Bukit Sampah: Kumpulan Puisi Karya Supali Kasim

Spread the love

Konser Piano Anak-anak

di panggung anak-anak memainkan tuts piano
getarnya sendiri setelah berbulan menguji
keyakinan bahwa langit turunkan
hujan dengan nada yang bukan hanya minor

orang tua menontonnya dengan debarnya sendiri
tak ada hati atau jiwa yang tertinggal di rumah
semua tertumpah di atas panggung
mengikuti nada-nada sibuk di antara kantor

tetapi piano memainkan soundtrack film perang
kecamuk reruntuhan jiwa, mendera
di kursi penonton, orang tua tertidur pulas
hingga berakhir theme song paling menyayat

2026

Bukit Sampah

kota-kota kini
menolak sampah

padahal sengat aroma
dan buruk panorama
cermin yang tak perlu dibelah

kemarin dan hari ini
telah membukit sampah
tepian jalan hingga ke tengah jiwa
mengepung kota

ketika kau tolak sampah
hanya dengan palingkan muka
atau mampatkan hidung
meretas jalan pelindung
engkau telah menolak dirimu sendiri
yang kini sampah
membukit dan mengepung dunia

2026

Incognito

telah lama orang-orang mencari
di rumah tua nenek yang sudah tua
mungkin menyimpannya di almari tua

tak ada yang membuat terhenyak
pun di rumah-rumah lainnya yang tua
balai desa, kantor dinas, militer, pengadilan
bahkan istana

dan debu sepanjang tahun
telah menutupi arah mata angin
penunjuk orang-orang ke mana mencari
penjuru bumi

catatan harian atau sebatas deret silsilah
telah lepas dari jilidnya

menemukannya seakan harta tak terkira
pangkal segala soal
ruwet kehidupan, terselesaikan
orang-orang makin kehilangan
“aku berpikir, maka aku ada,” kata descartes

telah lama orang-orang mencari
diri mereka sendiri

2026

Bionarasi:
Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim,

Back To Top