Eri Hendro Kusuma Budayawan

Menulis: Antara Cinta, Rasa, dan Kesadaran

Spread the love

Beberapa pekan terakhir, saya tenggelam dalam aktivitas yang cukup menyenangkan, mengedit tulisan anak-anak komunitas jurnalistik SMP. Mereka yang dulu saya kenal sebagai penulis pemula, kini telah duduk di bangku SMA, kuliah, bahkan ada yang sudah bekerja. Sudah lama saya tak membaca karya mereka, dan saya rasa mereka pun sudah cukup lama tak menyentuh dunia tulis-menulis. Maka ketika tulisan-tulisan itu kembali hadir di hadapan saya, rasanya seperti menemukan kembali potongan cerita yang dulu pernah tumbuh bersama.

Yang mengejutkan, tulisan mereka kini terasa lebih matang. Pilihan diksi yang mengalir, susunan kalimat yang rapi, dan alur cerita yang runtut membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya. Jauh berbeda dari masa SMP mereka yang dulu penuh dengan cerita “absurd”. Tentu saja, masih ada saja yang “nakal”, seperti ada yang minta tolong mencarikan judul, ada yang paragrafnya masih belum nyambung, atau sekadar menambahkan sedikit “bumbu” agar tulisan terasa lebih renyah. Tapi justru itulah bagian paling asyik dari proses ini.

Saya percaya bahwa menulis adalah cerminan dari cara berpikir seseorang. Pengalaman hidup dan proses berpikir yang terus berkembang membuat tulisan seseorang ikut tumbuh. Dan bagi saya, menulis bukan semata soal tugas atau ajang kompetisi. Lebih dari itu, menulis adalah latihan menyusun ide, menata logika, dan yang terpenting menjadi bentuk tanggung jawab sosial serta moral terhadap apa yang kita lihat dan rasakan di sekitar.

Menulis adalah jendela kepekaan. Lewat tulisan, kita belajar menangkap realitas sosial dengan hati dan menyampaikannya lewat narasi yang bisa dibaca banyak kalangan. Kita tidak hanya menyusun kata, tetapi juga menyusun kepedulian. Ketika tulisan mampu menggerakkan hati seseorang, menggugah kesadaran, atau memantik perubahan, maka di situlah letak keberhasilan sejati dari sebuah tulisan.

Bagi saya, titik tertinggi dalam menulis bukanlah trofi atau sertifikat penghargaan. Bukan pula posisi sebagai juara satu, dua, atau tiga. Tapi ketika tulisan itu berdampak. Ketika ia menyentuh, menginspirasi, atau menjadi jembatan kesadaran bagi orang lain, maka saat itulah kita benar-benar menjadi penulis yang utuh.

Terlalu banyak lomba menulis yang menghasilkan pemenang tapi tak banyak yang benar-benar memberikan manfaat sosial. Bukan berarti kompetisi itu tak penting, tapi akan lebih berarti jika karya yang dihasilkan tak berhenti di podium, melainkan terus hidup di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, menulis bukanlah tentang citra, tapi juga tentang cinta.

Cinta terhadap rasa, cinta terhadap kehidupan, dan cinta terhadap sesama. Maka menulis bukan sekadar aktivitas, tapi sebuah proses menjadi manusia yang lebih peka, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab. Dan saya bersyukur bisa menyaksikan perjalanan itu lewat tulisan anak-anak yang pernah saya bimbing.

Eri Hendro Kusuma

Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top