Spread the love

Rumah kecil yang terletak di gang sempit itu dihuni oleh seorang gadis bernama Arumi. Saat usianya masih kecil, ia harus kehilangan sosok ayah karena sebuah kecelakan lalu lintas. Ibu Arumi yang tidak sanggup berperan sebagai tulang punggung keluarga pun akhirnya terpaksa memilih untuk melakukan bunuh diri. Ditinggal oleh kedua orang tuanya, membuat Arumi hidup sebatang kara. Tidak ada harta kekayaan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, hanya sebuah rumah kecil sederhana dengan ukuran 6 x 3 meter dan sebuah sepeda onthel usang.

Dengan keadaan tersebut membuat Arumi juga terpaksa putus sekolah. Usianya saat putus sekolah menginjak 12 tahun. Sebagai gantinya ia harus menghabiskan waktu dengan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Arumi sangat gigih dalam bekerja. Ia tidak pernah pilih-pilih dalam mencari pekerjaan. Asalkan dia mampu dan sanggup akan ia kerjakan.

Di siang yang begitu panas, terlihat Arumi tengah bekerja di sebuah ladang jagung. Ia mendapatkan tawaran untuk ikut memanen jagung dengan upah 25.000 untuk setiap satu karung dengan ukuran sedang. Gadis itu terlihat begitu semangat dalam menjalankan pekerjaannya. Dengan kegigihannya, ia mendapatkan panenan jagung sebanyak tujuh karung. Dengan tujuh karung yang ia hasilkan, maka ia mendapatkan upah sebesar 175.000.
“Ini upah kamu, Rum,” ucap mandor sambil menyodorkan amplop berwarna putih.
“Terima kasih, Pak,” balas Arumi yang dibarengi dengan senyum ramah yang terukir di wajahnya sambil menerima amplop pemberian mandor.

Setelah menerima upah atas kerja kerasnya, Arumi memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Dengan mengayuh sepeda onthel peninggalan almarhum ayahnya, ia menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer untuk sampai di rumah kecilnya.
Ketika gadis itu dalam perjalanan menuju rumah, pandangannya teralihkan oleh suara isakan tangis seorang nenek tua yang terlihat dikerumuni oleh tiga orang laki-laki berbadan besar dengan jaket hitam yang menempel di tubuh mereka. Nenek tua dengan tubuh yang ringkih terlihat seperti memohon kepada para lelaki berbadan kekar tersebut. Tangisnya yang tersedu-sedu membuat Arumi berniat untuk menghampiri nenek tua itu. Dengan yakin ia turun dari sepeda tuanya dan menuntunnya menuju ke tempat nenek dan para lelaki berjaket hitam tersebut.

Saat hendak menurunkan standar sepedanya di tepi jalan, Arumi dibuat kaget dengan apa yang para lelaki tersebut lakukan kepada nenek tua itu. Nenek itu didorong dengan menggunakan kaki oleh salah satu lelaki yang mengerumuninya. Sontak hal tersebut membuat tubuh nenek itu yang ringkih terlempar cukup jauh dari mereka. Arumi yang melihat kejadian itupun langsung berlari menghampiri nenek tersebut tanpa memperdulikan apakah standar sepedanya sudah dengan posisi benar.


“Nenek nggak papa?“ tanya Arumi cemas kepada nenek tua itu. Dengan terus menangis, nenek itu hanya menjawab pertanyaan Arumi dengan gelengan kepala. Tanpa bertanya apa masalah yang sedang terjadi di antara nenek tua itu dengan para lelaki di depannya, Arumi dengan lantang menatap dan mulai menghampiri para lelaki tersebut.

“Heh Mas! Kalian ini siapa? Berani sekali kalian sama nenek ini? “ tanya Arumi dengan nada ketus. Mendengar pertanyaan tersebut, ketiga lelaki itu saling pandang dan terlihat raut wajah mereka semakin marah.
“Anda punya hubungan apa sama nenek ini? Kami penagih hutang“ ucap salah satu dari ketiga lelaki tersebut dengan nada yang tidak kalah ketus dari Arumi. Mendengar pernyataan “penagih hutang”, akhirnya arumi tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka.

“Tapi caranya bukan seperti ini,” ucap Arumi lantang. Mendengar pernyataan yang diucapkan gadis itu membuat ketiga lelaki berjaket hitam itupun semakin dibuat geram.
“Kamu ada hubungan apa sama nenek ini? Jangan ikut campur kalau tidak tahu apa-apa!“ gertak dari salah satu lelaki tersebut.

“Berapa hutang nenek ini? Saya yang bayar,” ucap Arumi dengan berani sambil menatap ketiga lelaki itu tajam.
“Tiga ratus ribu!“ jawab salah satu dari tiga lelaki tersebut.sambil mengangkat tiga jarinya. Mendengar jawaban dari lelaki tersebut membuat Arumi terdiam sejenak. Ia tidak memiliki uang sebanyak itu. Bahkan jika untuk membayar hutang nenek itu, uangnya tidak akan cukup. Jika uang itu ia gunakan untuk membayar hutang nenek tersebut, bagaimana ia membeli makanan untuk ia makan hari ini?

