Eri Hendro Kusuma Budayawan

Beda Tipis Antara Cinta dan Keji

Spread the love

Kasus mutilasi yang dilakukan oleh Alvi Maulana terhadap kekasihnya baru-baru ini menjadi contoh nyata betapa tipis batas antara cinta dan keji. Hubungan yang dibangun cukup lama, dengan dasar rasa sayang, ternyata bisa berubah menjadi tragedi mengerikan hanya dalam sekejap.

Pertanyaan yang sulit terjawab adalah: bagaimana mungkin seseorang yang kita cintai dan telah menjadi bagian dari hidup kita, tiba-tiba tega memperlakukannya layaknya daging potong? Dalam logika waras, hal semacam itu hampir mustahil dipahami. Namun kenyataannya, manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga emosional. Ketika cinta berubah arah menjadi kekecewaan atau kemarahan, maka sisi gelap manusia bisa muncul dan mengalahkan nurani.

Sebuah pelajaran penting dari kasus ini adalah bahwa cinta tidak selamanya identik dengan kelembutan. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika mata hati tertutup awan hitam, cinta dapat dengan cepat bergeser menjadi kebencian.

Keindahan, kelucuan, dan empati yang pernah dibangun seakan lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya amarah yang meledak tanpa kendali. Inilah yang membuat jeda antara cinta dan keji sangat tipis. Seseorang bisa jatuh cinta dalam sekejap, dan sebaliknya ia juga bisa berubah menjadi sangat membenci.

Bagi kita yang sedang berada dalam fase “bucin” atau budak cinta, kisah ini menjadi peringatan keras. Jangan mentang-mentang sedang dimabuk asmara lalu memperlakukan pasangan seenaknya sendiri. Berperilaku sewajarnya saja lebih baik dari pada terobsesi dan mengorbankan segalanya demi sebuah cinta.

Pada akhirnya, cinta dan keji memang hanya dipisahkan oleh garis tipis yang bernama kesadaran. Selama kita mampu menjaga kesadaran maka akan mampu mengendalikan emosi dan menumbuhkan empati. Namun jika kesadaran itu hilang, cinta bisa runtuh seketika dan menjelma menjadi tragedi yang bisa sangat keji.

Eri Hendro Kusuma
Penulis, tinggal di Kota Batu Jawa Timur

Back To Top