Angin sore menyelusup lembut melalui celah-celah dinding bambu yang telah mulai rapuh. Ruang kelas kecil itu tak lebih dari sebuah gubuk beratap seng, beralaskan tikar dan berdinding anyaman, tapi setiap pukul tiga sore, bangku-bangku kayu tua di dalamnya selalu penuh oleh wajah-wajah kecil yang lapar akan berbagai pengetahuan.
Pak Aris, seorang lelaki tua dengan langkah pelan dan sorot mata lembut, berdiri di depan mereka. Dulu, ia mengajar di sebuah kota dengan fasilitas lengkap dan gaji tetap. Tapi setelah pensiun, ia memilih tinggal di desa terpencil yang bahkan tak banyak penduduknya.
“Ilmu bukan untuk ditinggal tidur,” katanya sambil tersenyum. “Selama masih bisa bicara, aku akan terus melanjutkan tekadku untuk tetap mengajarkan apa yang telah kudapat.” timpalnya sambil menggendong beberapa buku miliknya.
Dengan sepeda bututnya beliau tidak pernah absen untuk mengajar para murid-murid yang selalu menanti kedatangannya di dalam kelas yang penuh dengan mimpi itu.
Di desa itu, tak ada gedung sekolah. Hanya balai kecil bekas gudang padi yang disulap menjadi sebuah ruang untuk belajar. Tak ada papan tulis baru, hanya selembar tripleks hitam yang dipaku di dinding. Kapur habis digantikan dengan gamping. Tapi semangat yang lahir setiap sore tak pernah surut, mereka datang tanpa memakai alas kaki, tapi kepala penuh mimpi.
Salah satu murid Pak Aris yang kerap dipanggil Juna, bocah kurus dengan rambut selalu kusut itu duduk paling depan, mencatat dengan sisa kertas yang ia pungut dari warung. Ia tak banyak bicara, tapi matanya selalu tajam saat Pak Aris mengajar.
Suatu sore, saat pelajaran selesai, Pak Aris bertanya, “Kenapa kamu selalu datang lebih awal, Jun?”, bocah itu menjawab, “Karena saya ingin jadi dokter, Pak. Biar bisa mengobati orang-orang yang tidak bisa berobat ke rumah sakit seperti saya.”
Juna juga selalu berusaha mewujudkan apa yang diinginkan oleh ayahnya. Apalagi sejak dua tahun ayahnya meninggalkan keluarga, tekad Juna semakin besar dan kuat. Meskipun terkadang ia merasa lelah, namun ia tak pernah menyerah. Dia selalu berharap dan percaya suatu saat nanti dia bisa mewujudkan mimpi ayahnya dan membanggakan seluruh keluarganya. Ia juga ingin memberikan contoh kepada adik-adiknya agar bisa sukses seperti dia.
Jawaban itu membuat dada Pak Aris terenyuh. Ia tak berkata apa-apa, hanya mengelus kepala Juna pelan. Ia tahu, di tempat seperti ini cita-cita bukan sekadar mimpi, tapi itu adalah perjuangan di setiap harinya. Tugasnya sebagai guru bukan hanya memberi ilmu, tapi juga menjaga nyala keyakinan agar tak padam. Ia seperti melihat bayangan mimpi anaknya di dalam diri Juna.
Tekad para murid pun sangat kuat ketika melihat kegigihan dan teladan dari gurunya, yakni Pak Aris. Mereka sangat ingin menjadi sosok seperti Pak Aris. Dengan harapan dapat mewujudkan impian besar mereka.
Tahun pun berlalu. Juna telah lulus, lalu menghilang dari desa. Tak ada satupun orang yang mendengar kabar dari Juna. Satu per satu murid juga datang dan pergi. Tapi Pak Aris tetap mengajar di tempat itu dengan semangatnya yang tak berubah sedikitpun.
Usianya makin renta, suaranya pun makin pelan, tapi tangan tuanya tetap menuliskan huruf demi huruf di papan alakadarnya itu. Baginya, setiap anak yang bisa membaca adalah satu langkah kecil untuk melawan kegelapan. Keikhlasan beliau dalam mengajar semua murid-muridnya menjadi salah satu karakter yang paling digemari oleh para murid-muridnya.
Hingga pada suatu sore, sebuah mobil putih berhenti diseberang jalan depan sekolah. Dari dalamnya turun seorang pria muda mengenakan pakaian dokter, membawa koper dan beberapa kardus berisi buku. “Pak Aris”, sapanya sambil tersenyum haru. “Saya kembali pak, saya Juna, bapak masih ingat dengan saya? kini giliran saya yang mengajar.” Ujarnya sambil memeluk erat gurunya itu.
Pak Aris berdiri terpaku, matanya berkaca dan tangannya pun gemetar. Ia tak pernah meminta balasan atas apa yang telah ia ajarkan dan usahakan selama ini dari para murid-murid yang telah di ajarnya. Tapi hari itu adalah bukti jika jerih payahnya selama ini tak sia-sia.
Di depan mata, ia melihat seorang murid yang dulu hanya punya kertas lusuh, kini datang membawa terang, membawa impian yang selama ini ia usahakan. Mimpinya pun kini telah menjadi nyata dan terwujudkan. Ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit, Pak Aris duduk di kursi tuanya. Ia tersenyum puas.
Senja boleh datang, tapi cahaya ilmu tak akan pernah hilang atau pun padam. Selama kegigihan dan keteguhan hati para guru dan murid dalam belajar masih ada, cahaya ilmu itu tak akan mungkin pernah menghilang dan padam.
Penulis : Latifatul Hubbi Zahro, tinggal di Plosokandang, Kedungwaru, Tulungagung
Editor : Deni Iska Dian Nita

