Spread the love


Perjalanan hidup saya dua bulan terakhir ini betul-betul membuat saya termenung. Saya tidak henti-hentinya untuk sering melamun, entah saat perjalanan atau saat sekadar duduk santai. Meskipun seringkali mendapat nasihat tentang larangan melamun, tapi bagi saya hal tersebut sangatlah manusiawi. Pikiran saya memang sedang terpacu pada sebuah pertanyaan, kapan manusia “pulang?” Pertanyaan itu selalu muncul karena dalam tempo yang tidak terlampau jauh, orang-orang terdekat pamit untuk undur diri dari dunia ini.

Dimulai ketika saya melakukan perjalanan ke Situbondo akhir tahun yang lalu, seorang senior, mentor, sekaligus sahabat untuk berdiskusi tentang “negeri”, pergi untuk melanjutkan perjalanan menuju alam berikutnya. Akhirnya saya harus kehilangan sosok sahabat dengan khas “misterius” dan gaya bicara yang khas ketika berbincang tersebut.

Belum sampai empat puluh hari meninggalnya seorang senior sekaligus sahabat, Bapak saya tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri. Sempat dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari, sebelum akhirnya juga pamit “pulang” untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah keabadian. Kali ini saya harus kehilangan sosok yang selama ini mengajarkan bagaimana menjadi anak laki-laki sejak alam pikiran ini mulai tumbuh dan melihat riuhnya dunia.

Tepat setelah empat puluh hari kehilangan seorang Bapak, kali ini saya harus kembali kehilangan seorang sahabat sekaligus adek. Rasanya masih kemarin dia menjadi orang yang sangat semangat untuk mengadakan Buka Bersama (Bukber). Sebuah agenda rutin setiap tahun di grup “rea-reo” kami yang hanya berisi beberapa alumni dari kampus saat kuliah dulu. Sekali lagi, saya harus kehilangan sosok yang sangat dekat dengan istri saya serta seorang perempuan yang memiliki jiwa “ngerti” dan “gupuh” khas masyarakat desa.

Sebenarnya masih banyak teman maupun tetangga yang dua bulan terakhir ini “bergiliran pulang”. Entah mengapa kejadian ini begitu banyak dan sangat cepat terjadi. Fenomena ini mengingatkan saya pada pandemi covid lima tahun yang lalu. Dimana saat itu saya juga harus kehilangan empat orang teman semasa SD.

Fenomena “bergiliran pulang” ini seolah tanpa jeda untuk benar-benar memulihkan perasaan. Setiap takziyah menghadirkan percakapan yang serupa, serta doa yang terus diulang dengan harapan menjadi penenang bagi yang ditinggalkan. Di tengah rutinitas hidup yang tetap berjalan, ada hal yang sulit dijelaskan. Yang jelas, hidup memang berjalan berdampingan dengan kehilangan.

Momen-momen itu juga menghadirkan refleksi yang lebih dalam tentang waktu. Hal-hal yang sebelumnya terasa bisa ditunda mendadak tampak begitu berharga seperti berbincang ringan dengan keluarga atau sekadar berkumpul tanpa alasan khusus dengan teman. Kehilangan membuat saya menyadari bahwa kebersamaan tidak selalu menunggu kesempatan yang sempurna. Justru dalam kesederhanaan sehari-hari, kenangan indah sering tercipta tanpa rencana dan wacana

Pada akhirnya, “bergiliran pulang” bukan hanya tentang kepergian, tetapi juga tentang bagaimana yang tinggal belajar melanjutkan kehidupan dengan lebih sadar dan penuh makna. Doa menjadi bahasa yang paling tulus ketika kata-kata terasa tidak cukup, sebab kita tidak akan pernah benar-benar tahu giliran siapa yang akan lebih dulu pulang.

Eri Hendro Kusuma
Pemimpin Redaksi Setitik.id

Back To Top