Hai aku Maulana Putra Sulung. Kalian bisa panggil aku Maul. Rumah asalku di Bali, tapi aku sekolah di UGG. Ya, aku tinggal di asrama bersama bestieku yaitu Lucas. Aku sekamar sama dia dan jujurly, sejak di sini aku gak berani pulang sendirian saat selesai kelas malam. Konon ada cerita, di bundaran UGG mitosnya kalau kita menyanyi lagu Gugur Bunga kita bakal didatangi penunggu.
Ihhh…serem, kan. Ya, dan pada suatu hari aku dan Lucas sedang membuat script untuk tugas dari dosen kita yang bernama Bu Arista dan dikumpulkan dua hari lagi. Aku gak kaget, sih, karena sudah terbiasa emang dosen itu terkenal yapping. Kalian tahu apa itu yapping? Ya, benar, banyak omong. Saat itu aku dan Lucas berdiskusi. Lucas memutuskan untuk mencoba mitos di bundaran UGG.
“Hah? Seriusan?” tanyaku. Aku sempat menolak tapi seperti biasa, Lucas maunya harus keturutan. Karena kehabisan ide, ya sudah aku ikut-ikutan saja. Saat itu kelas malam dan saat kita akan kembali ke asrama Lucas menyeret aku ke bundaran UGG. Dia langsung hormat ke bundaran UGG itu sambil menyanyikan lagu Gugur Bunga. Aku mau lari tapi dipegang. Aku mencoba menghentikan ya dengan cara memukul kepalanya tapi dia tak goyah sampai akhirnya lagu selesai.
“Seriusan gak ada apa-apa, nih?” Awas lo nanti kita digondhol Wewe Gombel, kapok lo!” tanyaku ketakutan.
“Iih..dasar penakut. Cupu!” ejek Lucas.
Setelah beberapa menit, hal yang kutakutkan tidak terjadi. Benar-benar tidak ada apa-apa. Aku lega tapi memang mengecewakan karena cerita yang beredar itu tidak terbukti. Aku mengambil sepeda motorku dan mulai mengendarainya. Lucas ku bonceng. Aku pun bergegas untuk pulang. 15 menit berlalu tapi aku tetap berputar putar di bundaran itu.
“Kenapa muter-muter di sini terus ya? Apa aku salah belok?” kataku dalam hati.
Lalu aku mulai mengendarai sepeda motorku lagi. Apa yang terjadi? Hal yang sama terulang sampai tiga kali. Akhirnya aku menuruni sepeda motorku dan melihat seorang kakek tua.
“Kek, nyuwun sewu..” kami mencoba menyapa.
Kakek itu menoleh. Aku dan lucas pun kaget ketika tahu bahwa kakek itu tidak punya mata. Aku dan Lucas menangis sambil sujud ke kakek itu.
“Maafkan teman saya. Saya sudah coba melarang dia tapi dia bandel.” Kataku.
Tapi tiba-tiba kakek itu berdiri dan menunjuk ke belakang. Di situ aku dan Lucas melihat sosok tanpa kepala. Ia berjalan mengesot. Aku menangis lebih histeris kaeana takut.
Kakek itu kembali menunjuk ke jalan. Sebelum hal yang lebih menakutkan terjadi lagi, aku dan Lucas pun langsung naik ke sepeda motor. Aku langsung tancap gas sekencang mungkin. Puji Tuhan kami bisa keluar dari bundaran UGG. Aku bersyukur akhirnya bisa kembali ke asrama. Aku berjanji tak akan mengulangi hal bodoh itu lagi. Karena sangat trauma dan takut, aku tidak berani menceritakan pengalaman ini pada siapa pun.

Kheisha Navaro Sugiarto, Siswa Kelas VII SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu
Editor : Deni Iska Dian Nita

