Dalam epos Mahabharata, kita mengenal Drestadyumna: seorang panglima perang Pandawa di Kurukshetra. Ia tidak pernah mengangkat senjata pada rakyatnya sendiri. Lawannya jelas: Kaurava, yang menolak dharma, menolak berbagi, dan menolak kebenaran. Bagi Drestadyumna, rakyat adalah yang dilindungi, bukan yang diperangi.
Kini, di zaman digital, lahirlah sosok baru: Jenderal Media Sosial. Ia bukan panglima pasukan bersenjata, melainkan pemimpin barisan opini, kritik, dan suara rakyat di dunia maya. Medannya bukan Kurukshetra, melainkan timeline, trending topik, dan ruang komentar. Senjatanya bukan pedang atau panah, melainkan kata-kata, data, dan keberanian bersuara.
Berbeda dengan Drestadyumna yang diakui sebagai panglima resmi, Jenderal Medsos seringkali justru dipandang sebagai lawan oleh penguasa. Padahal, ia berdiri di garda depan, menyuarakan keresahan rakyat kecil terhadap kebijakan yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Ia melawan bukan dengan amarah buta, tetapi dengan kritik, satire, dan analisis. Ironisnya, suara itu kerap dibungkam. Tak jarang, ia dijadikan tersangka hanya karena mengungkapkan apa yang dirasakan banyak orang.
Inilah medan perang baru: bukan lagi soal dharma melawan adharma di Kurukshetra, melainkan kebebasan melawan pembungkaman di dunia maya. Jika dulu panglima berjuang demi rakyat, kini Jenderal Medsos pun demikian—namun nasibnya sering justru dijadikan korban dari sistem yang alergi kritik.
Dampak pada Pendidikan
Pertama, kebebasan akademik terancam. Jika Jenderal Medsos saja bisa dijadikan tersangka karena kritik, bagaimana dengan dosen atau mahasiswa yang berusaha jujur meneliti, menulis, atau menyampaikan pandangan kritis terhadap kebijakan publik? Pendidikan kehilangan salah satu napasnya: keberanian untuk mencari kebenaran.
Kedua, siswa dan mahasiswa bisa belajar ketakutan, bukan keberanian. Mereka akan menyerap pesan diam-diam: bahwa lebih aman diam ketimbang bertanya, lebih aman patuh ketimbang kritis. Padahal, tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia merdeka, bukan sekadar penghafal yang jinak.
Ketiga, iklim kampus dan sekolah bisa berubah menjadi ruang gema, di mana hanya narasi tunggal yang boleh bergema. Guru akan berhati-hati dalam mengajar isu sosial. Mahasiswa akan menimbang ulang sebelum menulis kajian kritis. Dan akhirnya, pendidikan kehilangan jiwanya: melatih keberanian berpikir.
Sejarah memberi kita cermin. Drestadyumna menunjukkan bahwa panglima sejati berdiri demi rakyat. Kini, Jenderal Medsos hadir sebagai panglima baru di dunia maya—melawan kebijakan yang timpang, bersuara untuk yang lemah, meski dengan risiko kriminalisasi.
Bila panglima seperti ini dibungkam, maka dunia pendidikan pun ikut tertutup. Dan bangsa ini akan kehilangan generasi pemberani, berganti dengan generasi yang takut bertanya. Itulah kekalahan paling besar: ketika rakyat kehilangan panglimanya, dan pendidikan kehilangan kebebasannya.
Dr. Rahma Wahyu, M.Pd
Dosen Universitas Wisnuwardhana Malang dan Pemerhati Kebijakan Pendidikan

