Pernahkah kau sampai di titik di mana capek tak lagi sekadar kata, tapi menjadi napas yang kau hirup setiap pagi? Saat semua perjuangan yang dulu kau genggam erat berubah menjadi asap hilang, tak berbekas, bahkan tak dipedulikan. Janji-janji manis yang dulu begitu meyakinkan kini hanya tinggal serpih kata di bibir orang yang pandai berpura-pura.
Mereka bilang terima kasih, tapi langkahnya malah menginjak sisa hatimu yang sudah remuk. Lucu, bukan? Kau hancur demi sesuatu yang kini bahkan tak sudi menatapmu. Dan pada akhirnya, yang asing itu bukan dunia, melainkan dirimu sendiri yang sudah terlalu lelah untuk peduli.
Sementara mereka dengan ringan berkata,
“Kenapa kamu begitu? Kenapa kamu sampai segitunya? Sabar, semua bisa dibicarakan baik-baik.”
Ah, betapa mudahnya mereka melafalkan kata itu, seolah sabar bisa menjahit luka yang sudah bernanah. Mereka pikir amarah ini lahir tiba-tiba, seperti petasan yang menyala karena iseng. Padahal ini letusan dari ratusan hari menahan diri, ribuan luka yang dikubur diam-diam, dan sejuta kali menelan kecewa tanpa suara. Mereka tak tahu rasanya menjadi bom waktu yang dipaksa tersenyum, hingga akhirnya meledak dan disalahkan karena berani jujur pada luka sendiri.
Kadang bukan amarah yang ingin keluar, tapi jeritan hati yang sudah terlalu lama disumbat. Yang kau butuhkan bukan nasihat kosong tentang sabar, melainkan sedikit ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.
Tapi sayangnya, dunia lebih suka menuntutmu tenang daripada berusaha memahami mengapa kau terbakar. Mereka menutup telinga dengan kata “sabar”, seperti perban yang menutupi luka tanpa pernah membersihkannya.
Lalu kau belajar, diam bukan selalu tanda kuat, kadang itu cara paling damai untuk tidak menghancurkan apa pun lagi. Kau mulai menjauh, bukan karena benci, tapi karena tak ada lagi tenaga untuk menjelaskan betapa dalamnya luka yang tak pernah mereka lihat.
Kau berhenti menuntut pengertian, sebab yang mereka sebut “memahami” hanyalah upaya menyuruhmu kembali menelan semua yang menyakitkan.
Di antara reruntuhan perasaan itu, kau berdiri sendiri, menatap sunyi yang lebih jujur daripada manusia. Tak ada teriak, tak ada air mata. Hanya kesadaran pahit yang menggema di dalam dada: ternyata tidak semua yang kau perjuangkan akan berbalik memperjuangkanmu.
Dan mungkin, di dunia yang terlalu bising ini, diam memang satu-satunya cara agar hati tetap bisa bernapas.
Dr. Rahma Wahyu, M.Pd
Dosen Magister Pendidikan Matematika
Universitas Wisnuwardhana Malang