Arumi mengabaikan pikiran-pikiran yang sedari tadi terus berenang di kepalanya. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia merogoh tasnya dan mulai mengeluarkan amplop berwarna putih. Arumi mengeluarkan semua lembar uang yang ada di dalam amplop tersebut dan langsung menyodorkannya kepada lelaki tersebut.

“Saya hanya ada segini, untuk sisanya tolong kasih nenek ini sedikit waktu lagi!”
“Baik, kami akan kasih waktu sampai minggu depan. Kami akan kembali lagi minggu depan untuk menagih sisanya,” ucap lelaki tersebut sambil meraih uang yang disodorkan oleh Arumi dan pergi begitu saja meninggalkan Arumi dan nenek itu.

Ketika ketiga lelaki itu pergi, Arumi bergegas untuk menghampiri nenek yang masih terduduk lemas di tanah. “Nenek tenang aja ya, Arumi akan bantuin nenek untuk melunasi hutang sisanya,” ucap Arumi sambil membantu nenek itu untuk berdiri.
“Nak, terima kasih sudah mau menolong nenek,” ucap nenek itu sambil terus meneteskan air mata.

“Iya nek. Rumah nenek di mana? Mau Arumi antarkan ke rumah?” tanya Arumi lembut.
“Rumah nenek itu, Nak,” jawab nenek sambil menunjuk ke arah rumah kecil nan “reot” yang atapnya sudah terdapat banyak lubang. Melihat keadaan itu, membuat Arumi berpikir sejenak dengan rumah yang saat ini ia tinggali. Betapa putus asanya dia jika harus mengeluh dengan keadaan rumahnya yang terbilang masih layak huni dibandingkan dengan rumah nenek yang kini di sampingnya. Setelah mengantarkan nenek itu ke rumahnya, Arumi langsung bergegas pamitan untuk pulang ke rumah.

Gadis itu kini sudah berada di depan rumahnya. Arumi langsung memarkirkan sepeda ontelnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Saat ia hendak membuka pintu dari rumah tersebut, Arumi sedikit terkejut karena ada sebuah kantong plastik berwarna hitam yang digantungkan di kanopi pintu. Melihat itu, Arumi langsung mengambil dan membukanya untuk memastikan apa isi dari kantong plastik tersebut. Arumi semakin mengucapkan puji syukur ketika ia tahu bahwa kantong tersebut berisi makanan. Namun Arumi tidak tahu siapa pengirim dari makanan tersebut.
Seorang wanita paruh baya yang melihat keberadaan Arumi di depan rumahnya, langsung menghampiri gadis itu yang seakan-akan sudah tahu apa yang Arumi pikirkan.

“Mbak Arumi, itu tadi dari rumah Pak RT. Tadi saya disuruh nganter itu ke rumah Mbak Arumi. Tapi mbak Arumi nggak ada di rumah. Ya sudah, saya gantungkan di pintu saja,” ucap wanita itu ramah yang membuat Arumi langsung menoleh kebelakang.

“Terima kasih banyak ya, Bu. Sampaikan juga sama Pak RT karena sudah diberi makanan,” balas Arumi dengan senyum di wajahnya.


Arumi tidak berhentinya mengucap puji syukur dengan apa yang Tuhan kasih kepada dirinya hari ini. Walaupun ia tidak bisa menikmati langsung uang hasil kerjanya kali ini, Arumi bisa menikmati kasih yang Tuhan berikan kepadanya melalui keikhlasannya.


Seminggu kemudian, Arumi datang kembali ke rumah nenek yang sempat ia bantu untuk melunasi hutangnya. Kali ini Arumi sudah mendapatkan uang untuk menepati janjinya kepada nenek tersebut. Namun ketika ia sampai di depan rumah nenek tersebut, rumah tersebut terlihat sepi. Arumi mencoba mengetuk pintu dari rumah itu dan sesekali memanggil nenek tersebut, namun hasilnya nihil.

Arumi mencoba bertanya kepada beberapa tetangga di sekitar rumah nenek tersebut. Arumi kaget ketika mendengar jawaban dari mereka yang ternyata nenek yang kini sedang Arumi cari sudah meninggal tiga hari yang lalu.

Salah satu tetangga dari nenek tersebut menghampiri Arumi dan memberikan sebuah amplop berwarna putih dan berkata “Mbak, ini dari Nek Iyem,”
Arumi menerima amplop tersebut dengan bingung. Tanpa bertanya apa isi amplop tersebut, ia langsung membukanya. Arumi melihat ada beberapa lembar uang dan secarik kertas yang bertuliskan

Nak, hutang nenek sudah lunas. Terima kasih sudah mau membantu nenek. Ini uang kamu nenek kembalikan ya. Terima kasih.

Membaca tulisan tersebut membuat Arumi meneteskan air mata. Arumi sudah merelakan uangnya kemarin, namun Tuhan mengembalikannya. Arumi semakin sadar bahwa apapun yang kita ikhlaskan, jika memang milik kita, akan kembali lagi kepada kita.

Penulis adalah Nava Ainur Hidayah, lahir pada tanggal 7 Desember 2004. Saat ini tengah menempuh pendidikan strata satu di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Selain suka menulis, penulis juga senang dalam hal menggambar dan melukis. Media sosial : Instagram @navaainur_ , Tiktok @navaainurhdy

Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top