingkah laku aneh Safa kepadanya. Curi-curi pandang dan tersenyum manis saat ketahuan, menjadi pertanda ada sesuatu yang tak biasa. Tak mau spekulasi yang terlalu jauh, Danar pun menganggap bahwa itu hanyalah sekedar perasaan yang tak berdasar.

Selain karena Danar memiliki selisih usia yang cukup jauh dengan Safa, ia juga sudah memiliki seorang kekasih yang sebentar lagi akan dipinangnya. Jadi, tidak mungkin itu akan terjadi. “Halusinasi”, adalah kata yang selalu diucapkan Danar dalam hati untuk menenangkan serta meluruskan rasa dan pikirannya. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika dalam hati kecilnya sedang kacau dan penasaran. Dalam hatinya selalu dibayangi pertanyaan, “Apa iya?”

Apalagi di beberapa candaan sahabat-sahabat Safa, Danar sering mendengar “kode-kode” yang menjurus ke arah yang semakin menggodanya untuk mencari tahu. Lagi-lagi dengan akal sehatnya Danar menenangkan hatinya dengan pernyataan hiburan semacam, “Ah kepedean saja deh aku”, “mana mungkin?”, “Sudahlah fokus kerjaan”, dan lain-lain.

Tapi lama kelamaan, hati dan perasaan Danar pun runtuh juga. Secara tidak sadar ia selalu memperhatikan tingkah dari Safa saat berkegiatan maupun di dalam kelas. Ini yang semakin membuat perasaannya harus terbagi pada sesuatu yang dianggapnya mustahil. Apalagi Safa sekarang juga sangat sering merespon dengan tindakan-tindakan yang mengundang salah tingkah.

Safa semakin berani untuk melontarkan senyum manisnya di hadapan Danar. Jika sebelumnya ia selalu berpaling ketika ketahuan sedang memperhatikan Danar, maka sekarang dengan percaya diri ia langsung tersenyum malu dan manis ketika ketahuan oleh Danar. Tentu tindakan lucu itu semakin memporak porandakan hati kecil Danar. Sehingga sesekali ia harus memegang dada sambil berucap, “Ujian apalagi ini ya Tuhan?”.

Rasa rindu jika tidak bertemu juga mulai dirasakan oleh Danar. Sabtu-minggu menjadi dua hari yang hampa. Meskipun ia sedang jalan dengan kekasihnya, tapi hatinya terasa sepi. Ia merasa sikapnya begitu dingin dengan kekasihnya. Yang ada di hati dan pikirannya hanyalah Safa. Sesekali untuk mengatasi rindu ia scroll media sosialnya untuk mencari tahu aktivitas Safa. Sebenarnya ia merasa berdosa, apalagi itu dilakukan ketika tengah jalan bersama kekasihnya. Tapi, karena rindu yang tak terbendung itulah yang menyebabkan ia berbuat demikian.

Gejolak rasa terus dialami oleh Danar. Disatu sisi dia harus menjaga komitmen dengan kekasih yang sebentar lagi akan dipinangnya, di sisi lain ia tidak bisa membohongi perasaannya. Yang jelas pikiran dan hatinya sangat berantakan. Dalam pikirannya Danar sempat bergejolak, “tetap melanjutkan hubungan yang sudah terjalin tapi tanpa rasa, atau jujur saja dengan perasaannya yang sekarang hanya ada seorang Safa”.

Hari-hari Danar dilalui dengan hati yang tidak begitu nyaman. “Komitmen atau pergi?” Ucap Danar dalam hatinya berkali-kali. Ia sadar bahwa tidak bisa terus seperti ini. Sebagai seorang cowok dia harus dapat memutuskan. Meskipun bukan perkara yang mudah, tapi ini adalah resiko jika hidup itu adalah pilihan. Sehingga ia harus bisa memilih jalan terbaik untuk semuanya.

Kali ini Danar memiliki tugas baru. Ia harus segera memulihkan rasa yang hilang kepada kekasihnya. Ia juga harus segera menghilangkan rasa yang tumbuh subur kepada Safa. Bukan perkara mudah untuk mengembalikan rasa yang sudah terlanjur terbelah. Tapi, ia berkeyakinan jika hati itu bisa dikelola.

Hari-hari Danar pun terlihat sibuk untuk menata hati dan pikirannya. Ia harus segera memutuskan peristiwa ini dengan akal sehat. Sebenarnya ia sadar jika perasaan kepada Safa selama ini belum tentu sama dengan yang dirasakan oleh Safa. Tidak ada ungkapan maupun tindakan secara langsung dari keduanya. Dari situlah Danar memilih untuk merawat hati dan akal sehatnya. “Ah biarkan saja, hitung-hitung ini adalah bonus perasaan, asikin ajalah” ucap danar dalam hati kecilnya

Danar pun akhirnya membiarkan rasa yang berkembang bebas di pikirannya. Ia memilih asik dengan khayalan dan interaksi tanpa kata dan tindakan dengan Safa. Entah jalan yang dipilihnya itu dosa ataupun bukan, mungkin itu adalah jalan terbaik baginya. Tetap mengolah hati untuk pasangan yang sebentar lagi dipinangnya, tapi juga merawat perasaan dengan Safa. Pada titik terjauh sebenarnya Danar telah memilih menyerahkan semua pada kehendak takdir tentang apa yang akan terjadi di masa depannya.

Penulis : Eri Hendro Kusuma

Back To Top