Mengirim Opini ke media massa

Untungnya, Hidup Cuma Sekali

Spread the love

Seringkali. Ketika membuka sosial media seperti Tiktok ataupun Instagram, banyak sekali ditemukan konten dengan tampilan awal:

“In another life, aku pengen punya kehidupan …”

“Jika ada kehidupan kedua, aku nggak pengen hidup dengan …”

Dan menakjubkannya, banyak sekali yang mengikuti trend itu.

Terkadang. Cukup bingung dengan mereka yang berkata demikian. Kiranya. Apa alasan mereka menulis kata-kata tersebut? Apa yang melatarbelakangi mereka menjelaskan detail demi detail harapan yang ingin dicapai di kehidupan yang lain itu?

Barangkali. Di kehidupan yang sekali ini, mereka terlalu banyak menanggung luka. Mungkin. Takdir yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya. Bisa jadi. Banyak dari mereka ingin mengubah takdirnya menjadi baik. Bisa benar, bisa tidak. Penulis hanya berspekulasi lewat konten yang masih sering berseliweran di beranda utamanya.

Manusia. Sukanya memang berandai-andai ya. Jika, apabila, seandainya, coba saja, misalnya, andaikata, seringkali membuat kebisingan di kepala manusia. Seperti racun. Ketika dalam suatu waktu seseorang sudah berandaikan ingin menjadi apa dan ingin barang apa, kata andai dengan cepat menyebar dan memunculkan banyak sekali andai-andai yang lain.

Memangnya. Kehidupan lain itu benar-benar ada? Jika ada. Apa bayangan mereka tentang kehidupan kedua itu akan berjalan sesuai ekspektasinya atau malah sebaliknya? Jika tidak ada. Akankah banyak sekali penyesalan-penyesalan bertumpuk di kehidupannya sekarang yang hanya sekali?

Padahal. Di kehidupan lain yang mereka bayangkan, belum tentu akan terjadi demikian. Ingin berakhir indah dan baik di kehidupan kedua? Aku rasa, itu hanya omong kosong belaka. Membayangkan ada kehidupan lain bak reinkarnasi saja sudah sangat memusingkan. Yah. Siapa tahu, harapan itu hanya sekedar penghibur semata untuk mereka yang sedang kelelahan di dunia.

Untungnya, hidup cuma sekali.

YRRA (yang realistis-realistis aja). Hidup sekali saja sudah ”pontang-panting” dan banyak sekali cerita jungkir baliknya. Bayangkan. Jika ada kehidupan lain dan kamu sudah berharap banyak di kehidupan itu, tapi akhirnya kamu mengulang kehidupan yang sama seperti kehidupan sebelumnya?

Bahkan membayangkannya saja tidak sudi.

Faktanya. Manusia terlalu cepat menafsirkan takdirnya. Episode-episode kehidupan yang masih berjalan beberapa, mereka sangat handal dan cepat sekali dalam menyimpulkannya. Belum sampai pada ending kehidupannya, mereka sudah sibuk menyiapkan ekspektasinya di kehidupan keduanya. Selain sering merasa lelah, manusia ternyata juga selalu haus rasa puas.

Wajar. Jika merasa lelah untuk satu episode kehidupan yang dijalani sekarang. Tapi, cobalah untuk menikmati setiap detik prosesnya. Barangkali. Tuhan ingin hamba-Nya selalu melibatkan-Nya dalam tiap hela napas hamba-Nya. Barangkali. Tuhan ingin seringkali mendengar alunan merdu doa-doa hamba-Nya siang dan malam. Bukankah Tuhan hanya ingin melihat seberapa keras seorang hamba mengusahakan apa-apa yang menjadi kuasa Tuhan?

Tuhan, sangat senang sekali dilibatkan. Tuhan, juga sangat senang sekali dibutuhkan. Di kehidupan yang sekali ini, mari gunakan kesempatan-kesempatan baik yang telah Tuhan berikan.

Sekecil apapun itu. Mari. Bersyukur untuk hal-hal yang terlihat dan terdengar sepele bahkan seringkali diabaikan.

Seperti ucapan terima kasih pada Tuhan atas nikmat makanan yang dimakan hari ini. Nikmat beribadah meskipun tak selalu khusyuk. Nikmat udara yang dihirup meskipun tak setiap tempat berudara bersih. Nikmat aktifitas untuk mengisi kekosongan waktu. Nikmat waktu yang diberikan untuk mengerjakan tugas atau sekedar mengulang kembali pelajaran kemarin. Dan masih banyak lagi nikmat-nikmat kecil yang diberikan Tuhan untuk hamba-Nya menghargai momen-momen mesra antara Tuhan dengan ciptaan-Nya.

Seluruhnya. Merupakan cara Tuhan menunjukkan bahwa di kehidupan yang sekali ini sesungguhnya sudah lebih dari kata cukup.

Karena untungnya, hidup memang cuma sekali — dan itu sangat cukup untuk manusia bersyukur berkali-kali.

Tazkiyatuz Zahro, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Akun Media Sosial : Ig @tzkiyaaa___

Back To Top