Esai Anak Pertama

Aku, Anak Perempuan Pertama

Spread the love

Tidak sedikit dari manusia yang meremehkan wanita. Mereka akan menganggap wanita hanyalah beban, beda dengan laki-laki yang kebanyakan dari mereka menanggung beban. Namun hal itu tidak menutup kemungkinan adanya wanita yang dituntut untuk menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Aku misalnya.

Aku anak perempuan pertama dari empat bersaudara. Aku, adik dari abangku, yang seharusnya ia memiliki tanggung jawab lebih besar dariku. Dia, saudara tertua kami, namun sama sekali tidak ada rasa tanggung jawab di dalam dirinya. Mungkin ada, namun tidak sebanyak diriku, atau bahkan mungkin dia tau adanya tanggung jawab namun terhalang oleh suatu hal.

Memang benar, dia sangat disayang oleh ayah ibu kami. Ia selalu mendapat perhatian lebih. Iri? Tidak! Aku sama sekali tidak iri kepadanya. Namun aku takut tidak ada rasa tanggung jawab yang tumbuh dari dirinya. Padahal seharusnya itu merupakan hal yang penting bagi calon kepala keluarga.

Ia dua tahun lebih tua dariku dan ia telah menamatkan sarjananya di salah satu kampus di kota tempat ia menuntut ilmu 10 tahun yang lalu. Sedangkan aku hanyalah satu dari sekian ribu mahasiswa yang beruntung. Aku mendapatkan beasiswa LPDP dan syukurnya aku bisa menabung dengan uang beasiswaku itu. Namun dari sinilah sesuatu terjadi.

Diriku, manusia introvert yang terpaksa kuat di tengah hiruk piruknya masalah keluarga, aku yang otomatis mendapatkan sifat ke’ibu’an setelah adik pertamaku lahir, dan aku yang menjadi manusia tidak enakan.

Aku menyisihkan uang sakuku untuk saudaraku yang lebih membutuhkan. Iya, orang tua kami tidak memiliki pekerjaan tetap. Mereka menjadi guru ngaji sejak dulu, yang semua orang pasti tahu sendiri bagaimana keadaannya. Namun tetap saja itu belum cukup untuk membiayai tiga saudaraku yang lain. Apalagi setahun terakhir ini ayah kami menderita sakit yang menjadikan ekonomi kami semakin berantakan. Sekali lagi, aku tidak pernah membenci mereka.

Aku paham keadaan itu, aku mencoba mengurangi beban mereka dengan uang tabungaku. Ibuku yang seharusnya bukan kepala keluarga, akhirnya berpikir keras bagaimana mendapatkan uang untuk biaya sekolah adik-adikku. Aku dan ibuku sama, sama-sama anak perempuan pertama. Jadi aku mengerti bagaimana perasaan ibuku.

Tetapi aku sangat bersyukur. Bisa menjadi pribadi yang kuat karena semua hal yang terjadi di hidupku. Melalui tanggung jawab yang kupegang, aku menjadi tambah dewasa. Tidak sedikit dari teman-temanku menceritakan masalahnya kepadaku dan aku bisa memberi solusi, suatu kebanggaan bagiku.

Orang lain mungkin akan selalu mengira bahwa diriku adalah manusia paling ceria. Tetapi aku hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan lelah. Segala yang terjadi di dunia ini adalah takdir Tuhan, bukan? Walaupun sebenarnya lelah, tak ada sedikitpun keinginan dalam diriku untuk menyerah. Aku yakin, akan ada balasan di balik semua ini.

Jika ditanya perasaanku, aku sangat bahagia bisa membantu mereka. Akan tetapi aku merasa dimanfaatkan oleh mereka. Memang benar bahwa kewajiban seorang anak terhadap kedua orang tua sangatlah besar. Apapun pemberian dari anak tak akan sebanding dengan apa yang telah orang tua berikan pada kita.

Namun di sisi lain aku kurang terima dengan abangku. Ia anak pertama, laki-laki pula, seharusnya orang tua kami mengajarkannya hal-hal yang bisa mengasah tanggung jawabnya. Tetapi apa yang terjadi? Mereka seolah-olah menyayangkan anak pertamanya itu jika melakukan hal-hal yang ekstrem.

Aku tahu. Abangku memang sangat ceroboh. Dan karena itulah orang tuaku selalu menahan jika abangku ingin melakukan apapun. Tapi apakah dibenarkan hal itu? Aku rasa itu bukan jalan yang terbaik. Membiarkannya tumbuh tanpa adanya tantangan ataupun pilihan yang melatih sifat tanggung jawabnya menjadikannya tidak memiliki masa depan yang jelas.

Aku sama sekali tidak ada rasa benci terhadap abangku. Aku selalu berharap Tuhan memberikan jalan terbaik kepadanya. Aku menyayangi mereka semua. Dan aku hanyalah seseorang dengan ciri khas ‘memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi di kemudian hari.’

Jadi sekali lagi, tidak bisa menganggap remeh wanita. Karena terkadang mereka tertawa seakan-akan tidak ada beban yang ditanggungnya. Padahal secara tidak langsung, ia menyimpan luka yang dalam. Ia tak akan menceritakan isi kepalanya kepada sembarang orang. Karena sekali lagi, ia tak ingin membebani orang di sekitarnya.

Dan sampai saat ini, aku menjalani semester akhir di masa perkuliahanku. Aku harus pintar mengatur keuangan. Menyisihkan uang untuk biaya pengobatan ayahku, biaya kelulusan adikku, dan biaya untuk diriku sendiri.

Mungkin masih banyak perempuan di luar sana yang mengalami hal sepertiku. Bahkan bisa jadi lebih keras cobaannya dari apa yang terjadi kepadaku, namun tak terlihat.

Apapun keadaannya, aku berharap bisa selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dalam bentuk apapun. Karena خير الناس أنفعهم للناس “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lainnya.”

Shilfina Hidayah, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, IG: @inishilfinaaa_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top