Suasana rumah tua bercat hijau pudar itu mendadak ramai beberapa hari sebelum Lebaran. Rumah yang biasanya sepi kini kembali hangat oleh suara gelak tawa dan langkah kaki anak-anak Bu Dewi yang mudik dari luar kota. Dinding-dinding rumah yang mulai mengelupas itu seolah ikut menyambut kepulangan empat putri Bu Dewi ke tempat mereka dulu tumbuh bersama.
Sebelum kedatangan kakak-kakaknya, suasana puasa di rumah itu sebenarnya cukup damai. Hanya ada Ibu dan Raya. Namun, begitu anak-anaknya yang lain berkumpul, dinamika rumah mendadak berubah. Bu Dewi yang merasa bangga dengan kehadiran Ela, Eli, dan Santi, perlahan berubah sikap. Beliau menjadi lebih sensitif dan sering membanding-bandingkan, seolah anak-anak dari luar kota itulah yang paling mengerti dirinya, padahal Raya lah yang setia menemani dan mengurusnya setiap hari.
Setelah acara buka puasa bersama, di sudut ruang tamu yang ramai, beberapa tetangga yang datang mengobrol pelan sembari menikmati cemilan yang disediakan.
“Mbak Ela sama Mbak Eli itu dari dulu memang kelihatan paling pengertian, ya,” bisik salah satu tetangga pelan.
“Waktu bapaknya meninggal dulu, mereka pas masih kuliah langsung pasang badan bantu biaya adik-adiknya. Padahal masih kuliah…”
“Iya, berbakti banget, tuh,”
timpal tetangga satunya sambil melirik ke arah dapur.
“Kalau Raya ini… sebetulnya kasihan juga, Buk, mungkin karena anak bungsu ya, jadinya sering beda pendapat sama Ibunya. Kelihatan masih agak emosional, masih labil anaknya.”
Raya yang sedang mengangkat nampan berisi cangkir teh, tak sengaja mendengar samar-samar obrolan itu. Ia hanya menunduk, mengulum senyum tipis. Hatinya berdenyut perih, namun ia memilih diam.
Orang luar tidak pernah tahu bahwa di dalam keluarga ini tidak ada perasaan saling iri. Ela, Eli, dan Santi sangat menyayangi si bungsu. Di grup WhatsApp “Sekandung-Sekandang”, dukungan kakak-kakaknya selalu tak pernah putus.
Mereka tahu, saat Santi masih kelas 2 MTs di pondok pesantren, ia mendadak dijemput oleh pamannya, tanpa tahu bahwa Ayahnya telah tiada. Setibanya di rumah, Santi keheranan dengan ramainya keluarga, kerabat dan tetangganya di halaman rumah. Ibu Dewi pun memeluk sang putri yang baru tiba, dan pecahlah tangis Santi ketika melihat sang ayah yang sudah berbalut kain putih.
Berbeda dengan Raya, yang kala itu baru berusia dua tahun, yang masih belum paham akan arti kehilangan seorang Ayah. Ia hanya mengoceh pada ibunya, dengan bahasa Balita seperti bertanya “Ini ada apa, sih?”.
Ela dan Eli membantu memikul biaya pendidikan adik-adiknya. Namun Raya? Raya adalah satu-satunya anak yang tumbuh tanpa pernah merasakan usapan tangan seorang ayah, sekaligus anak yang bertahan menyerap seluruh dinamika emosi ibu di masa tuanya.
Memasuki usia 26 tahun, rasa insecure merajut rapat di dada Raya. Ia merasa kerdil. Kakak-kakaknya sudah sukses dan bersuami mapan, sementara ia masih berkutat mengantar amplop lamaran kerja kesana-kemari di bawah terik matahari.
“Mbak Ela, makasih ya kemarin uangnya udah masuk dari rekening Mas Ziad” bisik Raya di sudut dapur.
“Tapi sejujurnya Raya malu, Mbak. Raya udah gede tapi masih jadi beban keluarga.”
Ela terkekeh pelan sambil merangkul adiknya.
“Aduh, sama-sama Raya, Mbak kan gagap teknologi, ndak ngerti m-banking atau transfer-transfer via internet begitu. Makanya Mbak minta tolong Masmu yang transferin lewat rekeningnya. Tapi jangan pernah merasa kayak beban, Ray. Dulu Mbak sama Eli bantu biaya sekolahmu dan Mbak Santi karena kami udah gede. Coba lihat sekarang, kamu yang nemenin Ibu tiap hari, yang ngurus rumah, yang dengerin omelan Ibu, itu jauh lebih besar dari uang yang kami kirim.”
