Eri Hendro Kusuma Budayawan
Spread the love

Semua bingung, sekilas terlihat tanpa komando, tidak ada koordinator yang biasanya dapat di nego. Semua terjadi begitu cepat. Awalnya konsentrasi tidak tertuju pada situasi ini, karena media massa mainstream sudah menerima “wanti-wanti”. Tapi kita lupa jika hari ini setiap orang adalah “jurnalis”. Algoritma media sosial secara drastis mengarah pada satu peristiwa besar yaitu berbagai aksi.

Luapan berbagai aksi tidak terbendung. Berawal dari Jakarta, kemudian, Bandung, Surabaya, dan terus ke kota dan kabupaten lain di Indonesia. Peristiwa ini bukan murni aksi, melainkan luapan kemarahan. Kemarahan terhadap para wakil rakyat yang tidak memberikan keterwakilan.

Kemewahan, joget-joget, dan mengeluh “manja” seolah pertanda wakil rakyat tidak ada empati kepada masyarakat yang hari ini sedang babak belur mencari sesuap nasi. Perang di media sosial tidak memberikan solusi, malah menimbulkan balasan menyakiti hati karena semua hilang empati. Dengan dalih dekat dengan kekuasaan, semua seolah memiliki imun kebal.

Tidak selesai di dunia maya, lanjut di medan perjuangan. Tapi tetap para wakil rakyat itu “angkuh” dan mencari benar sendiri. Ini memicu gelombang massa yang begitu besar dengan dorongan amarah. Semakin besar dan tidak terbendung lagi. Satu orang terlindas, semua semakin memanas. Sasarannya terpecah. Sebelumnya meladeni tantangan wakil rakyat, sekarang beralih ke petugas keamanan. Semua dibakar dirusak sampai dijarah berbagai isi gedung pemerintah.

Arah gerakan berubah dari yang sebelumnya aksi, kini menjadi anarki. Membakar “besi” bukan perkara mudah, tapi faktanya terjadi. Entah siapa yang mengawali dan melakukan sampai hari ini masih menjadi misteri. Yang jelas kerusuhan semakin menjadi. Bukan hanya soal pejabat publik, tapi sudah mengarah ke pribadi.

Dalam waktu bersamaan rumah pejabat dan politisi di jarah. Bukan pejabat di pusat tapi juga diberbagai daerah. Barang-barang pribadi pun akhirnya menjadi konsumsi publik. Apakah ini aksi demontrasi?

Meskipun saya bukan “aktivis keren” seperti aktivis ’66 atau aktivis ’98, tapi setidaknya saya pernah berada di posisi ini. Pernah turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan kegelisahan yang dihadapi masyarakat pada saat itu. Semua harus terencana, terpetakan, dan sudah ada point-point tuntutan berdasarkan kajian sebelumnya.

Lantas bagaimana dengan situasi sekarang? Jelas ini bukan demonstrasi tapi luapan amarah, atau sekadar meladeni tantangan. Kalaupun akhir-akhir ini ada data yang menyebutkan ada tunggangan atau dalang, itu saya kira sebagai akibat dari peluang. Ya saya lebih meyakini jika penunggang itu melihat peluang untuk memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Analisanya cukup sederhana, negara ini memiliki banyak intelijen sehingga jika ini terjadi seharusnya sudah bisa diantisipasi sebelumnya. Minimal negara ada strategi menenangkan massa atau propaganda publik agar tetap tidak terprovokasi. Titik awalnya tetap karena kata-kata dan arogansi para elit yang minim empati sehingga memantik api kemarahan dan dalam waktu sekejap terbakar emosi massa.

Memperbaiki situasi seharusnya memperbaiki sistem. Sistem politik dan pemerintahan saat ini harus dievaluasi menyeluruh. Presiden atau pejabat harus mau mendengar secara valid suara dari rakyat. Jangan mau di “prank” oleh beberapa orang yang sejatinya “sengkuni”. Para “sengkuni” itu hanya menginginkan “Asal Bapak Senang, dan Saya Aman” bukan tentang kebenaran dan memihak rakyat.

Back To Top