Asap selalu datang lebih dulu daripada matahari di langit dusun. Ketika ufuk masih berwarna kelabu pucat dan serangga rawa belum sempat memecah sunyi, Batin Tardji telah melangkah perlahan di atas titian kayu ulin yang membelah area gambut dangkal. Langkah kakinya makin pendek dan lambat sejak lutut kirinya tak lagi kuat menyangga tubuh akibat kelembaban menahun. Namun, setiap pagi ia tetap datang untuk menyentuh tanah yang diwariskan leluhurnya.
Dahulu, permukaan gambut itu terasa dingin, basah, dan padat mencengkeram jalinan akar pohon meranti. Kini, telapak tangan Tardji hanya menemukan kehangatan yang ganjil. Dari sela-sela remahan tanah hitam yang retak itu, mengepul asap tipis tanpa nyala api. Bumi di bawah kakinya seolah sedang menahan demam tinggi yang tak pernah benar-benar reda, tepat setelah saluran air alaminya disodet sepihak oleh alat berat perusahaan sawit.
Langkah kaki yang tergesa terdengar dari arah belokan parit. Rara, cucunya, datang sambil membawa seember air seng dari sumur galian belakang rumah panggung mereka. Air di dalam wadah itu tidak lagi memantulkan warna bening keperakan seperti musim-musim lalu. Cairannya kini berwarna cokelat pekat mirip air seduhan teh tua, keruh, dan mengeluarkan aroma masam belerang yang menusuk hidung. Tardji menerima ember tersebut, menyelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam cairan, lalu mengangkatnya mendekati lubang hidung. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan dalam tidak menunjukkan riak keterkejutan. Sepasang matanya yang cekung hanya menyisakan kesedihan yang telah terlalu lama menetap.
“Tanah kita kehabisan napas, Rara,” kata Tardji pelan. Suaranya parau tertiup angin yang membawa abu pembakaran lahan dari arah hulu. “Kalau parit-parit dalam itu terus digali untuk membuang air rawa, isi perut bumi akan mengering menjadi arang. Gambut kalau sudah kehilangan airnya akan mati, tidak bisa lagi mengikat hidrasi.”
Rara menatap permukaan parit di bawah titian ulin tanpa menjawab. Kanal-kanal besar buatan korporasi kini telah membelah bentang alam rawa seperti bekas luka operasi yang menolak sembuh. Parit raksasa itu mengalirkan seluruh cadangan air purba menuju sungai hilir demi mengeringkan lahan sebelum ditanami kelapa sawit homogen.
Menjelang petang, mereka berdua berjalan kaki melewati batas luar dusun adat. Di kejauhan, hamparan pohon sawit berumur tiga tahun berdiri seragam dalam kerapian militer yang kaku, meluas hingga menyentuh garis cakrawala. Tidak ada lagi suara riak air rawa, kecipak ikan gabus, atau kepakan sayap burung rangkong di atas tajuk pohon meranti yang kini telah rata dengan tanah. Yang terdengar hanya raung konstan mesin diesel dari pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) di balik bukit yang bekerja tanpa jeda siang dan malam.
Malam itu, ruangan dalam balai adat yang dinding papan merantinya mulai lapuk hanya diterangi cahaya dari dua pelita minyak tanah. Warga yang tersisa berkumpul mengelilingi sebuah meja kayu ulin rendah yang permukaannya dipenuhi guratan kapak kuno. Jumlah mereka tidak sampai dua puluh orang. Sebagian besar kepala keluarga telah lama menandatangani berkas ganti rugi karena tidak tahan dengan kepungan asap, lalu pindah menuju pemukiman relokasi di lereng gunung kapur yang garing dan gersang.
Di atas meja hanya tersedia tiga mangkuk seng berisi lempeng sagu yang kaku, beberapa ekor ikan sepat kering yang kurus, dan air rebusan daun sungkai hitam. Tak seorang pun jemaah adat segera mengulurkan tangan untuk menyentuh makanan tersebut. Semua tahu ini adalah malam penghabisan sebelum patok-patok perusahaan digeser masuk ke pekarangan rumah mereka.
Tardji bangkit berdiri dari bersilanya dengan gerakan yang lambat, memegang pinggiran mangkuk kayu di hadapannya dengan jemari yang gemetar karena usia dan beban pikiran.
