Menikmati Alur Panggung “Drama”

Spread the love

Beberapa waktu belakangan saya sedang berada di ruang drama. Bukan ruang bermain drama, tapi sedang berada pada bagian drama. Tapi sebenarnya saya bingung juga berada sebagai penonton atau bagian dari figuran. Yang jelas saya seolah terlibat dari beraneka pertunjukan itu.

Berada di antara aktor-aktor kelas utama tentu bukan perkara mudah. Butuh upaya untuk menerka ke mana alur ceritanya bergerak. Harus lihai mengimbangi peran mereka, karena tak jarang ketika luput sekedip mata, kita sudah tertinggal jalan cerita. Ya, saya sedang berada pada panggung kehidupan, tempat para pemainnya pun sebenarnya sama-sama bingung menyelesaikan naskah yang mereka tulis sendiri.

Lucunya, hampir semua orang tampak begitu yakin dengan dialog yang diucapkannya. Kalimat-kalimat terdengar lantang, gestur dipoles seolah penuh keyakinan, padahal di balik layar mereka sibuk menghafal adegan berikutnya. Ada yang hari ini menjadi penyelamat, besok berubah menjadi pengkritik. Ada yang kemarin bertepuk tangan, kini sibuk menunjuk siapa yang pantas disalahkan. Pergantian peran berlangsung lebih cepat dari pada pergantian babak.

Saya akhirnya menyadari bahwa di panggung ini, kebenaran sering kali kalah oleh kemampuan berakting. Tepuk tangan lebih mudah diberikan kepada mereka yang pandai memainkan ekspresi daripada mereka yang bekerja tanpa banyak dialog. Sorotan lampu tidak selalu mencari yang paling tulus, tetapi yang paling pandai menarik perhatian. Maka jangan heran jika tokoh utama hari ini bisa menjadi figuran esok pagi, lalu kembali menjadi pahlawan ketika naskahnya diganti.

Di titik itu saya memilih tidak terlalu sibuk menebak akhir cerita. Sebab terlalu banyak energi habis untuk membaca skenario yang setiap saat direvisi oleh para pemainnya sendiri. Kadang yang tampak sebagai konflik hanyalah latihan, sedangkan yang terlihat sebagai persahabatan ternyata sekadar kebutuhan adegan. Penonton dibuat percaya bahwa semuanya spontan, padahal sebagian besar sudah dihitung waktu tampilnya.

Barangkali memang begitulah kehidupan. Kita semua sedang memainkan peran masing-masing, hanya kadar kepura-puraannya yang berbeda. Ada yang tetap memilih menjadi diri sendiri meski jarang mendapat tepuk tangan. Ada pula yang rela berganti topeng demi tetap berada di tengah panggung. Dan ketika tirai akhirnya ditutup, mungkin yang benar-benar dikenang bukan siapa yang paling sering tampil, melainkan siapa yang selama pertunjukan tidak lupa menjadi manusia.

Eri Hendro Kusuma, pemimpin redaksi setitik.id

Back To Top