Spread the love

“Kelas baru, tekad baru.” Itulah yang selalu dipikirkan oleh seorang siswi bernama Charlotte.

Ia adalah murid rajin, nilainya selalu di atas rata-rata, dan ia senang membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Namun, kebaikannya itu sering dimanfaatkan oleh teman-temannya.

Perlahan-lahan, Charlotte mulai kehilangan teman karena dianggap terlalu ‘sombong’. Padahal semua itu berawal dari kesalahan kecil: ia tak sengaja membentak temannya. Sejak itu hidupnya berubah berantakan. Ia tak lagi dikenal sebagai murid rajin. Charlotte menjadi pendiam, tubuhnya pun mengalami perubahan. Yang tadinya sedikit berisi, kini mulai kurus karena ia sering melewatkan makan.

Tak hanya itu, karena sering dibicarakan oleh teman-temannya, ia jadi terbiasa tidur larut malam hingga muncul kantung mata. Ia juga jarang berolahraga, merasa tidak memiliki semangat, dan ketika ditanya soal belajar, ia lebih sering menangis. Sebab, saat mencoba fokus, kenangan buruk tentang perilaku teman-temannya kembali muncul.

Tahun ajaran baru pun dimulai. Charlotte naik ke kelas 8. Kabar beredar bahwa akan ada murid baru pindahan di sekolahnya. Namun, di kelas, keadaan Charlotte tak berubah. Ia masih sering diusik teman-temannya, bahkan guru pun tampak tidak peduli. Mereka hanya mengadakan acara bertema ‘anti-bullying’, padahal sebagian dari mereka juga ikut membully.

“Semuanya diam! Violetta, silakan masuk dan perkenalkan diri,” ucap Bu Siti, guru Bahasa Indonesia yang dikenal banyak bicara, terutama ketika siswanya berbuat kesalahan.

“Eh… baik, Bu,” jawab Violetta sambil melangkah masuk. Ia berparas cantik, dan Charlotte yakin ia akan disukai banyak orang.

“Perkenalkan, nama saya Violetta Andrias Kayla. Saya harap kita bisa berteman baik.”
Saat itu Violetta duduk di sebelah Charlotte. Charlotte merasa gugup karena sudah lama ia hampir tak pernah berkomunikasi dengan teman sekelasnya.

Waktu berlalu hingga jam istirahat. Saat teman-teman lain sibuk ke kantin atau mengerjakan PR, Charlotte dan Violetta masih duduk di bangku mereka. Mereka mulai mengobrol santai, dan perlahan-lahan menjadi lebih dekat. Hari demi hari pun terlewati. Charlotte merasa sedikit lebih baik. Kebiasaan baiknya mulai kembali: ia rajin belajar bersama, sarapan, berolahraga, tidur lebih teratur, dan kepercayaan dirinya pun meningkat.

Semua berjalan lancar, hingga suatu hari sekelompok siswa yang dulu membully Charlotte menyebarkan fitnah. Mereka menuduh Charlotte sering diam-diam melukai orang lain. Kabar itu pun sampai ke telinga Violetta.

Awalnya Violetta tidak percaya, tapi keraguan mulai muncul. Ia berpikir, bagaimana mungkin Charlotte bisa dibully kalau bukan karena suatu alasan? Apalagi ia melihat Charlotte akhir-akhir ini mudah marah—padahal itu hanyalah dampak dari trauma akibat bullying.

Perlahan, Violetta menjauh dengan alasan sibuk. Hal itu membuat Charlotte panik. Berhari-hari ia mencoba mendapatkan kembali kepercayaan Violetta, namun hasilnya nihil. Akhirnya ia menyerah, meski tetap mempertahankan tujuh kebiasaan baiknya tanpa harus menunjukkan betapa sedih dirinya.

Suasana pun berjalan seperti biasa, bahkan perlahan bullying mereda. Suatu hari Charlotte melihat sebuah poster lomba menggambar yang terpajang di mading. Ia tertarik mengikuti lomba itu. Tanpa disangka, Violetta juga mendaftar. Kebetulan peserta hanya dibatasi dua orang, sehingga mereka harus berlatih bersama.

Awalnya terasa canggung. Namun dalam dua minggu, hubungan mereka kembali membaik. Sayangnya, menjelang lomba, lukisan Charlotte dirusak oleh seseorang. Ia tak tahu siapa pelakunya, tapi yang tahu lokasi lukisan itu hanyalah Violetta. Charlotte sempat curiga, namun ia memilih fokus memperbaiki lukisan dengan menimpa warna dan menambahkan garis-garis baru.

Hari perlombaan pun tiba. Hasilnya, Charlotte dinyatakan sebagai juara pertama. Selain unik, lukisannya dinilai memiliki makna mendalam: “Perjuangan pahlawan yang terlupakan.”

Violetta tampak marah. Charlotte dapat melihat dengan jelas wajah sombong yang ditunjukkannya. Sejak saat itu, Charlotte semakin mantap membangun tujuh kebiasaan baiknya. Dengan kualitas yang lebih baik, ia bahkan mampu mengalahkan Violetta dalam pelajaran—bahkan di mata pelajaran yang sebelumnya selalu dikuasai Violetta.

Ardila Klarista
Siswi SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu
Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top