Bulan Maret menjadi bulan yang berbeda bagi kami. Ia bukan sekadar penanda musim yang berganti atau halaman kalender yang terlipat. Maret adalah ruang kenangan. Tempat waktu berdiam lebih lama dari biasanya.
Di bulan inilah kedua anak kami lahir.
Erika membuka pintu lebih dulu, pada 3 Maret. Lima tahun lalu. Disusul kakaknya, Erino, yang lebih dahulu hadir sepuluh tahun silam, tepat 10 Maret. Jarak usia mereka lima tahun persis, dan tanggal kelahirannya hanya selisih tujuh hari. Kadang saya membayangkan, mungkin Maret memang menyimpan ruang khusus untuk keluarga kecil kami.
Setiap kali kalender memasuki bulan ini, ingatan saya seperti dipanggil pulang. Pada ruang bersalin yang penuh harap. Pada tangis pertama yang terdengar. Pada wajah mungil yang terdiam saat dibisikan suara adzan. Pada rasa gugup yang bercampur syukur, ketika kehidupan kecil itu akhirnya benar-benar ada di pelukan.
Hal paling menyenangkan dari Maret bukan sekadar ulang tahun mereka. Tetapi memori yang menyertainya. Proses alami yang khas, yang hanya dimiliki Erino dan Erika. Cara mereka belajar berjalan dengan langkah goyah. Cara mereka menyebut kata pertama dengan lidah yang masih cadel. Cara mereka tertawa tanpa beban, seolah dunia memang diciptakan hanya untuk permainan.
Ada momen-momen yang jika diingat, bisa membuat kami tersenyum sendiri, bahkan tertawa terbahak-bahak. Tingkah mereka yang absurd, dialog polos yang tak terduga, pertanyaan-pertanyaan yang kadang lebih filosofis dari orang dewasa, sehingga sulit memberikan jawaban yang sesuai dengan usia berpikirnya.
Terlahir dari rahim dan benih yang sama. Namun karakter ketika mereka tumbuh seperti dua mata angin yang berbeda.
Erino, yang kini genap sepuluh tahun, mulai memiliki dunianya sendiri. Sejak kecil ia sudah kritis terhadap pikirannya sendiri. Ia tidak sekadar menerima, tapi mengolah. Setiap momen ditangkap dan harus dianalisis. Semakin ke sini, ketajaman berpikirnya terasa semakin jelas.
Tak jarang ia memberi “ceramah” kecil kepada kami jika menemukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia ketahui. Dengan wajah serius dan nada setengah dewasa, ia menyampaikan argumennya. Kadang saya dan istri hanya saling pandang, menahan tawa sekaligus bangga.
Namun, pikiran yang tumbuh itu juga membawa warna usil yang khas. Beberapa bulan lalu, ia sempat dipanggil gurunya karena menjadi koordinator “ngopi” teman-temannya. Sebenarnya nongkrong atau ngopi bukan perkara besar bagi saya. Saya tahu, bersosialisasi adalah bagian dari belajar hidup. Yang menjadi soal adalah waktunya. Ia mengajak teman-temannya ngopi saat jadwal ekstrakurikuler berlangsung, sehingga mereka tertinggal kegiatan.
Tentu saya tidak marah, karena sejak balita memang sudah sering saya ajak “ngopi”. Saya hanya mencoba mengajaknya berdiskusi. Menjelaskan tentang prioritas dan tanggung jawab. Dan di situlah saya melihat sisi lain dirinya: ia mendengar, mencerna, lalu mengakui. Sosok bijaksana itu pelan-pelan mulai tampak semakin jelas. Ia sedang belajar menjadi pemimpin, meski masih sering terpeleset pada pilihan-pilihan kecil.
Sementara itu, Erika tumbuh dengan karakter khas wanitanya. Ia ingin selalu diperhatikan. Tidak bisa ditegur dengan nada tinggi. Dan satu lagi, ia sering disebut “judes” oleh beberapa orang. Bukan hanya oleh saya.
Namun di balik wajah seriusnya, ada kepekaan yang lembut. Ia cepat menangkap perubahan suasana. Ia tahu kapan harus mendekat dan kapan harus diam. Detail dan rapi menjadi sisi yang semakin terasah. Tidak jarang kami justru mendapat komentar dan kritik darinya ketika ada hal yang kurang sesuai menurut versinya.
Kadang ia berdiri dengan melipat tangan, menyampaikan protes kecilnya dengan penuh percaya diri. Kami ingin tertawa, tetapi juga sadar: di sana sedang tumbuh keberanian, ketegasan, dan tentu sebuah perhatian.
Menyaksikan mereka tumbuh bagi saya seperti menjalani prinsip sederhana: every day is holiday. Setiap hari adalah liburan. Bukan karena kami selalu bepergian, tetapi karena tawa ringan selalu hadir saat kami berkumpul. Bahkan di hari yang melelahkan sekalipun, ada saja percakapan kecil yang membuat hati kembali lapang.
Namun, di sela-sela kebahagiaan itu, kadang muncul rasa takut yang diam-diam lewat di alam pikiran begitu saja. Takut suatu hari nanti saya tak lagi menyaksikan tingkah lucu absurd mereka. Takut masa polos itu berlalu begitu saja, digantikan oleh keseriusan dunia yang tak jarang menjadi sangat kejam terhadap kehidupan.
Erino yang kini mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Erika yang perlahan belajar menyembunyikan perasaannya. Membuat kami sadar jika waktu memang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia bergerak, dan kami hanya bisa berjalan bersamanya.
Menjadi orang tua barangkali adalah tentang belajar merelakan setiap fase. Merelakan bayi yang tak lagi minta digendong. Merelakan anak kecil yang tak lagi bercerita semua hal. Dan suatu hari nanti, mungkin merelakan mereka yang memilih jalan hidupnya sendiri.
Oh ya, Maret ternyata tidak hanya menyimpan tanggal kelahiran mereka. Di bulan ini pula awal kami menjalin kasih. Di bulan ini juga tanggal pernikahan kami tercatat. Seolah-olah Maret adalah simpul-simpul penting yang mengikat perjalanan keluarga kami.
Apakah ini sengaja direncanakan? Tentu tidak. Kami tidak pernah menghitung-hitung agar semua terjadi di bulan yang sama. Ini murni kebetulan. Atau mungkin kehendak Yang Kuasa yang sedang menulis skenario terbaik-Nya.
Kami tidak tahu.
Yang jelas, Maret selalu datang dengan aroma kenangan. Ia membawa kembali suara tangis pertama, tawa lepas, percakapan kritis, protes kecil yang judes, dan doa-doa yang tak pernah putus.
Kini Erino berusia sepuluh tahun. Erika lima tahun. Mereka terpaut lima tahun, selisih tujuh hari, namun sama-sama menjadi alasan mengapa kami harus belajar tentang cinta yang terus bertumbuh.
Dan setiap kali Maret tiba, saya selalu merasa seperti sedang membuka album lama yang tak pernah usang. Di sana ada cerita tentang keberanian memilih, tentang kesabaran menanti, tentang tawa yang menyembuhkan, dan tentang harapan yang tak pernah selesai ditulis.
Maret bukan sekadar bulan bagi kami. Ia adalah rumah bagi memori dan masa depan yang berjalan berdampingan.
Eri Hendro Kusuma
Pemimpin Redaksi Setitik.id