Eli yang ikut masuk ke dapur menyodorkan segelas air hangat.
“Bener kata Mbak Ela, Ray. Kami bertiga kan udah bareng suami keluar kota. Kalau ndak ada kamu, Ibu di rumah tua ini sama siapa? Kamu itu fondasi rumah ini sekarang.”
Raya mengusap air matanya, tersenyum haru. Kakak-kakaknya selalu merangkulnya, namun perubahan sikap Ibu semenjak kakak-kakaknya datang membuat hatinya teriris. Ibu seolah menganggap segala hal yang dilakukan Ela, Eli, dan Santi selalu benar, sementara apa yang dikerjakan Raya di matanya selalu serba kurang.
Hari Jumat sore, sehari sebelum lebaran, rasa lelah fisik dan batin Raya yang menumpuk akhirnya memuncak.
Raya baru saja selesai menyapu halaman dan menyetrika tumpukan baju, tubuhnya basah oleh keringat. Di meja makan, Bu Dewi sedang berbincang hangat dengan Ela dan Eli. Namun begitu melihat Raya melintas, raut wajah Bu Dewi berubah dingin dan nada bicaranya menjadi sengit.
“Ray, itu rendang di dapur masakanmu kok kurang berasa? Mbak Santi tadi nyicipi katanya kurang bumbu. Coba belajar sama mbak-mbakmu itu, lho, mereka kalau ngurus apa-apa teliti,” ujar Ibu dengan nada menyindir.
Raya tertegun di ambang pintu dapur. Padahal selama berpuasa berdua bersama Bu Dewi, sang Ibu lah yang selalu memuji masakan Raya. Kenapa begitu kakak-kakaknya datang, semua usahanya seolah tak ada artinya?
“Lho, Bu… kemarin-kemarin Ibu bilang masakan Raya pas kok,” jawab Raya pelan, mencoba menahan getar di suaranya.
“Ya kan beda! Mbak-mbakmu itu sudah paham selera keluarga. Lagian kamu ini kertas-kertas lamaranmu juga mana hasilnya? Pikirkan itu masa depanmu! Jangan sampai kamu nanti hidup sengsara kalau Ibu sudah ndak ada. Lihat mbak-mbakmu, semuanya terjamin. Kamu kalau ndak punya kerjaan tetap atau suami mapan, mau jadi apa?!”
Kata-kata itu menusuk teramat dalam. Rasa lelah, diabaikan, dan insecure yang bertumpuk membuat benteng kesabaran Raya hancur seketika.
“Ibu pikir Raya cuma diam aja di rumah?!”
Suara Raya tiba-tiba meninggi, air mata meluncur deras di pipinya.
“Raya ini capek, Bu! Panas-panasan cari kerja kesana-kemari demi biar Ibu bangga! Kenapa sih begitu Mbak-Mbak datang, Ibu langsung berubah gini? Seolah-olah Raya ndak pernah ada artinya buat Ibu?!”
Ibu terkejut, matanya membelalak kaku.
“Raya! Kamu berani bentak Ibu di depan mbak-mbakmu?!”
“Raya ndak bentak! Raya cuma capek, Bu! Raya capek dianggap selalu salah di rumah ini!”
Seru Raya meluapkan emosinya, lalu berbalik dan berlari menuju kamarnya.
Brak! Pintunya tertutup keras.
Di dalam kamar yang remang-remang, Raya menutup mukanya dengan bantal. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Isak tangis yang selama ini ia tahan tumpah tanpa sisa. Namun, baru sepuluh menit menangis sesenggukan, rasa bersalah yang teramat besar langsung menghantam dadanya.
“Kenapa aku harus membentak Ibu? Ibu kan cuma cemas… Ibu udah berjuang sendirian besarin aku dari balita…” batin Raya merutuki dirinya sendiri.
Dengan mata yang sembap dan napas tersendat, Raya menyapu air matanya. Ia keluar kamar perlahan. Di dapur, terlihat Ibu masih berdiri kaku di depan meja makan dengan tangan bergetar. Ela dan Eli menatap Ibunya dengan pandangan cemas.
Raya mendekat perlahan, lalu tiba-tiba melipat kakinya dan bersimpuh di samping kaki Ibunya. Ia meraih jemari kaki sang Ibu dan menciumnya erat.
