Angin sore berembus lembut, menyapu daun-daun kering yang berserakan di halaman rumah kecil itu. Hembusannya seolah membawa serta kenangan—tentang tawa yang dulu pernah mengisi rumah tersebut, tentang langkah kaki yang kini tak lagi terdengar. Langit tampak temaram, dihiasi semburat jingga yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Awan-awan kelabu menggantung berat, seakan turut menanggung duka yang menyelimuti bumi.
Seorang gadis duduk diam di ambang pintu. Tubuhnya terpaku, matanya kosong menatap cakrawala. Ia tak berkata apa-apa, tetapi wajah sembabnya telah bercerita banyak—tentang air mata yang belum juga kering sejak kepergian seseorang yang sangat dicintainya.
Namanya Kaissa, seorang gadis yatim yang sejak kecil hanya mengenal satu pelukan hangat: pelukan mamaknya. Ayahnya telah tiada saat usianya belum genap lima tahun, meninggalkan mereka berdua dalam hidup yang sederhana dan penuh perjuangan. Namun bagi Kaissa, dunia kecil itu sudah cukup. Sebab mamak selalu hadir—dengan senyum sabarnya, pelukan lembutnya, dan semangat yang tak pernah padam meski diterpa kekurangan. Mamak adalah cahaya dalam hidup Kaissa, tempat segala keluh kesah berlabuh, tempat hatinya merasa aman.
Namun, beberapa bulan terakhir, cahaya itu mulai meredup. Kesehatan mamak perlahan menurun. Tubuhnya melemah, batuknya semakin sering dan menyakitkan, dan rona wajahnya pun memudar. Kaissa menyaksikan semua itu dengan cemas. Berkali-kali ia membujuk mamaknya untuk berobat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian dan harapan. Namun mamak selalu tersenyum, lalu berkata pelan dengan suara yang makin lirih dari hari ke hari, “Mamak baik-baik saja, Nak.”
Pagi tadi, semuanya berubah. Matahari belum tinggi ketika Kaissa menyadari mamaknya belum juga bangun. Ia mendekat, mengguncang bahu wanita yang selama ini menjadi segalanya bagi hidupnya. Namun tak ada respons. Napas itu telah tiada. Tubuh itu kini terdiam untuk selamanya. Kaissa memeluk mamaknya untuk terakhir kali, dengan tangis yang tak terbendung, menyadari bahwa separuh jiwanya telah pergi bersama pagi yang sunyi.
Suasana rumah berubah senyap. Para pelayat telah kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan Kaissa sendirian dalam duka. Ia masih tak percaya bahwa kini ia benar-benar sendiri di dunia ini.
Kaissa memandangi ruang tamu kecil mereka, tempat mamak biasa duduk menyulam kain atau menenun tikar untuk dijual. Sudut itu kini terasa kosong. Tak ada lagi suara lembut mamak yang memanggilnya. Tak ada lagi tangan hangat yang mengelus kepalanya saat ia merasa lelah.
Ketika ia tengah termenung di teras, seorang tetangga datang menghampirinya.
“Kaissa, ini ada surat dari mamakmu,” kata Bu Siti, tetangga yang sering membantu mamaknya selama sakit. “Sebelum meninggal, mamakmu menitipkannya padaku untuk diberikan kepadamu.”
Dengan tangan gemetar, Kaissa menerima surat itu. Kertasnya sedikit lusuh, tetapi tulisan tangan mamaknya masih terbaca jelas. Perlahan, ia mulai membacanya.
Untuk anakku tersayang, Kaissa.
Jika kau membaca surat ini, berarti Mamak sudah tidak ada lagi di sampingmu. Mamak tahu, pasti rasanya berat. Kau mungkin merasa sendiri. Tapi, Nak, Mamak ingin kau tahu satu hal: kau tidak pernah benar-benar sendiri.
Hidup ini memang penuh cobaan, tapi Mamak ingin kau tetap kuat. Jangan biarkan kesedihan membuatmu lupa bahwa kau adalah gadis yang baik dan kuat. Teruslah berbuat baik, Nak. Karena saat kita berbuat baik, dunia akan mengirimkan orang-orang baik untuk mengelilingi kita.
Jangan takut menjalani hidup. Jangan takut melangkah. Ada banyak orang di luar sana yang akan menyayangimu, selama kau tetap menjadi Kaissa yang penuh kasih seperti yang Mamak kenal.
Mamak mungkin tidak lagi bisa menemanimu, tapi Mamak akan selalu ada di hatimu.
Dengan penuh cinta,
Mamak.
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Kaissa menggenggam surat itu erat, seolah ingin menyerap setiap kata yang ditulis mamaknya. Ada kehangatan yang tumbuh di hatinya meski kesedihan masih mencengkeram kuat.
Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Namun ia juga sadar bahwa mamaknya tidak ingin ia larut dalam kesedihan. Dengan napas berat, Kaissa menghapus air matanya.
Ia melipat surat itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam kotak kecil tempat ia menyimpan barang-barang berharga. Surat itu akan menjadi pengingat bahwa mamaknya selalu ada di hatinya, dan bahwa ia harus terus maju dan menjadi pribadi baik seperti yang diharapkan mamaknya.
Hari mulai gelap. Kaissa menyalakan lampu minyak di ruang tamu, lalu berjalan ke dapur. Ia membuka lemari dan melihat beberapa bahan makanan yang tersisa. Ia teringat, mamaknya selalu mengajarkannya untuk berbagi.
Sore itu, meski dadanya masih terasa sesak, Kaissa membawa sepiring nasi dan lauk sederhana ke rumah Bu Siti. Wanita itu telah banyak membantunya, dan ia ingin membalas kebaikan itu—meski hanya dengan hal kecil.
“Terima kasih, Kaissa. Kamu anak yang baik,” kata Bu Siti sambil tersenyum haru.
Kaissa membalas dengan senyum kecil. Ia tahu, hidupnya tidak akan mudah. Akan ada banyak tantangan, akan ada hari-hari ketika ia merasa lelah dan sendiri. Tapi ia juga percaya, seperti kata mamaknya—ketika kita berbuat baik, kita akan dikelilingi oleh orang-orang baik.
Matahari kembali tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga di langit. Kaissa menatap langit dengan senyum kecil di wajahnya.
Ia yakin, di suatu tempat di sana, mamaknya pasti sedang tersenyum bangga padanya.

Penulis adalah Aida Nur Safuatin, gadis kelahiran 17 Mei 2005 lahir di Ngawi dan besar di berbagai pesantren. Mulai dari sekolah dasar di SD Plus Darussalam Ngawi dan di Pesantren Madinatul Khuffadz Ngawi, dan lanjut MTS-MA di Pondok Pesantren Al-Mardliyyah Madiun, dan sekarang lanjut menjadi mahasiswa UIN SATU Tulungagung program study Komunikasi dan Penyiaran Islam dan bermukim di Pesantren Subulussalam Tulungagung. Instagram (aidansf_)
Editor : Deni Iska Dian Nita

