Tulungagung, – HMPS Ilmu Hadis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung agendakan program Ma’ariful Muhadditsin. Ketua HMPS, Idris, menuturkan bahwa acara ini sudah menjadi agenda tahunan yang wajib diikuti mahasiswa baru program studi. Program ini hadir sebagai kesinambungan dari rangkaian PBAK yang diselenggarakan DEMA UIN dan DEMA FUAD beberapa minggu sebelumnya. Secara sederhana, Idris menilai acara ini sebagai bentuk PBAK khusus tingkat Program Studi.
Ma’ariful Muhaditsin diadakan di Pesanggrahan Argo Wilis Tulungagung bertepatan pada tanggal 06–07 September 2025. Acara ini mengusung tema “Berpikir Idealis Beraksi Kritis”. Tema ditetapkan untuk mendukung orientasi yang ingin dicapai yakni kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk saling mengenal, menjalin persaudaraan, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan dalam bingkai keilmuan.
Melalui forum ini, peserta tidak hanya dipertemukan secara fisik, tetapi juga secara intelektual, yakni dengan diperkenalkan pada dasar-dasar ilmu hadis sebagai salah satu pilar penting dalam studi Islam.
Pemilihan lokasi Ma’ariful Muhaditsin di Pesanggrahan Argo Wilis Tulungagung yang berada di alam terbuka bukan sekadar pilihan teknis, melainkan juga sarat makna. Dalam sejarah kenabian, Rasulullah SAW kerap menyendiri dan merenung di Gua Hira, sebuah tempat yang tenang di alam, sebagai ruang kontemplasi dan tadabbur sebelum menerima wahyu pertama.
Hal ini menunjukkan bahwa alam merupakan medium refleksi spiritual dan intelektual yang mendalam. Dengan mengadakan kegiatan di alam, peserta diajak untuk meneladani kebiasaan Nabi dalam merenungi ciptaan Allah, memperkuat koneksi dengan Sang Pencipta, sekaligus menghayati nilai-nilai keilmuan dalam suasana yang tenang dan natural.
Tadabbur alam ini sejalan dengan semangat tema “Berpikir Idealis Beraksi Kritis”, karena dari ketenangan alam muncul gagasan yang jernih dan tindakan yang bijak
Dengan semangat berpikir idealis, mahasiswa diarahkan untuk mencintai ilmu hadis sebagai warisan luhur yang menjaga kemurnian ajaran Rasulullah SAW.
Sementara itu, beraksi kritis diwujudkan dengan mengajak mereka berani berdialog, bertanya, serta menguji pemahaman hadis sesuai dengan konteks kehidupan masa kini. Maka, Maariful Muhaditsin bukan hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga titik awal tumbuhnya tradisi ilmiah yang berakar pada ukhuwah dan kecintaan terhadap ilmu hadis.
Rangkaian acara mencakup berbagai materi, seperti pengenalan jurusan, pemahaman antropologi program studi, serta sosialisasi organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus. Tak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada sejumlah komunitas dan kelompok diskusi yang dapat menjadi sarana belajar bersama. Untuk masing-masing materi diisi oleh senior alumni ilmu hadis.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama dua hari dan ditutup dengan beberapa lomba sederhana yang memberikan suasana menyenangkan. Sinergi antara panitia, pengurus HMPS, dan mahasiswa baru membuat acara berjalan sesuai harapan. Meski demikian, terdapat beberapa hal yang masih perlu dievaluasi dan diperbaiki agar ke depan pelaksanaannya semakin baik.
Kegiatan Maariful Muhadditsin tahun ini menjadi cerminan semangat mahasiswa dalam merawat tradisi ilmiah sambil menjawab tantangan sosial. Harapannya, sinergi antara kecintaan terhadap ilmu hadis dan kepedulian terhadap masyarakat dapat terus ditumbuhkan sebagai kontribusi nyata bagi peradaban.
Karena pada dasarnya Hadis merupakan sumber ajaran kedua yang fundamental setelah al-Qur’an. Seyogyanya, kita sebagai umat muslim menghidupkan sunnah-sunnah Nabi melalui beragam kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat maupun lingkungan.
Penulis: Andini Eka Silvia
Mahasiswi Ilmu Hadis Semester 5 di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Domisili: Tulungagung
Ig: slviadni_

