Entah mengapa saya tiba-tiba teringat dengan kalimat legendaris di akhir film Warkop DKI: “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Dulu, saya menganggapnya hanya sebuah tagline komedi atau sekadar penutup yang lucu. Namun, semakin ke sini, kalimat itu justru terasa semakin relevan dengan kondisi masyarakat. Ada momen ketika tawa yang dulu bebas kini harus dipilah dan dipertimbangkan, sebab bisa jadi tawa itu menyinggung, melukai, atau bahkan membawa konsekuensi yang tak terduga.
Kita sering kali tidak sadar tertawa pada waktu dan tempat yang salah. Sebuah momen yang seharusnya diisi empati justru terpecah dengan canda. Hal ini membuat orang di sekitar merasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan masalah baru. Tawa yang tidak tepat sasaran bisa merusak suasana, menambah luka, atau dianggap meremehkan sesuatu yang serius. Alih-alih menjadi ekspresi kegembiraan, tawa justru berubah menjadi simbol ketidakpedulian.
Baru-baru saja di negeri ini ada tawa yang berakibat fatal. Kita pernah menyaksikan bagaimana kritik sosial ditanggapi dengan candaan oleh pihak berkuasa. Seolah-olah penderitaan rakyat hanyalah bahan lelucon. Sehingga candaan itu jatuhnya tidak lucu, melainkan menyakitkan. Dampaknya bisa memicu kemarahan, kerusuhan, bahkan korban jiwa. Di sinilah kita belajar bahwa tawa tidak selalu identik dengan kebahagiaan, ia juga bisa menjadi pemantik amarah.
Permasalahan ini terjadi karena pergeseran cara berpikir. Beberapa publik figur, terutama yang punya kuasa, lebih senang membalas kritik dengan humor ketimbang menanggapi dengan solusi. Mereka lupa bahwa tugas utamanya adalah menyejahterakan, bukan menghibur. Akibatnya, masyarakat merasa disepelekan. Tawa yang tadinya terdengar ringan berubah menjadi suara sumbang yang menyakitkan.
Di sisi lain, kita juga sering kali gagal membedakan antara tertawa dan menertawai. Tertawa lahir dari ketulusan hati, spontanitas, dan rasa gembira yang alami. Sedangkan menertawai biasanya muncul dari memperhatikan kejanggalan, kekonyolan, atau bahkan kelemahan orang lain. Meski sama-sama menghadirkan ekspresi bahagia, keduanya memiliki substansi yang berbeda. Yang satu membangun kebersamaan, yang lain berpotensi menjatuhkan martabat.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada orang-orang yang memang secara sadar menampilkan kelucuan diri. Mereka berperan menjadi “badut” dalam lingkungannya, karena perilaku mereka memang konyol secara alami. Sebenarnya kasihan ketika ada orang semacam ini, tapi mau bagaimana lagi karena secara alami dia bisa mengundang tawa. Di sini kita belajar bahwa humor tetap punya tempat yang sehat, asalkan tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan olok-olok.
Pada akhirnya, pesan Warkop DKI itu bukan sekadar guyonan. “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” seakan menjadi peringatan agar kita bijak dalam menempatkan tawa. Tertawa boleh, bahkan perlu, sebab ia obat bagi jiwa. Tetapi jangan sampai tawa kita justru melukai orang lain atau mengabaikan persoalan serius.
Eri Hendro Kusuma
Guru dan Penulis, tinggal di Kota Batu