“Bu… maafin Raya…” bisik Raya dengan suara parau, air matanya menetes mengenai kaki Ibunya.
“Raya minta maaf… Raya tadi lancang, Raya kelepasan karena capek. Tolong maafin Raya, Bu… Jangan kutuk Raya…”
Bu Dewi mematung. Kemarahan di wajah tua itu perlahan luntur, berganti menjadi rasa bersalah yang teramat dalam. Ia menghela napas panjang, menunduk, dan memegang kedua bahu Raya untuk membangunkannya.
“Sudah… berdiri,” ucap Bu Dewi pelan, walau sisa gengsinya masih ada, suaranya bergetar menahan tangis.
“Ibu juga yang salah… Ibu cuma takut, Ray. Ibu takut jika kamu akan ketergantungan dengan orang lain, jadi kamu ndak bisa bahagia kalau sendiri.”
Hari Sabtu, Idul fitri akhirnya tiba. Rumah tua itu dipenuhi sukacita.
Saat Raya sedang sibuk menata piring di meja dapur dengan wajah masih agak pucat, Yusel anak dari Santi yang baru berusia tujuh tahun berlari mendekati sang Nenek dan menarik gamis putih tua yang dikenakannya.
“Nenek… Nenek jangan marah-marah terus sama Tante Raya dong,” bisik Yusel polos.
Langkah Bu Dewi terhenti.
“Lho? Nenek ndak marah, Yusel. Nenek cuma kasih tahu Tante Raya, loh.”
“Tapi suara Nenek galak,”
Ucap Yusel lagi dengan mata bulat jujurnya.
“Nanti kalau Tante Raya sedih terus pergi ditinggalin Nenek, siapa yang bantuin Nenek beli makan buat ayam-ayam peliharaan di belakang? Siapa yang mijit dan nemenin Nenek nonton TV tiap malam kalau rumah sepi?” Lanjut Yusel.
Bu Dewi mematung seketika. Kata-kata polos dari cucunya itu cukup menyentil egonya menembus dadanya. Ia melirik Raya yang diam menyapu sudut dapur. Tangan tua itu bergetar kecil.
Santi yang berdiri di dekat sana merangkul bahu Ibunya pelan. “Buu… Raya itu ndak pernah dendam sama Ibu. Dia cuma capek, dan dia sayang banget sama Ibu.”
Setelah urusan dapur selesai dan semua anggota keluarga tampil rapi dengan baju seragam Lebaran, momen foto keluarga besar di ruang tamu pun tiba.
Kamera ponsel sudah dipasang di atas tripod kecil. Anak-anak kecil berkumpul di depan, sementara para orang tua berdiri dan duduk bersisian di sofa.
“Ayo, siap-siap! Satu… dua…” teriak Bela, salah satu cucu Bu Dewi.
Tiba-tiba Yusel melompat ke tengah. “Ehh, tunggu dulu! Gaya fotonya jangan kaku gitu dong! Biar lucu, pelukan dong!”
“Pelukan gimana, Yusel?” tanya Ela sambil tertawa kecil.
“Hmm, Ibu sama Ayah pelukan! Terus Om Iwan sama Tante Eli pelukan! Terus Om Gerry sama Tante Santi pelukan!” seru Yusel bersemangat.
Tawa malu-malu bertaburan dari pasangan suami istri di ruang tamu. Namun mata Yusel lalu tertuju pada tempat duduk Bu Dewi dan Raya di tengah sofa.
“Nah sekarang… Nenek sama Tante Raya juga pelukan dong!,”
“Ayo nek, peluk Tante Raya!” celoteh Kenzo polos tanpa beban.
Ruang tamu hening sejenak. Bu Dewi dan Raya saling pandang canggung. Gengsi sang Ibu membuat wajah tuanya memerah, sementara Raya menunduk ragu.
Ela, Eli, dan Santi bertukar kedipan nakal.
“Ayo, Bu! Dengarkan kata cucunya, peluk Tante Raya!” goda Ela tertawa gembira.
“Iya, Bu, jarang-jarang kan foto pelukan sama si bungsu!” sahut Eli memanas-manasi.
“Ayo Nenek! Peluk Tante Raya! Satu… dua… tiga!” sorak anak-anak kecil bertepuk tangan riuh.
