Lorong sekolah sedang ramai para siswa yang sedang mencari nama mereka di papan peringkat mading sekolah. Dari kejauhan tampak seorang gadis sedang terburu-buru dan menerobos kerumunan di lorong penting itu.
Setelah bersusah payah menerobos kerumunan dan tanpa mempedulikan teman disekitar yang menggerutu kesal akibat ulah gadis itu mendorong mereka ke belakang, akhirnya gadis itu sampai di depan papan peringkat. Ia mulai fokus mencari namanya.
‘Stella Solivian’ nama itu tertulis di papan peringkat nomor 2! “ugh!… Nomor dua lagi?! Padahal ini ujian terakhir…” Ucapnya dengan penuh amarah. Sikapnya yang reaktif tersebut berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Meskipun sedang menjadi pusat perhatian, ia tetap berada di depan papan peringkat. Perlahan para siswa mulai pergi satu persatu dan menyisakan dirinya seorang. Di saat itulah seseorang menepuk pundak.
Stella menoleh. Wajahnya masih terilihat jelas cemberut. Lelaki yang menepuk pundak Stella hanya terkekeh geli melihat gadis itu.
“tuh lihat, aku menduduki peringkat pertama lagi” ucapnya dengan nada sombong. Ya siapa lagi laki-laki itu jika bukan ‘Ezra Putra Khairil’ yang merupakan teman masa kecil Stella sekaligus saingannya selama ini.
“Iya iya.. aku lihat!” Ucap Stella dengan nada yang tegas. Ia merasa muak karena meskipun sudah belajar “mati-matian” akan tetapi yang berada di peringkat pertama tetap Ezra
“Jadi gimana? Mau jadi pacarku kan?” Tanya Ezra. Sebelumnya mereka sudah membuat kesepakatan jika salah satu dari mereka mendapatkan peringkat pertama, maka boleh meminta satu permintaan. Sedangkan yang kalah harus menurutinya
“Idih!.. najis sumpah..”
“Lah? Kan udah kesepakatan”
“Bukan gitu! Aku kan udah punya pacar!” Ucap Stella dengan tegas. Ezra hanya mengerutkan kening. Raut wajahnya tampak sedih, meskipun ia berusaha untuk menutupinya
“yaelah.. lagipula kan.. I know I can treat you better~ than he can-” Dengan cepat Stella langsung membungkam mulut Ezra yang sedang menyanyikan sebuah lirik lagu
“Bisa diem gak? Suaramu hampir membuat gendang telingaku pecah..” ucap Stella dengan lirikan sinis. Ia pun sejenak menghela nafas dan berjalan pergi meninggalkan Ezra.
Hari-haripun berlalu terasa lebih lama dibanding hari biasa. Ezra masih berusaha mendapatkan hati Stella. Meskipun usahanya selama ini mulai dari memberikan hadiah, bunga, maupun lontaran kata-kata manis terasa sia-sia.
Tapi….Hingga pada suatu hari…
“HAH?! STELLA PUTUS?!!” ucap Ezra penuh keheranan di tengah berkumpul dengan teman-temannya di kantin sekolah.
“Hmm.. berita itu belum sampai ke telingamu ya?” Ucap temannya yang bernama Rey
“Kalau begitu aku pamit dulu, bye!” dengan tergesa gesa Ezra pergi mencari Stella.
Rey yang tak sempat berkata apapun lagi hanya berucap dalam hatinya “dasar penggila perempuan…”
Sementara itu Ezra sedang serius mencari Stella ke ruang locker, lapangan, kelas hingga kantin. Akan tetapi tak kunjung melihat Stela. Akhirnya ia memutuskan pergi ke perpustakaan biasanya ia membaca novel.
‘ketemu!’ Ezra merasa bahagia di saat ia melihat gadis itu duduk di sebuah bangku yang dekat dengan jendela.
“Cie yang habis di putusin, lagi galau yak?” Ucap Ezra dengan nada meledek
“Brisik…”
Ezra sepertinya sangat menyukai Stella yang sangat sedih. Ia pun terus-menerus tanpa henti meledeknya.
Sejak peristiwa itu membuat hubungan Stella dan Ezra mulai dekat. Meskipun demikian, Stella selalu menolak jika Ezra mengungkapkan perasaannya.
