Akhir-akhir ini saya merasa malas untuk beraktivitas dengan jalan idealisme. Semangat idealisme yang dulu mendorong saya untuk bergerak dalam setiap aktivitas, kini semakin meredup. Hidup saya sekarang lebih ke arah “pasrah” untuk dijalani apa adanya. Bukan karena tidak ingin berjuang, melainkan karena saya merasa teladan yang seharusnya memberi arah justru kerap mengecewakan.
Apalagi dalam keseharian bekerja, saya merasakan sangat minim inspirasi. Aktivitas bukan lagi digerakkan oleh pikiran jernih atau visi bersama, tetapi oleh ancaman, target “semu”, dan akhirnya hanya menjadi bahan pameran bagi atasan atau teman-teman “sefrekuensi”. Di tengah kondisi itu, sulit sekali menemukan sosok yang benar-benar bisa dicontoh. Justru yang terlihat seringkali adalah orang-orang yang lihai beretorika, pandai berbicara, tetapi minim tindakan nyata. Mereka seolah menasihati orang lain, padahal sebenarnya sedang berbicara untuk menenangkan dirinya sendiri.
Lebih jauh lagi, saat saya berusaha mencari solusi, yang saya dapatkan hanyalah keluhan panjang dan cerita pencapaian masa lalu. Keberhasilan di masa lalu sering dijadikan tameng untuk membungkam perbedaan zaman, padahal setiap era punya tantangan dan cara penyelesaiannya sendiri. Hal ini membuat saya semakin skeptis terhadap orang yang mengaku memiliki pengalaman, tetapi gagal menghadirkan kebaruan dalam berpikir maupun bertindak.
Di sisi lain, ada pula orang-orang yang begitu narsis dengan capaian kecilnya. Mereka menganggap dirinya sebagai yang terbaik, padahal dari kacamata mayoritas, prestasi itu biasa saja. Rasa percaya diri berlebihan yang dibungkus dengan pencitraan sering kali hanya menambah jarak antara kata dan kenyataan. Alih-alih menginspirasi, hal itu justru menimbulkan rasa jenuh karena apa yang ditampilkan terasa kosong tak bermakna.
Krisis keteladanan semakin terasa ketika tokoh yang seharusnya menjadi panutan justru tersandung masalah integritas, bahkan korupsi. Pepatah “ing ngarsa sung tuladha” seakan hanya slogan tanpa makna. Bagaimana masyarakat bisa percaya pada kepemimpinan jika yang ditampilkan hanyalah wajah penuh kepura-puraan? Dari tokoh nasional hingga lokal, sulit sekali menemukan figur yang benar-benar sejalan antara ucapan, sikap, dan perbuatan.
Fenomena “flexing” di media sosial pun makin menambah kebingungan. Sosok yang semestinya sederhana malah sibuk memamerkan kehidupan yang kontras dengan kenyataan rakyat banyak. Keteladanan yang diharapkan hadir dalam bentuk kerendahan hati, kejujuran, dan kerja nyata justru tertutupi oleh pencitraan. Pada titik ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah saya juga secara tidak sadar melakukan hal yang sama dengan mereka?
Mungkin benar, krisis keteladanan bukan hanya tentang mereka, tetapi juga tentang diri saya. Jika saya terlalu larut dalam rasa kecewa, bisa jadi saya pun akan mengulang siklus yang sama, pandai mengkritik, namun miskin tindakan. Hehehe…
Eri Hendro Kusuma
Guru dan Penulis, tinggal di Kota Batu