“Malam ini kita tidak sedang merayakan panen,” ucap Tardji, suaranya diusahakan tetap tegap membelah keheningan ruangan. “Kita hanya datang untuk menghabiskan sisa rasa dari tanah yang besok pagi secara hukum bukan lagi milik kita. Kunyah makanan ini baik-baik, agar anak cucu kalian ingat bagaimana rasa makanan yang tumbuh dari air rawa suci kita, sebelum semuanya berganti minyak sawit.”
Dalam kesunyian yang kaku, mereka mulai mengunyah lempeng sagu itu pelan-pelan. Suasananya pekat dan sarat. Di luar dinding papan balai adat, kabut asap berwarna abu-abu keunguan terus melayang masuk melewati celah-celah dinding yang bolong. Bau anyir gambut terbakar menyumbat pori-pori napas mereka, membuat beberapa orang tua batuk kecil tertahan. Setelah warga pulang satu demi satu menembus malam yang gelap tanpa bintang, Rara tetap duduk diam bersandar pada tiang utama balai. Ia memperhatikan kakeknya yang sedang mengemasi draf silsilah tanah ulayat, anyaman tikar buatan mendiang neneknya, serta beberapa botol contoh air rawa purba ke dalam kantong kain terpal.
Menjelang subuh, permukaan lantai papan balai adat bergetar pelan. Bunyi dentum hidrolik dari deretan ekskavator raksasa muncul dari balik kabut asap. Alat-alat berat itu bergerak lurus menuju batas gerbang dusun bersama beberapa pria necis berhelm proyek warna kuning terang yang memegang draf peta kaplingan baru dan patok-patok kayu bercat merah.
Tidak ada suara teriakan demonstrasi dari warga kampung yang tersisa. Tidak ada batu yang dilemparkan, tidak ada pula senjata tajam yang diangkat ke udara. Warga keluar dari pintu rumah panggung masing-masing dengan tenang. Mereka sengaja mengenakan pakaian adat kain tenun terbaik—pakaian sakral yang biasanya hanya dikeluarkan lemari untuk menyambut upacara kematian tetua adat.
Tardji berdiri paling depan di ujung titian ulin, kedua tangannya mencengkeram tongkat kayu merantinya yang tumpul. Di belakangnya, Rara berdiri tegak dengan kelopak mata yang memerah akibat paparan gas asap pembakaran lahan. Seekor burung bangau rawa melintas rendah di atas kepala mereka, berputar sekali di atas parit kering yang telah berubah menjadi hamparan debu hitam, sebelum akhirnya terbang mengepakkan sayapnya menjauh ke arah utara hingga lenyap ditelan kabut polusi hulu yang kelabu.
Beberapa petugas keamanan pabrik dan perwakilan hukum perusahaan maju membawa map jepit, melangkah kasar di atas sisa semak rawa yang mengering. Mereka membacakan lembar keputusan konsesi lahan dengan suara yang datar lewat pengeras suara portabel, mengabaikan tatapan mata belasan pasang manusia berpakaian adat di hadapan mereka.
Tardji tidak menyela bacaan itu. Ia justru membungkuk lambat, meraba permukaan tanah gambut di samping kakinya yang telanjang. Ia mengambil segenggam penuh tanah hitam hidrofobik yang kering dan mati itu, lalu meremasnya dengan sisa tenaga batin yang tersisa di telapak tangannya.
Ketika perlahan ia membuka kembali jemarinya, butiran-butiran gambut purba itu tidak lagi menyisakan setetes pun air kehidupan. Tanah itu telah lumat sepenuhnya menjadi serbuk abu halus yang langsung melayang terbang dibawa angin pagi. Abu itu bergerak cepat, menyatu dengan kepulan asap kelabu dari cerobong pabrik pengolahan CPO di balik bukit.
Tardji menegakkan kembali punggungnya yang bungkuk. Ia berbalik, memberi isyarat kepada Rara dan warga dusun untuk mulai melangkah pergi meninggalkan titian ulin. Mereka berjalan tegap memunggungi moncong ekskavator yang mulai menurunkan pisau besinya ke atas tiang-tiang rumah panggung, tanpa pernah menengok lagi ke arah kampung halaman yang kini telah sunyi tertelan deru mesin zaman.
Banjarnegara, Juli 2026

Dwi Scativana Isnaeni, asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat diberbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email: dwi.scativana23@gmail.com
Editor: Deni Iska Dian Nita

