Sebuah Perjalanan Baru di Kampus

Spread the love

Pagi yang cerah mengawali hari pertama perkuliahan. Caca dan Dinda berjalan santai menyusuri jalan setapak di kampus, mata mereka berbinar melihat megahnya gedung-gedung yang kini menjadi bagian dari hidup mereka. Dalam hati, Caca merenung,

“Ya Allah, tak terasa aku sudah kuliah. Semoga aku tidak terbawa arus di awal perkuliahan ini.” Sebuah harapan tulus yang terucap dari hati kecilnya.

Babak Baru di Gedung AM
Di lobi Gedung AM yang luas dan elegan, Caca dan Dinda menikmati setiap sudut arsitektur yang memikat. Mereka berjalan berdampingan menuju kelas di lantai dua, wajah mereka memancarkan antusiasme.

“Enggak kerasa ya, Din. Sekarang kita sudah kuliah, padahal rasanya baru kemarin kita di pondok,” ujar Caca, masih diliputi rasa tak percaya.

Dinda mengangguk, matanya menerawang. “Iya, Ca. Waktu berjalan cepat sekali. Semoga kita bisa lulus tepat waktu dan membanggakan orang tua.”

“Amin, Din,” sahut Caca tulus, mengamini doa sahabatnya.

Pertemuan di Ruang Kelas
Suasana kelas terasa hangat dengan senyum ramah Caca dan Dinda yang menyambut teman-teman barunya. Malikah, Fais, dan Kholil sudah lebih dulu duduk di kursi masing-masing. Malikah yang berparas manis menyapa lebih dulu.

“Eh, halo, kenalin aku Malikah.”

“Salam kenal juga ya,” jawab Caca dan Dinda serempak, menunjukkan kekompakan mereka.

“Kalian sudah lama bersahabat?” tanya Malikah penasaran.

“Iya, Mbak. Kami sahabatan sejak di pondok,” jawab Dinda ramah.

“Oh, pantes sudah akrab banget,” Malikah tersenyum, dibalas senyum tipis penuh kehangatan oleh Caca dan Dinda.

Sementara itu, di bangku belakang, Kholil dan Fais saling berbisik.

“Lihat deh, Is. Anak baru itu cantik banget,” ujar Kholil, matanya berbinar.

“Iya, Lil, cantik banget,” sahut Fais.

Kholil tersenyum penuh arti. “Gimana kalau aku coba dekati dia?”

Fais tertawa keras. “Halah, baru lihat aja udah kesengsem!” Mereka pun tertawa lepas, tak sadar percakapan mereka terdengar samar.

Awal Sebuah Kedekatan
Siang hari, matahari mulai meninggi, menyengat area pos satpam kampus. Caca berdiri sedikit gelisah, menunggu Dinda yang sedang mengambil motor. Tiba-tiba, Kholil menghampirinya.

“Eh, Caca, lagi nunggu siapa?”

“Dinda, dia lagi ambil motor,” jawab Caca, sedikit terkejut.

“Oh, gitu…” Kholil mengangguk. “Eh, aku boleh minta IG-mu? Siapa tahu bisa lebih akrab.”

“Boleh kok, ini,” jawab Caca sambil menyerahkan ponselnya.

Kholil mencatat akun Instagram Caca, lalu berpamitan. Caca tersenyum sendiri, hatinya bergetar penuh makna.

Malamnya, di kamar pondok, Caca masih senyum-senyum sendiri. Lamunannya buyar saat Dinda masuk.

“Eh, Ca, bukannya ngaji, malah senyum-senyum sendiri di kamar?”

“Ih, kenapa sih, Din? Ganggu orang melamun aja,” protes Caca, pipinya memerah.

“Lagi melamunkan siapa, sih?” goda Dinda.

Dengan malu-malu, Caca akhirnya bercerita. “Tadi aku diminta IG-nya sama cowok sekelas.”

“Hoalah, orang kasmaran memang enggak waras!” Dinda tertawa geli, senang melihat sahabatnya bahagia.