Suatu hari Ezra menghampiri Stella sambil membawa buket bunga mawar merah yang di perpadukan dengan bunga Krisan kuning. Tangan kirinya menggenggam sebuah boneka beruang berwarna cokelat muda. Penampilannya tampak lebih percaya diri biasanya.
“Stella~.. mau gak jadi pacar ku??” Ucap Ezra dengan penuh harapan. Tampaknya ia sudah sangat effort untuk usahanya kali ini.
“Gak.. aku masih belum siap..” ucap Stella.
Sikap Ezra langsung membeku saat itu juga.. ‘masih ditolak?.. aku salah merangkai kalimat?.. apa aku masih kurang?’
“.. aku paham.. aku masih bisa menunggu…” ucap Ezra dalam hati.
Ezra pun dengam sabar menunggu
Meskipun jawaban yang ia terima selalu sama.. ‘aku belum siap..’ kalimat itu berulang-ulang diucapkan.
Bahkan ia sampai tak bisa fokus karena pikiran nya di penuhi kalimat penolakan Stella
‘aku belum siap.. aku belum siap… aku.. belum.. siap’ hal itu yang menghantui pikirkannya
“TINN TINNN!”
Suara klakson mobil memecah berbagai masalah di kepala Ezra. Seketika membuat ia menoleh ke sumber suara., Terlihat sebuah mobil yang melaju kencang menuju ke arahnya.
Brug!!…
Ezra didorong oleh seseorang yang tak jelas. Pandangannya mulai kabur sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
Ezra terbangun di sebuah ruangan yang sepertinya salah satu ruang di rumah sakit. Di sebelahnya ada Rey yang sedang duduk menatap Ezra “eh.. sudah bangun?..” ucap Rey dengan canggung.
“Iya.. aku kira hampir pindah alam…”
“Ya.. kamu beruntung di selamatkan seseorang. Jika tidak..?? kamu yang akan meninggal…” Ezra melihat ke arah Rey dengan kebingungan
“Maksud mu?” Ucap Ezra pelan. Ia tampak sedikit panik karena sosok yang ia lihat merupakan gadis yang secara fisik hampir sama dengan Stella
Saat itu hanya ada keheningan. Rey tak bersedia menjawab. Ia takut temannya akan lebih khawatir
“sebenarnya, saat kamu hampir tertabrak, ada orang yang mendorongmu. Orang itu adalah Stella”
“Stella?! Di mana ia sekarang?!.. katakan padaku!”
“.. dia.. tak sadarkan diri.. aku akan mengantarmu.. apa kamu masih bisa jalan?..”
“Sedikit…” ucap Ezra. Ia mencoba turun dari kasur di bantu Rey. akhirnya Ezra berhasil beralih ke kursi roda. Rey dengan penuh hati+hati mendorong Noah menuju ke kamar Stella
Sesampainya disana betapa terkejutnya Ezra. Luka Stella terbilang cukup parah di bagian kepala. Ezra menjadi lebih khawatir. Akhirnya Rey menempatkan Ezra di samping ranjang Stella, lalu meninggalkan mereka berdua sendirian.
Setelah beberapa jam akhirnya Stella membuka matanya ia melihat ke arah Ezar yang sedang tertidur di samping nya,
“…” Hanya ada keheningan, Stella mencoba mengelus kepala Ezra yang tertidur, matanya terlihat berat.
Saat merasakan adanya sentuhan Ezra terbangun dan melihat ke Stella “kamu.. baik-baik saja?” Ucap Stella “.. hanya luka sedikit di bagian lengan dan kaki..” ucap Ezra, yang tak ingin mengkhawatirkan Stella.
“Maaf ya Ezra aku selalu menolakmu padahal sebenarnya aku juga mencintaimu lebih dari apapun. Sebentar lagi sepertinya kamu harus sendiri..” Stella melihat ke arah Ezra dengan sangat lembut. Hal ini pertama kali terjadi sebab selama ini Stella melihat Ezra dengan wajah penuh kebencian..
“maksud mu apa?!.. jangan bercanda deh!..” ucap Ezra dengan panik.
Tangan Stella perlahan-lahan menjadi lemas sebelum ia akhirnya kembali menutup mata. Pasti dia hanya tertidur untuk sementara waktu. Ezra tak kuasa menahan tetesan air matanya. Semua seolah runtuh…ya runtuh…



Tulisan e sangat menginspirasi untuk kehidupan ke depan nya…