Skenario Indah di Jendela Waktu Makkah

Spread the love

“Semoga suatu hari nanti, kalian berkesempatan ke Makkah dan Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah,” ucap guru bahasa Arabku. Kalimat itu membuatku terdiam. Dalam hati aku membatin, mungkinkah aku bisa ke sana dalam waktu dekat? Rasanya masih sangat lama. Bagiku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 2 SMA, Tanah Suci terasa seperti mimpi yang sangat jauh. Aku berpikir mungkin harus menunggu sukses bekerja atau sudah tua dulu baru bisa ke sana.

Namun, siapa sangka,jawaban atas keraguanku itu datang begitu cepat.Di bangku kelas 2 SMA, satu minggu setelah ulang tahunku yang ke 17 bapakku mengajakku pergi ke suatu tempat.Aku diajak untuk membuat paspor.Aku sempat bingung, untuk apa Bapak mengajakku ke kantor imigrasi?.Namun,saat nomor antrean dipanggil dan petugas menanyakan tujuan keberangkatanku,jantungku berdegup kencang. “Mau umrah pak”,jawab Bapak singkat sambil melihat ke arahku.

Setelah hari itu, segalanya terasa bergerak sangat cepat. Persiapan manasik hingga membeli perlengkapan umrah aku jalani dengan perasaan tak percaya. Aku yang dulu ragu bisa pergi sebelum tua,kini justru sedang bersiap menuju kesana.

Tiba di Madinah saat Magrib, aku merasa lelah luar biasa.Jawharat ar rasyid,nama hotel yang akan aku tinggali bebrapa hari kedepan.Malam itu aku sempatkan sholat isya’ di pelataran Masjid Nabawi dan berkeliling di pelataranya. Esoknya lagi, aku masih sempat  merasakan nikmatnya sujud dalam salat Subuh di Masjid Nabawi. Rasanya damai sekali bisa berada di rumah kekasih Allah tersebut.

Sekitar jam sembilan pagi,setelah diajak berkeliling di area Masjid Nabawi dengan dipandu oleh Tour Leader. aku berbisik kepada Ibuk, “Buk, aku mau salat Duha dulu ya?” Namun Ibuk menjawab, “Wis, sik wae, nanti capek.” Akhirnya aku menuruti Ibuk untuk kembali ke hotel. Siapa sangka, keputusan itu menjadi awal dari sekolah kesabaran yang luar biasa bagiku.

Begitu sampai di kamar mandi hotel, duniaku seolah runtuh dalam sekejap. Garis merah alami itu datang; aku haid. Seketika aku menyadari bahwa salat Subuh tadi adalah satu-satunya kesempatan sujudku di Madinah. Hari-hari berikutnya pun berubah menjadi sangat panjang dan abu-abu.

Sebagai anak SMA yang masih labil, air mata menjadi teman setiaku. Aku kehilangan semangat hidup di tanah impian. Rasanya sesak melihat jamaah lain berbondong-bondong menuju masjid setiap kali azan bergema, sementara aku hanya bisa memandang dari balik jendela hotel dengan hati hancur.

Karena rindu yang tak terbendung, aku sering memaksakan diri pergi ke pelataran Masjid Nabawi. Aku hanya duduk diam di sana, menatap payung-payung besar yang terbuka. Ada rasa bersalah yang menyesakkan dada setiap kali mendengar suara imam memimpin salat dari kejauhan.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah merapalkan sholawat terus-menerus. “Shollallahu ‘ala Muhammad,” bisikku di sela isak tangis. Lewat sholawat itulah aku merasa masih terhubung dengan tempat suci ini, meski tubuhku sedang berhalangan untuk bisa bersujud di dalamnya.

Hingga akhirnya keajaiban datang pada hari Jumat,di kota Makkah sehari sebelum jadwal kepulanganku ke Indonesia. Di titik pasrah yang paling dalam, aku mendapati diriku telah suci. Dengan perasaan gemetar, aku segera mandi wajib dan berlari menuju Masjidil Haram untuk menuntaskan rukun umrah.

Malam terakhir di Makkah itu menjadi momen paling magis dalam hidupku. Aku akhirnya bisa Tawaf, Sa’i, dan bersujud di depan Ka’bah. Untuk merayakan syukur, aku sempat membeli sebuah boneka unta kecil. Langkahku terasa sangat ringan saat kembali ke kamar hotel malam itu.

Namun kejutan Tuhan belum berakhir. Begitu sampai di kamar dengan membawa boneka unta, aku kembali haid. Aku tertegun lalu tersenyum haru. Aku baru menyadari betapa presisinya skenario Tuhan. Allah memberiku izin tepat di saat aku harus menyelesaikan ibadahku, tak kurang tak lebih.

Perjalanan kelas 2 SMA itu mengubah cara pandangku selamanya. Tuhan tidak hanya mengabulkan doa dengan cepat, tapi Ia juga yang paling tahu kapan waktu terbaik bagi kita untuk bertemu dengan-Nya. Segala ujian itu nyatanya adalah hadiah yang mendewasakan bagi jiwaku.

Neza Fathdira, mahasiswi yang mencoba menulis dan berbagi refleksi kehidupan. Instagram: @nzftha

Back To Top