Kirim Esai Ke Media di Bayar

JATUH CINTA YANG TAK PERNAH KURENCANAKAN

Spread the love

“Aneh banget sih sistem KKM ini. Kita disuruh bangun chemistry sama orang yang bahkan belum pernah ketemu, dalam waktu 40 hari.”

Kalimat itu keluar dari salah satu besti-ku, beberapa hari sebelum pelepasan KKM. Jujur saja, aku mengangguk, ikut menyetujui celetukannya.

Di kampusku, khususnya di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, KKM terbagi menjadi dua jalur: KKM mandiri dan KKM reguler. KKM mandiri memberi ruang lebih besar bagi mahasiswa untuk menentukan sendiri kelompok, lokasi, bahkan konsep pengabdian. Cukup fleksibel, lebih terencana, dan jujur saja lebih nyaman karena dijalani bersama orang-orang yang sudah akrab.

Beda lagi dengan KKM reguler, di sini kelompok dan lokasi akan ditentukan oleh kampus, mempertemukan kami dengan orang-orang baru, serta menuntut kesiapan beradaptasi sejak awal. Bayangan KKM di encephalon-ku terlihat berbeda jauh dari realitas yang ada. Apalagi saat kutahu
lokasi KKM kami hanya berjarak seujung langkah dari rata-rata lokasi KKM lainnya.

Bahkan dalam sebuah pertemuan, DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) sempat menyarankan kepada
kami agar pulang-pergi saja ke lokasi. Sementara diriku sendiri tak punya motor, “Apa harus nge-
grab
tiap pagi?” gumamku dalam hati.

Sehari sebelum pelepasan KKM, aku benar-benar berada di fase mengeluh, merengek, bahkan
sempat menangis di malam hari usai acara pelepasan. Rasanya itu campur aduk, antara takut
menghadapi hal baru, ragu juga pada kemampuanku sendiri, juga entah mengapa pikiranku terus
berputar tanpa henti. Padahal di dalam hati kecilku, entah sebelah mana telah meyakinkanku
bahwa, semua akan baik-baik saja, kok.

Namun, meski hatiku beberapa kali telah menguatkanku, aku berkali-kali masih mencari validasi dari
teman terdekatku: “Menurutmu, keputusan daftar KKM reguler ini sudah tepat belum, sih?” Hampir
setiap kali obrolan itu berujung pada penyesalan kecil yang kian mengendap dalam pikiranku.

Asal tahu saja, jauh sebelum ini, kami sebenarnya sempat merencanakan KKM mandiri bersama
teman-teman se-circle sejak awal semester. Sudah dibayangkan pasti akan lebih seru, nyaman,
“aman” pastinya, bukan?

Tapi entah bagaimana alur dan kejadian selanjutnya, tiba-tiba saja kami justru tetap mendaftar KKM
reguler.

Dan semakin dekat hari keberangkatan, kepalaku makin ramai oleh berbagai prasangka, tentang
lokasi, tentang chemistry kelompok, atau bahkan tentang hal-hal receh “Sepertinya di KKM-ku ini ga
bakal ada cerita cinlok, deh …”

Tempat penugasan kami? Pusat kota.

Dari sekian banyak kemungkinan, tempat penugasan kami justru berada di pusat kota.
Di kepalaku muncul banyak tanya. Emangnya program kerja apa yang cocok di tengah kota?
Sementara kelompok lain ditempatkan di kaki gunung, luar kota, atau daerah kabupaten yang terasa
lebih “menantang” dan jujur saja itu lebih sesuai dengan ekspektasi awalku.

Malam itu, tangisku makin jadi. Bukan hanya soal tempat. Tapi soal diri sendiri. Aku bukan orang
yang mudah bersosialisasi. Sekadar berkenalan saja sering terasa canggung, apalagi harus tinggal
bersama orang-orang yang sebelumnya asing selama 40 hari.

Namun, hari pertama membalikkan banyak prasangka. Bersama KKM 22, Kelompok KKM-ku, kami
ditawari oleh pihak yayasan – yang kebetulan warga lokal, untuk menginap di kantor KB-TK tempat
kami bertugas. Awalnya kami hanya asbun (asal bunyi) saat meminta izin menumpang. Tidak
berekspektasi lebih.

Tapi ternyata, ruangan berukuran 4×4 meter yang semula kubayangkan sempit, pengap, dan sunyi,
justru menjadi ruang yang hangat, penuh tawa, penuh cerita, saling saut-menyaut tanpa jeda.
Di sana, ada orang-orang yang bukan keluarga, tetapi memperlakukan kami seperti anak sendiri.
Memberikan tempat yang bukan rumah kami, namun terasa seperti rumah.

Dan soal prasangka receh-ku tentang “tidak akan ada cinlok” itu? Lagi-lagi hidup berjalan di luar
skenario. Ternyata aku tetap cinlok. Bukan pada satu orang, melainkan … Cinlok dengan teman-teman KKM yang awalnya terasa asing, cinlok dengan bapak-ibu guru KB-TK yang begitu tulus, cinlok dengan adik-adik yang sampai detik ini masih terasa menggemaskan untuk diingat, cinlok dengan warga sekitar yang kebaikannya sering kali sederhana, tapi membekas.

Tentu saja, kehidupan tidak pernah hanya berisi kesenangan. Ada dinamika. Ada gesekan. Ada yang
kalau boleh kusebut anomali KKM. Tentang anomali itu?

Biarlah menjadi rahasia kecil kami. Yang jelas, 40 hari itu mengajarkanku banyak hal. Tentang menerima ketidaknyamanan. Tentang memaksa diri keluar dari zona aman. Tentang percaya bahwa rencana Allah sering kali lebih baik dari bayangan kita sendiri. Lagi-lagi, aku sempat meragukan takdir-Nya. Padahal, Allah sudah begitu baik.

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah
yang terbaik untuknya.”

KKM 22 mungkin tidak sesuai ekspektasi awal. Tapi justru di sanalah letak ceritanya. Dan untuk penutup cerita ini. Semoga pulang-pulang kita tidak hanya membawa laporan akhir saja. Tetapi juga kenangan yang cukup untuk diceritakan bertahun-tahun ke depan. Kalau pun ada yang pulang dengan kisah baru yang lebih personal, yaaa… anggap saja itu bonus dari 40 hari kebersamaan. #izin

Aristya Luna R.U, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang, IG: @arstylunn

One thought on “JATUH CINTA YANG TAK PERNAH KURENCANAKAN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top