Suasana riuh gembira itu akhirnya meruntuhkan gengsi sang Ibu. Dengan memutar bola matanya pura-pura terpaksa, meski bibirnya tak sanggup menahan senyum, Bu Dewi merengkuh bahu Raya mendekat. Raya yang kaget namun bahagia, seketika melingkarkan tangannya di pinggang Ibu dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Ibu.
Cklek!
Kamera mengabadikan gambar itu, Bu Dewi dan Raya yang saling merengkuh erat di tengah gelak tawa dan sorak gembira seluruh keluarga besar.
Perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil. Di usianya yang ke-28 tahun, berkat doa dan keteguhannya, Raya akhirnya diterima bekerja di salah satu instansi di tengah kota. Takdir juga mempertemukannya dengan Dion, seorang pria tulus berstatus PNS yang sabar dan memahami betul betapa besarnya ikatan Raya dengan Ibunya.
Malam itu, setelah prosesi lamaran formal selesai dan Dion pamit pulang, suasana rumah tua kembali hening. Lampu ruang tamu membias kuning hangat.
Bu Dewi duduk sendirian di sofa kayu, menatap kosong ke arah lantai. Raya mendekat, melipat kakinya dan bersimpuh di samping lutut Ibunya, menyandarkan kepalanya di sana.
“Bu…” panggil Raya pelan.
“Mas Dion berniat baik. Dia juga kerja di instansi pemerintah, seperti yang Ibu inginkan. Ibu… beneran setuju kan?”
Hening tercipta cukup lama. Raya merasakan lutut Ibunya bergetar.
Saat Raya mendongak, ia terkejut luar biasa. Seorang wanita tangguh yang tak pernah Raya lihat menangis sejak pemakaman Ayah puluhan tahun lalu, kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya naik turun, menahan isak tangis yang akhirnya pecah.
“Bu? Ibu kenapa?” Raya panik, memegang jemari Ibunya yang keriput.
“Kamu… kamu mau tinggalkan Ibu juga, Ray?” suara Ibu serak, pecah oleh kepedihan yang selama ini tersembunyi rapat di balik gengsinya.
“Bu…”
“Mbak-mbakmu udah pada ikut suaminya semua ke luar kota… Rumah ini sepi, Ray,” bisik Bu Dewi sesenggukan.
“Tiap malam Ibu cuma denger suara detak jam. Ibu memang sering ngomong nyelekit, Ibu sering nyindir kamu… Tapi itu karena Ibu takut. Ibu takut kamu ndak bahagia, dan Ibu takut banget kalau harus sendirian di rumah ini…”
Air mata Raya menetes deras. Semua rasa canggung, rasa insecure, dan lelah bertahun-tahun luruh seketika.
“Ibu restui kamu sama Dion…” lanjut Bu Dewi, mencoba mengusap air matanya walau sisa gengsi tuanya masih terdengar,
“…tapi kalau bisa… kalian tinggal di sini saja. Rumah ini besar, ndak ada yang ngurus kalau Ibu sendirian. Lagian… siapa yang mau bantu beli pakan ayam kalau bukan kamu?”
Raya tertawa dalam tangisnya. Ia tahu betul, alasan “tidak ada yang mengurus rumah dan ayam” adalah bahasa kasih tersirat dari seorang Ibu yang berkata “Jangan tinggalkan Ibu, Nak.”
Raya menggenggam erat tangan Ibunya, mencium punggung tangan yang telah berjuang membesarkan empat anak perempuan hingga jadi sarjana itu.
“Raya ndak akan kemana-mana, Bu,” ucap Raya dengan mantap dan tulus.
“Mas Dion juga udah setuju dari awal. Kami bakal tetap tinggal di rumah ini, nemenin Ibu, merawat Ibu sampai kapan pun. Raya sayang banget sama Ibu.”
Bu Dewi menarik tubuh Raya, merengkuh anak bungsunya itu dalam pelukan yang hangat dan erat, persis seperti pelukan di foto Idul Fitri hari itu. Di balik penilaian orang luar yang tak pernah mengerti, Raya menyadari satu hal, berbakti bukanlah tentang seberapa besar nama yang kita ukir di luar sana, melainkan seberapa tulus kita hadir menjadi pelipur lara di masa tua orang tua kita.
Izzatul Rakasia Mardhiyah, Domisili di Kota Bima-Nusa Tenggara Barat
Akun Instagram: iizzahh.r
Editor : Deni Iska Dian Nita