Kedekatan Caca dan Kholil pun makin intens. Tanpa sadar, Caca mulai terbawa arus pergaulan baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Terjebak dalam Lingkaran Pergaulan Bebas
Suatu pagi, Malikah mendekati Caca dengan semangat.

“Eh, Ca, nanti pulang ke kosku lagi ya. Ajak Fais sama Kholil juga.”

“Oke, nanti aku kabari,” jawab Caca tanpa berpikir panjang.

Tak lama, ia mengajak Kholil dan Fais. “Eh, nanti ke kos Malikah, ya. Biasa, party!”

“Ayolah, gas terus! Berangkat bareng aja, Ca!” jawab mereka bersemangat.

Sore harinya, mereka tiba di kos Malikah. Minuman sudah siap. Pesta pun dimulai.

“Lama banget sih, kalian ke mana aja?” tanya Malikah.

“Nungguin Caca dan Kholil, pacaran dulu!” goda Fais, disambut tawa.

Mereka larut dalam pesta. Tak sadar, sebuah kamera merekam semua itu—gambaran ironis dari harapan indah di awal perkuliahan.

Jeritan Hati dan Penyadaran
Malam itu, di kamar pondok, Dinda baru pulang dari kampus. Setelah salat Magrib, pikirannya tertuju pada Caca.

“Kenapa Caca berubah sejak pacaran dan sering ke kos Malikah? Ya Allah, bukakan hatinya.”
Dinda menguatkan tekad, “Besok aku ajak bicara Caca.”

Keesokan harinya, di kelas, Dinda mengajak Caca.

“Eh, Ca, nanti ke Kopma yuk, aku mau ngomong.”

“Tumben banget kamu ngajak serius-serius gini,” kata Caca heran.

Di Kopma, mereka duduk berdua.

“Kenapa sih kamu berubah, Ca?” tanya Dinda langsung ke inti.

“Berubah gimana? Enggak, kok,” elak Caca.

“Kamu minum-minum, jarang balik pondok. Kenapa? Ada masalah?”

Akhirnya, Caca tak kuasa menahan.

“Aku pusing, Din. Banyak beban. Terus, Kholil juga—kalau enggak diturutin, kamu tahu sendiri gimana…”

“Tapi caramu salah, Ca. Kamu lari dengan cara mabuk? Ingat, kamu itu anak pondok, kuliah dibiayai orang tua. Masak mau disia-siakan begitu saja? Ayolah, kembali jadi Caca yang aku kenal.”

Caca menangis, memeluk Dinda, menyesali segalanya. Tangisnya pecah, penyesalan menghantam hatinya.

“Sudah, Ca. Semangat ya! Yuk, kita balik pondok,” ucap Dinda menenangkan.

Memulai Lembaran Baru
Pagi itu, wajah Caca tampak cerah. Ia bertekad untuk memulai hidup baru, menjauhi pergaulan yang menyesatkan. Bersama Dinda, ia kembali kuliah dengan semangat.

Di kelas, Dinda menatap Malikah, Fais, dan Kholil dengan tajam.

“Hati-hati ya, jangan coba-coba ajak Caca ke hal yang enggak benar lagi!”

Mereka terdiam, tahu Dinda benar-benar serius.

Hari-hari Caca kini diisi dengan kegiatan positif. Belajar di Kopma, pulang ke pondok, salat Asar, membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, dan menyelesaikan tugas kuliah dengan tekun. Malamnya, ia melaksanakan salat Tobat, memohon ampunan atas segala kesalahan.

Pagi berikutnya, ia memulai aktivitas pondok. Melalar hafalan, menambal kitab, belajar dengan sungguh-sungguh. Langkahnya ringan, wajahnya bersinar. Ia siap menyongsong masa depan sebagai pribadi yang lebih baik.

Tentang Penulis:
Muhammad Kholilur Ridlo, Lahir di Ngawi, 21 Juli 2006. Saat ini berstatus sebagai Mahasiswa UIN SATU Tulungagung
Instagram: @choliluridllo
Email: muhamadkholil323@gmail.com
Editor: Deni Iska Dian Nita

Back To Top